PURWOKERTO, Sudut Nalar. Tren wisata alam bernuansa pegunungan kini kian diminati masyarakat. Bagi para pencari ketenangan atau sekadar menepi dari hiruk-pikuk suasana kota tanpa menguras kantong, TamanBK Watu Blencong yang berlokasi di Dusun Peninis, Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng dapat menjadi salah satu pilihan tepat untuk dikunjungi.

Daya Tarik Keindahan yang Berkombinasi dengan FYP
Bagi sebagian orang, menemukan tempat ini bukanlah hasil perencanaan jauh-jauh hari, melainkan “keberuntungan” algoritma media sosial. Athi Anggraini seorang pengunjung asal Wangon, datang membawa rombongan keluarganya setelah terikat daya tarik visual yang berseliweran di FYP TikToknya.
“Bisa dibilang saya ini ‘korban’ TikTok. Tempat ini lewat terus di FYP. Karena saya memang suka mencari tempat yang adem untuk nongkrong dan tidak harus mahal, tempat ini sangat menarik,” ujar Athi di lokasi wisata.
Daya tarik utama yang membuat Athi terpikat adalah kombinasi kolam renang dengan latar belakang lanskap Gunung Slamet dan perbukitan hijau. Meski saat berkunjung kondisi cuaca sedang mendung, Athi mengaku puas karena udara yang sejuk serta harga tiket masuk (HTM) yang sangat ramah kantong.
“Dengan tiket masuk (HTM) Rp7.000, ini sangat recommended. Aksesnya untuk orang tua atau sepuh juga tidak terlalu tinggi. Fasilitasnya bersih, ada musala, jadi tidak perlu panik bingung mau salat di mana. Rasa penasaran saya terobati,” imbuhnya.
Hamparan Bunga dan Suasana Menginap yang Syahdu
Memasuki kawasan seluas 2 hektare ini, pengunjung disuguhkan penataan terasering tanah yang rapi. Salah satu sudut paling mencolok adalah lanskap taman bunga warna-warni yang membentang mengikuti pola bukit, dipadu jalan setapak dari susunan batu alam.

Pengelola sekaligus penanggung jawab TamanBK Watu Blencong, Arif, menjelaskan bahwa area wisata ini sejatinya mengutamakan konsep camping ground. Pesona utama tempat ini justru terpancar saat hari berganti malam.
“Daya tarik utama kami ada di camping area. Jika malam hari, pengunjung bisa menikmati pemandangan city light Kota Purwokerto sampai Cilacap dari atas sini. Lalu jika pagi hari setelah hujan turun, kita bisa menyaksikan lautan awan,” jelas Arif.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana malam tanpa perlu mendirikan tenda, pengelola menyediakan fasilitas vila atau homestay kayu yang estetik, tenang, dan menyatu dengan alam sekitarnya. Pengunjung dapat melakukan reservasi melalui pesan pribadi pada media sosial TamanBk Watu Blencong.

Catatan Pengelola Wisata
Di balik pesona yang disuguhkan dengan hanya membayar Rp7.000 per orang, TamanBK Watu Blencong memiliki PR besar pada bagian infrastruktur.
Pak Arif menyebutkan bahwa sekitar 90 persen pengunjung mengeluhkan akses jalan menuju lokasi. Tanjakan yang curam dan beberapa bagian jalan yang rusak kerap membuat pengunjung ragu melintas.
“Banyak yang kepengin ke sini, tapi pas lihat akses jalannya masih nanjak, sempit, dan rusak, jadi pada ragu. Kalau ada rombongan bus atau mobil, tim kami sampai harus turun tangan mengawal kendaraan dari bawah demi keselamatan pengunjung,” tutur Arif.
Kondisi jalan ini memengaruhi kestabilan jumlah pengunjung. Pada hari biasa (weekday) jumlah pengunjung berkisar 50 orang per hari, sementara pada akhir pekan(weekend) berkisar 200 hingga 300 orang. Pengelola yang mempekerjakan 10 orang warga lokal kerap memutar otak untuk menutupi biaya operasional di saat sepi kunjungan. Pihak pengelola juga sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah terkait pelebaran dan perbaikan jalan menuju kawasan ini.
Meski infrastruktur akses jalan menuju lokasi masih menjadi keluhan utama pengelola dan pengunjung, keindahan alam dan suasana sejuk yang ditawarkan TamanBK Watu Blencong tetap menjadikannya pilihan tepat bagi siapa pun yang ingin healing tipis-tipis di kaki pegunungan.
Penulis: Ardia Herdika Chandra; Editor: Taheera Putri Basyara Tin
