Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Mengenal Tradisi Tahlilan dalam Budaya Masyarakat Jawa-Islam

Posted on September 16, 2026September 16, 2026 by zulfa izaz
Sumber: Pinterest

PURWOKERTO — Tahlilan merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa-Islam ketika terdapat anggota keluarga atau warga yang meninggal dunia. Kegiatan ini umumnya dilakukan dengan berkumpul bersama, membaca tahlil, Yasin, serta doa yang ditujukan bagi orang yang telah meninggal. Selain sebagai bentuk doa, tahlilan juga menjadi sarana bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar untuk berkumpul serta memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.


Pelaksanaan tahlilan biasanya dilakukan di rumah keluarga almarhum dan melibatkan warga sekitar. Dalam beberapa lingkungan, masyarakat juga turut membantu menyiapkan tempat maupun hidangan. Dengan demikian, tahlilan tidak hanya memiliki fungsi keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kebersamaan masyarakat.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, tahlilan setelah kematian tidak hanya dilakukan pada satu waktu. Masyarakat mengenal beberapa peringatan berdasarkan hitungan hari setelah seseorang meninggal dunia. Di antaranya adalah tahlilan tujuh hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari. Di beberapa wilayah, terdapat pula tahlilan peringatan hingga 2000 hari, meskipun pelaksanaannya dapat berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan keluarga dan daerah masing-masing.


Tahlilan tujuh hari biasanya menjadi salah satu rangkaian awal setelah kematian. Selanjutnya, keluarga dapat kembali mengadakan tahlilan pada hari ke-40 dan ke-100. Sementara itu, peringatan 1000 hari dikenal sebagai salah satu peringatan yang lebih besar dalam tradisi selamatan kematian masyarakat Jawa.


Berbagai hitungan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tahlilan telah menjadi bagian dari kebiasaan sebagian masyarakat Jawa dalam mengenang anggota keluarga yang telah meninggal. Namun, pelaksanaannya tidak bersifat sama di setiap daerah karena setiap keluarga memiliki kebiasaan dan pertimbangan masing-masing.

Menurut Waryo, salah satu warga Sokaraja Timur, Banyumas, penting atau tidaknya pelaksanaan tahlilan kembali kepada keputusan keluarga almarhum. Menurutnya, terdapat keluarga yang merasa tahlilan tidak sesuai dengan kebiasaan mereka karena di lingkungan keluarga maupun daerah asalnya tidak terdapat tradisi tersebut.

Meski demikian, Waryo melihat terdapat sejumlah dampak positif dari pelaksanaan tahlilan. Menurutnya, keluarga yang ditinggalkan setidaknya dapat merasa lebih lega karena almarhum didoakan oleh orang-orang di sekitarnya. Kehadiran tetangga dan kerabat juga dapat memberikan semangat serta ucapan yang menguatkan kepada keluarga yang sedang berduka.


Selain itu, Waryo menilai penyediaan tempat dan makanan untuk kegiatan tahlilan dapat menjadi bentuk kebaikan bagi keluarga yang menyelenggarakannya. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali menjalin silaturahmi.

Pelaksanaan tahlilan terkadang dikaitkan dengan kebutuhan biaya untuk menyediakan makanan dan keperluan lainnya. Kondisi tersebut dapat menjadi persoalan apabila keluarga almarhum memiliki keterbatasan ekonomi.


Waryo menceritakan bahwa dirinya pernah menjumpai pelaksanaan tahlilan di salah satu daerah sekitar tempat tinggalnya ketika keluarga almarhum berada dalam kondisi kurang mampu. Masyarakat kemudian bergotong royong membantu menyiapkan kegiatan tersebut.

Sejumlah ibu-ibu membawa makanan untuk dijadikan hidangan, sementara uang kas RT digunakan sebagai salah satu bentuk sumbangan untuk membantu pelaksanaan tahlilan. Menurut Waryo, bentuk gotong royong seperti itu merupakan hal positif karena keluarga yang sedang berduka tidak harus menanggung seluruh kebutuhan kegiatan seorang diri.

Bagi masyarakat yang masih menjalankannya, tahlilan menjadi salah satu cara untuk tetap menjaga kebersamaan setelah adanya kematian di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kehadiran warga, doa bersama, serta bantuan yang diberikan kepada keluarga almarhum menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga dengan hubungan sosial antarwarga.

Meski tidak semua keluarga memiliki kebiasaan yang sama, tahlilan tetap menjadi bagian dari tradisi yang masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat Jawa-Islam hingga saat ini.

Penulis: Resti Larasati Arum Rahayu

Editor: Malika Ilmanafi Hanun Huwaidaa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme