Sudutnalar.com, 23 September 2026

BANJARNEGARA, SudutNalar- Di balik hamparan hijau Pegunungan Dieng yang megah, tersembunyi ancaman erosi dan tanah longsor yang saban waktu mengintai pemukiman warga. Namun, bagi Turno, lekuk lereng yang curam di Desa Babadan bukan sekadar ancaman alam, melainkan panggilan hidup untuk melakukan gerakan konservasi sekaligus mengangkat derajat ekonomi petani lokal. Sosok yang kini menjabat sebagai Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara sekaligus Ketua Koperasi Produsen Kopi Sikopel Mitreka Satata ini mengawali perjalanannya sejak tahun 2010. Kala itu, di usianya yang menginjak 40 tahun, Turno tergerak oleh kegelisahan atas tingginya risiko bencana alam di kawasan Banjarnegara atas.
“Motivasi utamanya ada dua yang harus berjalan beriringan: peningkatan konservasi lahan dan peningkatan pendapatan petani. Daerah Babadan ini kan rawan erosi, sehingga tanaman kopi yang mampu menahan erosi dan longsor karena akarnya kuat. Kita bertani ngolah tanah tapi yang juga menjaga konservasi lahannya, sehingga lahan tetap baik tapi tetap bisa mendapatkan pendapatan yang lebih baik,” ujar Turno.
Langkah awal tersebut berbuah manis ketika penelitian bersama akademisi Universitas Gadjah Mada yang memverifikasi bahwa kawasan Babadan yang berada di ketinggian di atas 1.000 (mdpl) sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika. Namun, perjalanan merawat napas pertanian kopi di kaki Dieng tidak selalu berjalan mulus. Turno mengenang masa panen perdana pada 2014 sebagai salah satu fase penuh ujian karena belum adanya kesiapan pasar dan standar pengolahan pascapanen, hingga harga kopi Arabika cherry saat itu jatuh di bawah harga Robusta.
“Waktu itu kopi Arabika dihargai 1.500 sampai 2.000 per kilo, padahal Robusta bisa 2.500 sampai 3.000. Bikin banyak petani kecewa. Cuma kami bersama petaninya bilang, Sabar dulu, kita cari solusi, bertahap ada jalan. Akhirnya tahun 2016 lewat sarasehan dan pendampingan, kita mulai perbaiki pengolahan pascapanennya dan bentuk koperasi untuk jamin kualitas dan pasar,” kenang Turno.
Ujian terberat kembali menghantam pada saat pandemi COVID-19 melanda pada kurun 2019-2020. Saat panen raya tiba, kafe-kafe langganan mendadak menghentikan pesanan green bean, sementara akses pinjaman modal dari lembaga keuangan tertutup. Di tengah terhambatnya arus kas (cashflow), para petani yang telah memanen dan mengantarkan kopi ke koperasi tetap harus mendapatkan hak pembayaran tunai sesuai kesepakatan awal.
Menghadapi krisis modal tersebut, Turno bersama pengurus koperasi mengambil keputusan drastis dengan menjual pohon albasia yang selama ini berfungsi sebagai naungan tanaman kopi. Keputusan itu diambil meskipun disadari memiliki risiko tinggi, sebab tumbangan pohon albasia dapat merusak tanaman kopi di sekitarnya dan menunda masa panen pada tahun berikutnya. Langkah berani tersebut tetap dijalankan sebagai bentuk tanggung jawab moral pengurus koperasi dalam memfasilitasi dan menjamin pembelian hasil panen para anggota.

Di tengah situasi kritis tersebut, titik balik terjadi ketika Turno melakukan terobosan pemulihan pasar dengan menggenjot produksi kopi kemasan berlabel Kopi Kailasa. Berkat jejaring yang dibangun, produk Kopi Kailasa mendapat dukungan promosi bebas biaya dari figur publik kenamaan seperti Andy F. Noya (Kick Andy). Langkah strategis melalui promosi media sosial tersebut seketika memulihkan arus kas (cashflow) dan melambungkan nama Kopi Arabika Dieng ke kancah nasional.
Dedikasi Turno dalam mengorganisasi masyarakat akhirnya membuahkan pengakuan negara. Setelah melalui proses panjang sejak 2016, pada tahun 2022 sertifikat Indikasi Geografis (IG) resmi terbit dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) untuk Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara yang mencakup tujuh kecamatan di kawasan dataran tinggi. Di bawah kepemimpinannya, kualitas kopi olahan koperasinya kini tidak hanya merambah pasar nasional, tetapi juga telah melakukan eksplorasi pasar mancanegara melalui skema business matching hingga ekspor ke Singapura, Malaysia, dan Australia.
​Bagi Turno, seluruh waktu dan tenaga yang ia curahkan di lembaga nirlaba ini adalah bentuk pengabdian sosial tanpa pamrih. Mengakhiri perbincangan, sosok penggerak pertanian ini mengajak generasi muda di Banjarnegara agar tidak ragu menaruh perhatian pada sektor agraria. Ia berpesan agar anak muda tidak malu menjadi petani, karena profesi ini tidak hanya berupaya meningkatkan pendapatan, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menjaga kelestarian alam melalui konservasi.
Penulis: Dimas Saladin Firmansyah
Editor: Devan Aryogi
