Isyana Nur Fadhillah, 11 September 2026 | 17:02 WIB

Bulukumba, sudutnalar.com – Suku Kajang merupakan salah satu masyarakat adat yang masih mempertahankan tradisi dan aturan leluhur di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kehidupan masyarakat Kajang dikenal sederhana dan memiliki hubungan yang kuat dengan adat, lingkungan, serta kehidupan sosial masyarakat. Secara umum, masyarakat Kajang terbagi menjadi Kajang Dalam dan Kajang Luar. Kajang Dalam dikenal lebih kuat dalam mempertahankan aturan adat dan pola kehidupan tradisional. Sementara itu, masyarakat Kajang Luar sudah lebih banyak menerima perkembangan kehidupan modern.
Salah satu tradisi masyarakat Kajang adalah kebiasaan saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Keluarga dekat menjalani masa berduka selama kurang lebih 100 hari dengan menggunakan pakaian sederhana. Bunyi bambu atau kentongan juga digunakan sebagai tanda kabar duka agar masyarakat sekitar mengetahui dan datang untuk memberikan penghormatan serta membantu keluarga yang berduka.
Selain itu, masyarakat Kajang memiliki tradisi Makalomba yang berkaitan dengan permohonan keselamatan. Dalam tradisi ini digunakan air yang berasal dari beberapa sumber mata air. Penggunaan air dalam kegiatan adat menunjukkan eratnya hubungan masyarakat Kajang dengan alam dan lingkungan di sekitarnya.

Masyarakat Kajang memiliki rumah adat berbentuk rumah panggung yang umumnya terbuat dari kayu. Pada masyarakat Kajang Dalam, dapur dan tempat buang air berada di bagian depan rumah, sedangkan Kajang Luar menempatkannya di belakang. Rumah mereka juga memiliki ruang yang cukup terbuka dan tidak banyak sekat. Selain itu, pakaian berwarna hitam menjadi ciri khas masyarakat Kajang yang melambangkan kesederhanaan dan persatuan. Mereka juga dikenal memiliki kebiasaan tidak menggunakan alas kaki dalam kehidupan adat. Pakaian adatnya antara lain tope le’leng, passapu, baju pokko, dan baju tutu.
Ammatoa merupakan pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kajang yang bertugas menjaga aturan dan kehidupan adat. Nilai yang dijunjung meliputi kejujuran, keteguhan, persatuan, dan musyawarah. Musyawarah tersebut disebut abborong dan dilakukan untuk membahas berbagai kepentingan masyarakat.
Keunikan Suku Kajang tidak hanya terlihat dari rumah dan pakaian adat, tetapi juga dari kehidupan sederhana serta cara mereka mempertahankan nilai-nilai leluhur. Tradisi dan aturan adat yang terus dijalankan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas serta hubungan masyarakat Kajang dengan lingkungan.
Penulis: Isyana Nur Fadhillah
Penyunting: Mimma Kani Aprisa
