Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Mengayuh dari Bukateja Menuju Tanah Suci

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by shafrifa aulia

Evi Alviyah

sudutnalar.com, 08 Oktober 2026

Perjalanan Eli dan Arif menuju Makkah (Foto: Dokumentasi Narasumber)

PURBALINGGA, SUDUTNALAR — Malam itu, perjalanan menuju Jeddah sempat terhenti. Nurlaeli terjatuh setelah sepedanya melewati lubang di jalan. Cedera membuatnya kesulitan mengunyah selama sekitar dua minggu. Di tengah perjalanan yang begitu jauh dari kampung halaman, yaitu Bukateja, seorang perempuan menolong dan menawarkan Eli dengan suaminya tinggal di rumah sampai kondisinya membaik.

Kecelakaan itu hanyalah satu dari sekian banyak kejadian yang mewarnai perjalanan Eli bersama suaminya, Arif Mulyono saat menuju Tanah Suci. Keduanya meninggalkan kampung halaman pada 2023 dengan sepeda. Perjalanan tersebut berlangsung sekitar enam bulan hingga akhirnya membawa mereka ke Arab Saudi dan menunaikan ibadah haji pada 2024.

Keinginan untuk mengayuh hingga Mekkah sebenarnya bermula dari perjalanan yang sederhana. Pada 2022, Eli dan Arif bersepeda menuju Muktamar Muhammadiyah di Solo. Di sana, mereka bertemu dengan sejumlah pesepeda, termasuk Ustaz Fauzan dari Magelang yang pernah melaksanakan ibadah haji menggunakan sepeda.

Pertemuan itu membuat sebuah pikiran muncul di benak Eli. Jika sepeda selama ini hanya digunakan untuk berkeliling Indonesia, mengapa tidak membawanya lebih jauh?

“Kalau bersepeda hanya keliling-keliling Indonesia, mendingan ke Mekah sekalian,” ujar Eli.

Sepulang dari Solo, keinginan tersebut mulai mereka persiapkan. Mereka mencari informasi mengenai rute, mengurus paspor dan visa, serta menggunakan peta online untuk membantu menentukan arah perjalanan. Persiapan fisik tidak dilakukan dengan latihan khusus. Mereka hanya mempertahankan kebiasaan bersepeda yang selama ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Biaya perjalanan disiapkan sedikit demi sedikit. Sebagian berasal dari hasil berdagang, sementara sebagian lainnya dari tabungan.

“Sebagian dari dagang, sebagian lagi ada rezeki yang kami tabung,” kata Eli.

Keberangkatan mereka dimulai dari Masjid Al-Hikmah Desa Cipawon, Kecamatan Bukateja. Warga berkumpul untuk melepas keduanya sebelum perjalanan panjang dimulai. Dari tempat itu, dua sepeda membawa mereka semakin jauh dari kampung halaman.

Tempat tidur mereka tidak selalu berupa kamar. Masjid, rumah warga, hingga pom bensin menjadi tempat melepas lelah selama perjalanan. Mereka tidak setiap hari mengayuh sepeda karena beberapa kali berhenti untuk bersilaturahmi dan mengunjungi keluarga.

Saat tidur di sebuah pom bensin, Eli memegang kunci Inggris karena merasa perlu berjaga-jaga. Tidak ada kamar nyaman atau tempat tidur yang mereka kenal. Hanya perjalanan yang terus berlanjut dan tempat seadanya.

Namun, keadaan seperti itu tidak membuat Eli ingin berhenti. Ia dan Arif justru berusaha menikmati perjalanan yang mereka jalani seperti air mengalir. Sejak awal memutuskan berangkat, Eli mengaku tidak pernah memiliki keraguan. Tidak pula ada keinginan untuk menyerah.

Di sepanjang perjalanan, mereka juga menemukan kebaikan dari orang-orang yang tidak mereka kenal. Ada yang memberikan air minum, kue, buah, es krim, hingga kurma. Ketika melewati tanjakan di Lampung, seorang sopir truk bahkan menunggu mereka sampai tiba di atas, kemudian memberikan air dan makanan.

“Orang itu melihat dan memberikan kami minuman,” tutur Eli.

Di tengah perjalanan menuju perbatasan Arab Saudi, pedal sepeda kembali menjadi masalah. Salah satu pedal milik Eli patah ketika mereka berada di kawasan gurun Qatar. Tidak menemukan bengkel sepeda, mereka mencoba memperbaikinya dengan alat seadanya. Setelah menemukan pom bensin yang memiliki bengkel, seorang mekanik membantu dengan memberikan baut panjang untuk memperbaiki pedal tersebut.

Masalah belum selesai. Di perbatasan Qatar dan Arab Saudi, petugas imigrasi bertanya mengenai kendaraan yang digunakan. Ketika Eli dan Arif menjawab sepeda, petugas sempat tidak percaya hingga mereka menunjukkan kendaraan tersebut.

Visa mereka sudah mendapatkan cap, tetapi keduanya tidak diperbolehkan memasuki Arab Saudi menggunakan sepeda. Mereka harus kembali ke Qatar dan menunggu selama tiga hari. Setelah itu, mereka menggunakan mobil sewa untuk melewati perbatasan. Sesampainya di Arab Saudi, perjalanan dengan sepeda kembali dilanjutkan.

Setelah melewati berbagai kejadian tersebut, Eli dan Arif akhirnya sampai di Tanah Suci. Pada 2024, keduanya melaksanakan ibadah haji setelah sebelumnya melakukan umrah.

Bagi Eli, kesempatan berhaji dengan cara yang tidak biasa itu merupakan sebuah berkah yang tidak ternilai harganya. Ia menyadari bahwa banyak orang harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan berhaji. Sementara itu, ia merasa mendapat kemudahan hingga akhirnya dapat menunaikan ibadah haji bersama suaminya menggunakan sepeda.

Bagi Eli, kemudahan tersebut tidak terlepas dari niat yang sejak awal mereka tanamkan. Perjalanan dengan sepeda bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, tetapi juga diniatkan sebagai ibadah.

“Dengan bersepeda ke Mekah itu menjadi pahala setiap langkahnya, setiap kayuhannya,” ujar Eli.

Ia berharap kisah perjalanan tersebut dapat memberikan semangat bagi orang lain. Menurutnya, setiap hal yang dilakukan sebaiknya diniatkan untuk hal baik dan sebagai ibadah.

Perjalanan yang dimulai dari Masjid Al-Hikmah Desa Cipawon itu akhirnya membawa Eli dan Arif jauh meninggalkan kampung halaman. Mereka melewati jalan panjang, tidur di tempat sederhana, memperbaiki sepeda yang rusak, menghadapi persoalan di perbatasan, hingga mengalami kecelakaan. Namun, tidak satu pun membuat mereka memilih untuk menyerah.

Menurut Eli, sebuah keinginan tidak perlu dijalani dengan memikirkan hasil akhirnya. Cukup berusaha, berdoa, menikmati proses, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

“Jalani aja, berusaha, nikmati, syukuri. Tawakal sama Allah,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme