BEKASI, SudutNalar – Beberapa pemuda berseragam relawan tampak berjongkok di lantai keramik sederhana, menyelaraskan tinggi tubuh mereka dengan para lansia yang duduk di kursi roda. Dengan jemari yang menggenggam hangat tangan para lansia, mendengarkan kisah-kisah masa lalu yang dituturkan dengan suara gemetar, tetapi penuh kerinduan. Pada kesempatan lain, di ruang yang berbeda, suasana riang terpancar ketika para relawan duduk melingkar di lantai bersama anak-anak, mendampingi mereka belajar dan menggoreskan warna pada kertas. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang acap kali mementingkan diri sendiri, hadir sebuah gerakan inklusif yang konsisten menyapa sudut-sudut yang terpinggirkan—Nara Volunteer.

Bagi Nara Volunteer, aksi sosial yang mereka jalankan tidak pernah dibatasi satu kelompok usia saja. Jangkauan kepedulian komunitas ini merangkul berbagai lapisan masyarakat yang sangat luas dan kerap luput dari perhatian publik. Mulai dari panti asuhan, panti jompo, yayasan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), panti disabilitas, hingga ruang-ruang pinggiran seperti kolong jembatan dan sekolah anak jalanan. Nara Volunteer datang bukan sekadar membawa bantuan materi, melainkan hadir secara utuh lewat ruang untuk bermain, belajar, dan berbagi kehangatan.
“Fokus utama program Nara Volunteer ada di bidang sosial, yang di mana kita bermain, belajar, dan berbagi bersama. Kita tidak hanya berusaha membuat kegiatan yang seru, tetapi juga berusaha memberikan pengalaman dan dampak positif untuk mereka,” ujar Yaqdzan, Ketua Umum Nara Volunteer.

(Dokumentasi Pribadi Narasumber)
Namun, mengalirkan kepedulian di berbagai medan sosial yang berbeda tentu menghadirkan dinamika tersendiri. Perjuangan para relawan kerap dimulai jauh sebelum kegiatan berlangsung. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Nara Volunteer adalah proses perizinan dan pencarian tempat, seperti panti asuhan dan panti jompo yang siap menerima kedatangan mereka. Tidak semua pihak pengelola menanggapi permohonan dengan cepat, sehingga para relawan harus meluangkan waktu dan tenaga ekstra selama berhari-hari demi memastikan kegiatan dapat terlaksana.
Meski demikian, segala lelah dan kerumitan proses persiapan seolah menguap begitu saja saat para relawan mulai berinteraksi langsung di lapangan. Hal yang paling berkesan bagi para relawan bukanlah seberapa besar acara yang digelar, melainkan momen-momen sederhana ketika sekat canggung mulai mencair, baik pada anak-anak yang semula pemalu maupun para lansia yang mendambakan teman bicara.
“Salah satu hal yang paling berkesan bagi kami bukan selalu sesuatu yang besar, tetapi momen-momen sederhana ketika mereka mulai merasa nyaman dengan volunteer. Misalnya, anak yang awalnya masih malu dan memilih diam, kemudian mulai ikut bermain, bertanya, bercerita, atau bahkan berani tampil di depan teman-temannya. Bagi kami, perubahan kecil seperti itu memiliki arti yang besar,” tutur Yaqdzan dengan nada hangat.
Ia menambahkan bahwa ada rasa bahagia yang tak ternilai ketika melihat senyum kembali terukir di wajah mereka orang-orang yang mereka dampingi. Momen ketika anak-anak pulang membawa cerita gembira, atau saat genggaman tangan lansia terasa erat penuh keharuan, menjadi pengingat bagi para relawan bahwa kehadiran, perhatian, dan waktu yang disisihkan mampu menjadi pelipur lara yang sangat berarti.
Dampak dari aksi multiprogram ini pun perlahan terlihat nyata. Keberanian dan rasa percaya diri anak-anak untuk berinteraksi serta mengekspresikan diri meningkat, sementara kelompok masyarakat rentan lainnya mendapatkan kembali ruang untuk merasa dihargai dan didengar. Kendati demikian, Yaqdzan dan timnya enggan mengukur keberhasilan hanya dari perubahan singkat dalam satu hari kegiatan.
“Harapan kami adalah pengalaman yang mereka dapatkan bisa menjadi bagian kecil dari proses tumbuh mereka, sehingga mereka semakin percaya diri, memiliki rasa ingin tahu, dan berani memiliki cita-cita,” ungkap Yaqdzan. Sore mulai temaram, tetapi tawa dan cerita hangat masih bergema di ruang-ruang yang dihampiri Nara Volunteer. Lewat ketulusan para relawan, sebuah pesan tersampaikan tanpa suara bahwa perhatian kecil hari ini bisa menjadi penyala harapan bagi siapa saja yang membutuhkan.
Penulis: Aurelia Az zahra Salsabillah
Editor: Dania Anggita Nirmalaningtyas
