Penulis: Saskia Nova
Editor: Zulfa Nur Auliya

PURWOKERTO, SudutNalar—Aktivitas Dewi Erla Mahmudah tidak hanya berlangsung di ruang perkuliahan. Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, ia juga menjalankan peran sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Purwokerto Wetan. Dua lingkungan tersebut menjadi tempat baginya untuk berbagi ilmu sekaligus belajar dari orang-orang yang ditemuinya.
Sebagai akademisi, Erla memiliki pengalaman mengajar sebagai dosen bantu di beberapa kampus di Purwokerto. Ia terbiasa berinteraksi dengan mahasiswa melalui kegiatan perkuliahan, diskusi, dan bertukar pikiran. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan akan lebih berarti apabila dapat diteruskan kepada orang lain.
“Ilmu yang saya punya saat kuliah dulu agar dapat bermanfaat, tetap bermanfaat. Caranya gimana? Ya dengan mengajarkan kepada yang lain,” ujar Erla.
Perjalanannya sebagai dosen sempat terhenti ketika ia berkeluarga dan memiliki anak yang masih kecil. Namun, kerinduannya terhadap dunia mengajar membuat Erla kembali ke ruang kelas. Baginya, bertemu mahasiswa bukan hanya menjadi kesempatan untuk menyampaikan ilmu, tetapi juga untuk mendapatkan pengalaman dan sudut pandang baru.

Di luar kampus, Erla melanjutkan pengabdiannya melalui lingkungan pesantren. Sebagai pengasuh di Pondok Pesantren Al-Amien Purwokerto Wetan, ia turut mendorong para santri agar bersungguh-sungguh dalam pendidikan. Ia tidak hanya mengingatkan santri untuk mendalami ilmu agama, tetapi juga mendorong mereka agar tetap memperhatikan pendidikan formal.
Pengalaman akademiknya juga menjadi bagian dari cerita yang ia bagikan kepada santri. Pada 2011, Erla menjadi penerima Beasiswa Unggulan Dikti untuk melanjutkan pendidikan S2. Pengalaman tersebut ia jadikan contoh bahwa kesempatan dapat diperoleh ketika seseorang berani mencoba dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
“Pokoknya daftar dulu. Ternyata di kampus diinfokan bahwa sedang dibuka Beasiswa Unggulan. Saya persiapkan syarat-syarat dan semuanya, dan Alhamdulillah dapat,” ujarnya.
Bagi Erla, mendidik santri tidak berhenti pada persoalan akademik. Ia juga menekankan pentingnya sikap dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, santri perlu mampu menyesuaikan diri dan mengetahui bagaimana bersikap sesuai dengan tempat dan keadaan.
“Santri harus bisa menempatkan diri kapan pun dan di mana pun. Dahulukan adab, baru ilmu,” pesannya.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari cara Erla memaknai pendidikan. Baginya, ilmu tidak seharusnya hanya berakhir pada gelar ataupun pekerjaan, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap dan dibagikan kepada orang lain. Dari ruang kuliah hingga lingkungan pesantren, ia terus berusaha menjalankan peran sebagai pendidik yang memberikan manfaat.
