Evi Alviyah
sudutnalar.com, 08 Oktober 2026

PURBALINGGA, SUDUTNALAR — Malam itu, perjalanan menuju Jeddah sempat terhenti. Nurlaeli terjatuh setelah sepedanya melewati lubang di jalan. Cedera membuatnya kesulitan mengunyah selama sekitar dua minggu. Di tengah perjalanan yang begitu jauh dari kampung halaman, yaitu Bukateja, seorang perempuan menolong dan menawarkan Eli dengan suaminya tinggal di rumah sampai kondisinya membaik.
Kecelakaan itu hanyalah satu dari sekian banyak kejadian yang mewarnai perjalanan Eli bersama suaminya, Arif Mulyono saat menuju Tanah Suci. Keduanya meninggalkan kampung halaman pada 2023 dengan sepeda. Perjalanan tersebut berlangsung sekitar enam bulan hingga akhirnya membawa mereka ke Arab Saudi dan menunaikan ibadah haji pada 2024.
Keinginan untuk mengayuh hingga Mekkah sebenarnya bermula dari perjalanan yang sederhana. Pada 2022, Eli dan Arif bersepeda menuju Muktamar Muhammadiyah di Solo. Di sana, mereka bertemu dengan sejumlah pesepeda, termasuk Ustaz Fauzan dari Magelang yang pernah melaksanakan ibadah haji menggunakan sepeda.
Pertemuan itu membuat sebuah pikiran muncul di benak Eli. Jika sepeda selama ini hanya digunakan untuk berkeliling Indonesia, mengapa tidak membawanya lebih jauh?
“Kalau bersepeda hanya keliling-keliling Indonesia, mendingan ke Mekah sekalian,” ujar Eli.
Sepulang dari Solo, keinginan tersebut mulai mereka persiapkan. Mereka mencari informasi mengenai rute, mengurus paspor dan visa, serta menggunakan peta online untuk membantu menentukan arah perjalanan. Persiapan fisik tidak dilakukan dengan latihan khusus. Mereka hanya mempertahankan kebiasaan bersepeda yang selama ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Biaya perjalanan disiapkan sedikit demi sedikit. Sebagian berasal dari hasil berdagang, sementara sebagian lainnya dari tabungan.
“Sebagian dari dagang, sebagian lagi ada rezeki yang kami tabung,” kata Eli.
Keberangkatan mereka dimulai dari Masjid Al-Hikmah Desa Cipawon, Kecamatan Bukateja. Warga berkumpul untuk melepas keduanya sebelum perjalanan panjang dimulai. Dari tempat itu, dua sepeda membawa mereka semakin jauh dari kampung halaman.
Tempat tidur mereka tidak selalu berupa kamar. Masjid, rumah warga, hingga pom bensin menjadi tempat melepas lelah selama perjalanan. Mereka tidak setiap hari mengayuh sepeda karena beberapa kali berhenti untuk bersilaturahmi dan mengunjungi keluarga.
Saat tidur di sebuah pom bensin, Eli memegang kunci Inggris karena merasa perlu berjaga-jaga. Tidak ada kamar nyaman atau tempat tidur yang mereka kenal. Hanya perjalanan yang terus berlanjut dan tempat seadanya.
Namun, keadaan seperti itu tidak membuat Eli ingin berhenti. Ia dan Arif justru berusaha menikmati perjalanan yang mereka jalani seperti air mengalir. Sejak awal memutuskan berangkat, Eli mengaku tidak pernah memiliki keraguan. Tidak pula ada keinginan untuk menyerah.
Di sepanjang perjalanan, mereka juga menemukan kebaikan dari orang-orang yang tidak mereka kenal. Ada yang memberikan air minum, kue, buah, es krim, hingga kurma. Ketika melewati tanjakan di Lampung, seorang sopir truk bahkan menunggu mereka sampai tiba di atas, kemudian memberikan air dan makanan.
“Orang itu melihat dan memberikan kami minuman,” tutur Eli.
Di tengah perjalanan menuju perbatasan Arab Saudi, pedal sepeda kembali menjadi masalah. Salah satu pedal milik Eli patah ketika mereka berada di kawasan gurun Qatar. Tidak menemukan bengkel sepeda, mereka mencoba memperbaikinya dengan alat seadanya. Setelah menemukan pom bensin yang memiliki bengkel, seorang mekanik membantu dengan memberikan baut panjang untuk memperbaiki pedal tersebut.
Masalah belum selesai. Di perbatasan Qatar dan Arab Saudi, petugas imigrasi bertanya mengenai kendaraan yang digunakan. Ketika Eli dan Arif menjawab sepeda, petugas sempat tidak percaya hingga mereka menunjukkan kendaraan tersebut.
Visa mereka sudah mendapatkan cap, tetapi keduanya tidak diperbolehkan memasuki Arab Saudi menggunakan sepeda. Mereka harus kembali ke Qatar dan menunggu selama tiga hari. Setelah itu, mereka menggunakan mobil sewa untuk melewati perbatasan. Sesampainya di Arab Saudi, perjalanan dengan sepeda kembali dilanjutkan.
Setelah melewati berbagai kejadian tersebut, Eli dan Arif akhirnya sampai di Tanah Suci. Pada 2024, keduanya melaksanakan ibadah haji setelah sebelumnya melakukan umrah.
Bagi Eli, kesempatan berhaji dengan cara yang tidak biasa itu merupakan sebuah berkah yang tidak ternilai harganya. Ia menyadari bahwa banyak orang harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan berhaji. Sementara itu, ia merasa mendapat kemudahan hingga akhirnya dapat menunaikan ibadah haji bersama suaminya menggunakan sepeda.
Bagi Eli, kemudahan tersebut tidak terlepas dari niat yang sejak awal mereka tanamkan. Perjalanan dengan sepeda bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, tetapi juga diniatkan sebagai ibadah.
“Dengan bersepeda ke Mekah itu menjadi pahala setiap langkahnya, setiap kayuhannya,” ujar Eli.
Ia berharap kisah perjalanan tersebut dapat memberikan semangat bagi orang lain. Menurutnya, setiap hal yang dilakukan sebaiknya diniatkan untuk hal baik dan sebagai ibadah.
Perjalanan yang dimulai dari Masjid Al-Hikmah Desa Cipawon itu akhirnya membawa Eli dan Arif jauh meninggalkan kampung halaman. Mereka melewati jalan panjang, tidur di tempat sederhana, memperbaiki sepeda yang rusak, menghadapi persoalan di perbatasan, hingga mengalami kecelakaan. Namun, tidak satu pun membuat mereka memilih untuk menyerah.
Menurut Eli, sebuah keinginan tidak perlu dijalani dengan memikirkan hasil akhirnya. Cukup berusaha, berdoa, menikmati proses, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
“Jalani aja, berusaha, nikmati, syukuri. Tawakal sama Allah,” tuturnya.
