Penulis: Nissa Roshida Dini Mustikasari
Editor: Nailah Fiza Imania

PURWOKERTO, Sudut nalar – Pelestarian seni budaya daerah kerap menghadapi tantangan di tengah derasnya arus modernisasi. Namun, komitmen menjaga identitas budaya lokal terus dilakukan melalui kehadiran Sanggar Seni Panginyongan di Banyumas.
Secara resmi, sanggar ini berbadan hukum pada Desember 2022. Meski tergolong baru, perjalanan sanggar ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, bahkan mencapai puluhan tahun. Cikal bakalnya bermula dari Sanggar Sekar Budaya yang didirikan oleh Sri Rahayu, sebelum akhirnya diteruskan dan dikembangkan oleh sang putra, Randhi Haryaningtyastomo, dengan nama Satria Budaya hingga bertransformasi menjadi Sanggar Seni Panginyongan.
Nama “Panginyongan” dipilih bukan tanpa alasan. Diambil dari kata inyong dalam bahasa Ngapak Banyumasan, nama ini secara harfiah bermakna “milik kita”.
”Panginyongan itu lekat dengan budaya masyarakat Banyumas. Artinya, budaya ini milik kita bersama yang harus dijaga,” ujar Randhi Haryaningtyastomo selaku pimpinan sanggar.
Sebagai ruang kreatif, Sanggar Seni Panginyongan berfokus pada pengembangan seni tradisional, terutama budaya Banyumasan. Meski begitu, sanggar ini juga membuka berbagai kegiatan bidang seni lainnya, seperti seni tari, macapat, geguritan, teater, hingga pantomim.
Setiap akhir pekan, kelas-kelas rutin digelar bagi para siswa dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sanggar ini juga melatih kalangan profesional seperti karyawan hingga pimpinan daerah, untuk berbagai pementasan budaya seperti penyambutan pejabat kenegaraan atau ajang hiburan daerah.
Di balik kiprahnya, Randhi Haryaningtyastomo memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda jauh dengan bidang seni. Ia merupakan lulusan Jurusan Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) angkatan 1999. Meski demikian, pengalaman dan portofolio tari mengantarkannya mendapat pengakuan sebagai instruktur tari tingkat nasional. Kiprah tersebut juga membawanya menjadi dosen praktisi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui program Kampus Merdeka.
Sejauh ini, Sanggar Seni Panginyongan telah meraih sejumlah prestasi di tingkat daerah hingga nasional. Salah satunya adalah predikat Penyaji Terbaik dalam Menoreh Festival 2024 melalui penampilan kesenian Kentongan Banyumasan. Selain itu, sanggar ini sukses meraih Juara I Festival Menoreh Kulon Progo tingkat nasional di Yogyakarta. Pada 2025, mereka kembali mengukir prestasi dengan meraih Juara II dalam Festival Capat Cipit Banyumas.
Regenerasi seniman muda masih menjadi tantangan yang sering dihadapi oleh sanggar ini. Tantangan tersebut disebabkan oleh terbatasnya jumlah penari pria serta menurunnya minat anak-anak ketika menginjak usia remaja. Kondisi ini dipicu oleh rasa malu dan kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Randhi menerapkan pendekatan adaptif dalam kegiatan sanggar tanpa menghilangkan esensi tradisi. Menurutnya, keberhasilan dalam berkesenian tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari kepuasan dalam menjalani proses pembelajaran dan melestarikan seni tradisi.
“Ciri khas bangsa yang kuat adalah budayanya yang kuat. Melalui seni dan budaya, kehidupan bermasyarakat bisa menjadi lebih kaya akan keindahan,” pungkas Randhi.
