Penulis: Cahya Anggraeni/Editor: Aurelia Az zahra Salsabilah

PURWOKERTO, SudutNalar – Di tengah hangatnya sinar matahari pagi yang memantul di pucuk Menara Teratai, Jalan Bung Karno, Purwokerto, terdengar derit halus roda kayu beradu dengan aspal. Sesosok pria beruban dengan garis-garis keriput yang tegas di wajahnya melangkah perlahan namun pasti. Tangan keriputnya yang renta memegang erat dua batang kayu, mendorong sebuah gerobak sederhana berisi tumpukan nanas segar berserat kuning keemasan. Pria itu adalah Pak Sodri. Di usianya yang telah menginjak 72 tahun, saat sebagian besar orang sebayanya memilih beristirahat di rumah, Pak Sodri justru memilih terus berderap menyusuri jalanan kota demi menjemput rezeki.
Sekitar pukul 08.00 WIB, Pak Sodri biasa memulai perjalanannya. Menjual nanas yang sebenarnya baru ia jalani sekitar satu bulan terakhir. Sebelumnya, ia menggantungkan pendapatan dari berjualan sayuran keliling. Keputusan beralih komoditas dagangan tidak menghentikan rutinitas fisiknya. Mengandalkan gerobak kayu yang masih layak pakai, ia tetap memikul tanggung jawab usahanya seorang diri.
Nanas-nanas yang dibawanya tidak datang begitu saja ke atas gerobak. Pak Sodri harus memulai dengan kulakan terlebih dahulu di Pasar Sawangan. Dari pasar itulah buah-buah segar itu ia pilih, dipilah, lalu disiapkannya untuk dijual kembali sepanjang perjalanan. Ia menawarkan tiga buah nanas utuh seharga Rp10.000, serta menyediakan pilihan nanas yang sudah dikupas dan dikemas dalam kantong plastik dengan harga serupa per bungkusnya.
Namun, dinamika usaha di jalanan kerap tak berpihak manis setiap waktu. Hasil jerih payahnya dalam sehari rata-rata berada di kisaran Rp50.000. Angka tersebut tentu jauh dari kata berlebih, bahkan jumlah itu kerap tidak pasti karena barang dagangannya belum tentu laku habis diserbu pembeli setiap harinya.
“Setiap hari nggak tentu ada,” ucap Pak Sodri dengan nada suara pelan dan tenang, menyiratkan ketabahan yang mendalam atas takdir rezeki yang diterimanya.
Ketidakpastian pendapatan itu tak lantas meluruhkan semangat Pak Sodri untuk kembali terbit bersama matahari esok pagi. Bagi Pak Sodri, memutar roda gerobak kayu setiap hari bukan sekadar soal mengumpulkan lembaran rupiah demi rupiah, melainkan sebuah wujud kepasrahan hidup yang senantiasa diiringi oleh tindakan nyata.
“Makanya ya pengennya ikhtiar,” tuturnya jujur di tengah jeda istirahatnya menepis lelah.
Di rumah, sang istri setia menunggunya kembali dari perjalanan panjang. Sementara itu, anggota keluarga lainnya kini sedang memfokuskan diri pada aktivitas masing-masing di luar kota. Kondisi ini membuat Pak Sodri tetap merasa bertanggung jawab untuk menjaga kemandirian ekonomi keluarga tanpa ingin membebani siapa pun.
Harapan yang disimpannya untuk hari-hari mendatang pun jauh dari kata muluk-muluk. Ia tidak memimpikan kekayaan melimpah atau usaha berskala besar. Ia hanya ingin gerobak nanasnya terus berputar agar kebutuhan dapur dan makan sehari-hari bersama sang istri tetap terpenuhi secara mandiri.
“Saya yang penting makan, ya makan,” ujar Pak Sodri singkat. Ketika siang makin terik menguji ketahanan fisik di sekitar Menara Teratai, Pak Sodri kembali merapatkan genggamannya pada dua tangkai kayu gerobak. Ia melangkah lagi, menyusuri deretan trotoar kota dan menyapa setiap sudut jalanan dengan penuh kesederhanaan. Di balik gerobak kayu dan aroma nanas segar yang dibawanya, tersimpan pelajaran berharga tentang arti martabat, kemandirian, serta keteguhan hati. Bagi Pak Sodri, selama napas masih berhembus dan raga masih mampu berjalan, berikhtiar adalah cara paling mulia untuk terus merayakan kehidupan.
