Oleh: Assifa Sahra Isna Niansyah

PURWOKERTO, SudutNalar β Setiap pagi, Adit mengayuh sepeda dari kos menuju kampus. Sore harinya, ia kembali mengayuh sepeda itu menuju tempat kerja yang berjarak cukup jauh. Sepeda tersebut merupakan pinjaman dari seorang teman untuk membantunya menjalani aktivitas sehari-hari di Jogja.
Adit merupakan mahasiswa Matematika Universitas Gadjah Mada. Namun, perjalanan Adit menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Sebelum sampai di UGM, ia harus melewati kegagalan dalam beberapa seleksi perguruan tinggi, keterbatasan ekonomi keluarga, hingga bekerja untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Sejak semester pertama, Adit belum memiliki laptop pribadi. Untuk mengerjakan tugas dan kebutuhan perkuliahan, ia mengandalkan laptop yang tersedia di perpustakaan atau menggunakan komputer di tempat fotokopi. Memasuki akhir semester kedua, kebutuhan akan laptop semakin mendesak karena semester ketiga sudah di depan mata.
Ia kemudian membuat tantangan untuk dirinya sendiri, yaitu mengumpulkan Rp3 juta dalam 50 hari. Target tersebut ia bagi menjadi Rp60.000 per hari.
Pukul 17.00, Adit mulai bekerja sebagai waiter di sebuah rumah makan. Selama enam jam, ia tidak hanya melayani pelanggan. Ia juga mengangkat barang, membersihkan tempat, mencuci piring, serta mengerjakan berbagai tugas lain yang dibutuhkan di tempat kerja. Dari pekerjaan tersebut, ia mendapatkan upah Rp60.000 per hari.
Bahkan ketika masa liburan tiba, Adit memilih tidak pulang agar dapat bekerja dan menabung lebih banyak.
Namun, perjuangan Adit untuk bisa kuliah sebenarnya telah dimulai jauh sebelum ia menjadi mahasiswa UGM.
Pada jalur SNBP, ia memilih Matematika UGM dan Matematika Unsoed. Namun, kedua pilihan tersebut belum membawanya lolos. Ia kemudian mencoba SNBT dengan memilih Teknik Kimia UGM. Selama masa persiapan, Adit belajar secara intensif di Inten Purwokerto. Ia bahkan terbiasa bangun sekitar pukul 03.00 untuk kembali belajar sebelum memulai aktivitas pada pagi hari. Namun, hasil yang diharapkan belum ia dapatkan. SNBT kembali berakhir dengan kegagalan.
Di saat yang sama, Adit mulai menyadari bahwa persoalan biaya juga menjadi tantangan besar. Kondisi ekonomi keluarganya membuat pendidikan tinggi menjadi sulit. Orang tuanya tidak bekerja, sementara kebutuhan sekolah adik-adiknya juga harus dipenuhi.
Adit kemudian mencari berbagai cara untuk mendapatkan uang. Ia menawarkan diri bekerja sebagai waiter, dishwasher, maupun kasir. Ia juga menerima pekerjaan les Matematika, Fisika, dan Kimia dengan bayaran sekitar Rp30.000 untuk satu setengah jam.
Dari berbagai pekerjaan tersebut, ia sempat mengumpulkan Rp280.000 untuk biaya pendaftaran jalur mandiri. Namun, uang itu kemudian digunakan keluarganya untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah adiknya. Adit harus kembali mengumpulkan uang dari nol, sementara batas pendaftaran semakin dekat.
Situasi tersebut membuatnya sempat mempertanyakan keadaan yang sedang dihadapi.
βKok susah banget ya cari uang? Sekolah 12 tahun, nyari duit segini doang kok susah?β
Meski demikian, ia tidak berhenti mencari jalan. Adit kemudian menghubungi salah satu guru SMA-nya, Bu Kus, untuk meminjam uang. Bu Kus sempat menawarkan Rp1 juta, tetapi Adit hanya meminta Rp300.000. Pada akhirnya, Bu Kus memberikan Rp500.000 dan Bu Indra menambahkan Rp100.000.
Perjalanan Adit kemudian sempat menjadi perhatian publik setelah sebuah video yang diunggahnya viral. Dalam video tersebut, ia menceritakan perjalanan sejak mendaftar kuliah hingga usahanya mengumpulkan uang untuk membeli laptop. Video tersebut diunggah sekitar pukul 16.00 dan baru diperiksanya kembali sekitar pukul 23.00. Saat itulah ia menyadari bahwa video tersebut telah ramai dan mulai mendapat sorotan dari berbagai pihak, termasuk media.
Dari perhatian tersebut, Adit sempat mendapat tawaran bantuan berupa laptop. Namun, ia memilih mendapatkannya melalui hasil kerja sendiri. Ia memiliki prinsip bahwa bantuan tidak selalu harus diterima dalam bentuk hasil akhir. Ia mengibaratkannya seperti belajar mendapatkan ikan.
βKalau dikasih ikan, mungkin hari ini aku kenyang. Tapi kalau aku belajar memancing, aku bisa dapat ikan lagi besok.β
Ia kemudian mendapat tawaran pekerjaan membersihkan kaca dari Dewi Persik. Pekerjaan yang awalnya diperkirakan hanya berlangsung satu hari itu justru berlanjut hingga tiga minggu.
Dari pekerjaan tersebut, ditambah berbagai usaha yang telah ia lakukan sebelumnya, uang yang dibutuhkannya akhirnya terkumpul. Adit pun berhasil membeli laptop yang selama ini ia perjuangkan.
Laptop itu bukan sekadar perangkat untuk mengerjakan tugas. Bagi Adit, laptop tersebut menjadi hasil dari uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit melalui berbagai pekerjaan. Setelah kebutuhan laptop terpenuhi, perhatian yang sebelumnya datang melalui media kemudian berkembang menjadi tawaran untuk menjadi pembicara dalam berbagai acara.
Adit pernah gagal dalam beberapa seleksi perguruan tinggi. Ia juga harus mengumpulkan biaya dari berbagai pekerjaan dan kembali memulai dari nol ketika uang yang dikumpulkannya digunakan untuk kebutuhan keluarga.
βBoleh ngeluh, tapi nyerah jangan.β Kini, sepeda pinjaman itu masih menemani keseharian Adit, dari kos menuju kampus hingga ke tempat kerja. Di tengah keterbatasan, ia tetap memilih untuk terus berjalan dan berusaha.
