
BANJARNEGARA, SudurNalar β Perjalanan menjadi pegawai negeri sipil (PNS) tidak selalu mudah. Hal tersebut dialami oleh Septi Murni Astuti bidan PNS yang kini bertugas di Puskesmas Mandiraja 2, Banjarnegara. Sebelum mencapai posisinya saat ini, Septi harus melalui berbagai perjuangan, mulai dari mencari pekerjaan setelah lulus kuliah hingga mengabdi selama bertahun-tahun di daerah pegunungan.
Septi menempuh pendidikan D3 Kebidanan di UNAIC Cilacap dan lulus pada tahun 2010. Setelah lulus, ia sempat bekerja di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Sutirah, Rumah Sakit Panti Nugroho Purbalingga, dan Praktik Mandiri Bidan (PMB) Titi di Desa Merden. Ia juga pernah mengikuti seleksi PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011 tetapi belum lolos. Hal itu tidak meruntuhkan semangatnya, di tahun 2012 ia mengikuti kembali dan dinyatakan lolos seleksi PTT.
Setelah diterima sebagai PTT, Septi ditempatkan di Puskesmas Pejawaran dan mendapat amanah sebagai bidan desa di Desa Beji yang saat itu termasuk wilayah DTT (Daerah Tertinggal) di Kabupaten Banjarnegara. Penugasan tersebut menjadi awal perjalanan panjang pengabdiannya di daerah pelosok. Pada tahun 2017, Septi resmi diangkat menjadi PNS dan tetap melanjutkan tugasnya melayani masyarakat di Desa Beji.
Menurut Septi, saat pertama kali bertugas, masyarakat sering menganggapnya mampu menangani berbagai keluhan kesehatan. Padahal, sebagai bidan fokus pelayanannya adalah kesehatan ibu dan anak.

βSaat pertama kali bertugas di Desa Beji, saya cukup kaget karena cuacanya lebih dingin dan akses jalannya juga tidak mudah. Namun, masyarakat di sana sangat ramah dan memiliki rasa persaudaraan yang kuat. Yang membuat saya terkejut, banyak warga yang menganggap saya bisa menangani semua masalah kesehatan, padahal sebagai bidan saya lebih fokus pada pelayanan kesehatan ibu dan bayi,” ujar Septi.
Selain menghadapi berbagai keluhan kesehatan masyarakat, Septi juga harus menangani kondisi persalinan yang masih banyak dilakukan di rumah. Tidak jarang ia dipanggil ketika proses persalinan sudah berlangsung atau saat pasien mengalami komplikasi yang harus segera dirujuk ke rumah sakit.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat hujan lebat. Ketika Septi mendapat panggilan untuk merujuk pasien melahirkan ke rumah sakit, sementara anaknya sendiri sedang sakit. Di tengah situasi sulit tersebut, Septi harus memilih untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai bidan demi membantu menyelamatkan nyawa pasien. Setelah tugasnya selesai, kondisi anaknya semakin memburuk hingga akhirnya harus dirawat di RSUD Banjarnegara.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Septi tetap bertahan mengabdi di Desa Beji selama kurang lebih 14 tahun. Selain itu, ia juga harus menjalani kehidupan terpisah dari suami dan anak-anaknya selama beberapa tahun demi menjalankan tugas di daerah tersebut.
Pada tahun 2026, Septi dimutasi ke Puskesmas Mandiraja 2 yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Setelah bertahun-tahun menjalani tugas di daerah pelosok, kini ia dapat kembali berkumpul dan beraktivitas bersama keluarganya setiap hari.
“Saya bersyukur sekarang bisa bertugas lebih dekat dengan rumah. Setelah beberapa tahun harus berjauhan dengan keluarga karena pekerjaan, akhirnya saya bisa kembali berkumpul dan mendampingi anak-anak setiap hari,” ujar Septi.
Perjalanan Septi menunjukkan bahwa profesi tenaga kesehatan tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga dedikasi, pengorbanan, dan ketulusan dalam melayani masyarakat.
Penulis: Yuliyastin Gebi Saputri
Editor: Septia Berliana
