Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Mengetuk Rumah demi Rumah dengan Dagangan di Gendongannya

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by athaya qila

sudutlanar.com, 08 Oktober 2026
Oleh: Athaya Aqilah

(Ilustarsi saat Si Mbok melayani pembeli di depan rumah, sumber:pinterest)

PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Kain jarit melilit erat di dadanya untuk menahan dagangan yang tersusun rapi di gendongan: bakso goreng (basreng) dan keripik yang dipajang seadanya seperti daftar menu. Meski sederhana, dagangan itu cukup membuat orang yang lewat menoleh. Perempuan berkerudung itu berjalan perlahan tetapi pasti, dari gang sempit ke gang lain yang lebih terang, dari teras berlantai licin ke halaman yang teduh. Ia mengetuk hari bukan dengan suara keras, melainkan dengan kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas.

Setiap langkahnya seolah membawa pertanyaan yang sama: sudah adakah yang laku, masih adakah yang mau? Ia tidak menunggu pembeli datang. Ia mendatangi mereka dan menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah dengan logat ngapak yang kental. Di sela tawarannya, terdengar bunyi pelan dari dagangan yang bergeser setiap kali ia membetulkan posisi gendongan, seakan barang itu ikut lelah berjalan bersamanya.

Dulu, yang ia bawa bukan basreng dan keripik, melainkan jamu. Ketika pandemi mengubah pola hidup masyarakat, permintaan jamu ikut bergeser. Perubahan itu datang seperti hujan yang mulanya gerimis, lalu makin sering, sampai kebiasaan lama tidak lagi cukup untuk berteduh.

“Dulu memang berjualan jamu, Mbak. Setelah pandemi keadaan berubah, jadi saya coba berjualan jajanan. Ternyata cukup banyak yang membeli, jadi sampai sekarang saya lanjutkan berkeliling,” tuturnya pelan sambil merapikan kain jarit di bahunya. Ia memilih tidak menyebutkan namanya untuk dipublikasikan.

Pedagang keliling ini pandai membaca suasana. Ia berhenti sejenak ketika bertemu pelanggan yang sudah akrab. Untuk pelanggan seperti itu, ia sering melangkah sampai ke depan rumah supaya dagangannya langsung terlihat dan ia tidak perlu dipanggil berkali-kali. Kadang ia membuka percakapan ringan tentang cuaca atau pekerjaan sebelum kembali pada intinya: jajanan yang ia bawa.

Jika ada yang bertanya, “Ada yang lain tidak?”, ia tidak selalu menolak. Ia menambahkan barang yang diminta ke dagangannya selama barang itu tersedia dan masih bisa dijual hari itu. Dengan cara itu ia menyesuaikan diri dengan kebutuhan harian warga, yaitu kebutuhan sederhana yang terasa di meja makan atau di waktu santai sore hari.

Jam berkelilingnya tidak sekaku jadwal kantor. Kadang ia berjalan dari pagi sampai sore, kadang dari siang sampai sore, mengikuti peluang dan kondisi hari itu. Pada hari yang terik, napasnya terasa lebih cepat. Pada hari mendung, hujan bisa turun sebelum ia sempat berteduh, dan pakaiannya menjadi berat oleh udara lembap. Dagangan tetap dibawa dan langkah tetap dijaga.

Ia tidak menutupi rasa lelahnya, tetapi tidak banyak mengeluh. Ada hari ketika ia sudah berkeliling jauh dan dagangannya belum habis. Saat itu ia harus memilih: menambah rute, mencari pembeli baru, atau mengubah cara menawarkan. Hari seperti itu terasa seperti roda yang belum menemukan jalannya, dan ia menguatkan diri dengan cara yang sama: terus berjalan, terus menawarkan.

“Lelahnya di jalan, apalagi kalau panas atau hujan. Kadang sudah berkeliling jauh tetapi dagangan belum habis. Namun kalau sudah terbiasa, ya dijalani saja,” ujarnya. Ia mengatakannya tanpa dramatisasi, seperti orang yang sudah berdamai dengan kenyataan sehari-hari.

Ketika ditanya sampai kapan akan berjualan keliling, ia menjawab sederhana: selama masih kuat dan masih ada yang membeli. Ia tidak punya angka pasti ataupun rencana besar.

“Selama masih kuat dan masih ada yang membeli, saya jalani. Ini untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau badan sudah tidak kuat, mungkin baru berhenti,” katanya.

Bagi banyak orang, penjual keliling hanyalah pemandangan sesaat: lewat, menawarkan, lalu hilang di tikungan. Padahal di balik pemandangan itu ada kerja yang tidak ringan. Ada kain jarit yang diikat rapat agar dagangan tidak bergeser, ada kesabaran menaiki anak tangga satu per satu, ada keberanian mendekati orang yang belum tentu sempat menyapa, dan ada keteguhan untuk tetap berjalan saat hujan turun.

Kisahnya menunjukkan bahwa bertahan hidup sering bergantung pada kemampuan beradaptasi. Ketika pandemi mengubah keadaan, ia mengganti dagangannya. Ketika pembeli meminta pilihan lain, ia menambahkannya. Ketika jalanan terasa melelahkan, ia tetap melangkah.

Pada akhirnya, yang ia bawa bukan hanya basreng dan keripik. Ada kerja keras yang dibungkus dalam langkah-langkah kecil: mengetuk rumah demi rumah, menukar tenaga dengan harapan agar hari tetap berjalan. Selama kakinya masih kuat dan masih ada pintu yang menunggu, ia akan terus berpindah dari satu teras ke teras lain.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme