
PURWOKERTO, SudutNalar — Menghadapi ketakutan dan berani keluar dari zona nyaman merupakan filosofi utama yang dipegang oleh Ayudia, atau yang akrab disapa Aya. Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini membagikan kisah inspiratif mengenai perjalanan akademik, pengalaman organisasi, hingga perjuangannya mengatasi rasa cemas (anxiety).
Perjalanan Menuju Unsoed dan Pilihan Ilmu Komunikasi
Berasal dari Bangka Belitung, Aya mengaku bahwa Unsoed awalnya bukan pilihan utama. Setelah sempat gap year dan aktif sebagai Ketua Forum GenRe, Aya memfokuskan tujuannya pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit. Namun, perjalanan membawanya untuk memilih Unsoed lewat jalur mandiri.
“Awalnya Unsoed adalah last choice buat aku. Tapi, setelah aku riset dan melihat banyak orang hebat di sini, aku menyadari bahwa perkembangan diri itu tergantung dari diri kita sendiri, mau bertumbuh atau tidak,” ungkap Aya.
Pilihan jurusan Ilmu Komunikasi didasari oleh minat (passion) dan rencana kariernya sejak awal. Meski sempat kaget dengan dominasi materi teori pada semester awal, ia mulai menikmati proses perkuliahan saat memasuki semester lanjutan yang penuh praktikum.
Komitmen Sebagai Duta GenRe
Kiprah Aya di dunia GenRe (Generasi Berencana) telah berlangsung sejak tahun 2023. Sebagai Duta GenRe Bangka Barat, ia aktif mengedukasi remaja mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, serta perencanaan masa depan.
Momen berharga terjadi saat ia turun langsung memberikan pembinaan ke sekolah-sekolah di Bangka Barat. Melihat tingginya angka stunting dan minimnya motivasi pendidikan anak-anak di daerah tersebut memantapkan komitmennya untuk terus mengabdi. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Forum GenRe Bangka Barat, forum tersebut berhasil meraih predikat terbaik ketiga di tingkat Provinsi Bangka Belitung pada tahun 2025, sekaligus mengantarkan perwakilannya menjuarai ajang Duta GenRe tingkat provinsi hingga melaju ke tingkat nasional.

Menghadapi Ketakutan dan Menjaga Keseimbangan Diri
Di balik pencapaiannya, Aya mengakui bahwa dirinya adalah tipe orang yang mudah cemas (anxious) dan rentan tertekan. Ia bahkan membagikan pengalamannya yang sempat masuk rumah sakit akibat asam lambung yang kambuh karena rasa cemas berlebih menjelang bertugas.
Namun, ia belajar untuk mengatasi ketakutan tersebut dengan langsung menghadapinya. “Satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut adalah dengan melakukan hal yang kita takuti itu sendiri (face the fear). Selain itu, persiapan (preparation) adalah kunci utama membangun rasa percaya diri,” jelasnya.
Aya juga menekankan pentingnya menikmati setiap proses (enjoying participation) agar tidak terjebak dalam toxic productivity. Menurutnya, keseimbangan antara akademik dan kegiatan non-akademik sangat penting, mengingat dunia kerja saat ini membutuhkan nilai tambah (value) di luar sekadar predikat kelulusan.
“Hidup cuma sekali, lakukan apapun yang kamu mau selama itu positif. Face the fear, take the leap, and enjoy the process,” pungkasnya menutup perbincangan.
Penulis: Aurelia Az zahra Salsabillah
Editor: Dania Anggita Nirmalaningtyas
