Tegal, 07 Oktober 2026
Penulis : Clariska Nareswari

(Sumber Foto: Clariska Nareswari)
TEGAL, SUDUTNALAR — Di tengah rumah-rumah yang kini semakin akrab dengan mebel plastik dan aluminium, suara pengerjaan kayu jati masih terdengar dari sebuah tempat usaha milik Mustofa. Potongan kayu, ukuran mebel, dan pesanan konsumen menjadi bagian dari kesehariannya. Selama hampir empat dekade, Mustofa mempertahankan usaha pertukangan yang dibangunnya sejak 1987, meski perubahan zaman berkali-kali menempatkannya dalam situasi sulit.
Mustofa mengawali perjalanan usahanya bukan sebagai pembuat mebel. Ia dahulu berjualan kayu jati gelondong dan sering bertemu dengan konsumen yang merupakan perajin. Dari pertemuan tersebut, ia mulai belajar bagaimana kayu diolah menjadi mebel, berapa biaya yang dibutuhkan, berapa lama pengerjaannya, hingga bagaimana menghitung keuntungan.
“Awalnya saya kerja di penjualan kayu jati gelondongan. Lalu, ketemu konsumen yang rata-rata perajin. Dari situ saya belajar bikin mebel, belajar biayanya, dan butuh waktu berapa,” ujar Mustofa.
Pengetahuan itu kemudian mendorongnya untuk mulai menjalankan usaha sendiri. Ia mencari tukang yang sudah profesional dan memahami pembuatan mebel kayu. Pada masa awal, tempat kerjanya masih sangat sederhana. Teras rumah dengan atap seng menjadi tempat untuk mengerjakan pesanan, bahkan ruang tersebut hanya cukup untuk satu orang.
Pesanan pertama banyak datang dari orang-orang terdekat. Ada keluarga yang sedang membangun rumah, ada pula yang membutuhkan lemari, kusen, pintu, dan perlengkapan rumah tangga berbahan kayu. Mustofa menawarkan hasil pekerjaannya secara langsung. Perlahan, pelanggan tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar. Hubungan pertemanan turut membawa pesanan dari luar kampung hingga luar kecamatan.
Sistem pemasaran melalui hubungan antarmanusia itu masih dipertahankan hingga sekarang. Pesanan bahkan pernah datang dari Tegal, Pemalang, Brebes, Jakarta, hingga Bali. Menurut Mustofa, hubungan dengan teman dan pelanggan menjadi salah satu jalan yang membuat usahanya terus dikenal.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu dipenuhi pesanan. Dalam kondisi normal, Mustofa dapat mengerjakan sekitar empat sampai lima rumah dalam setahun. Satu rumah membutuhkan waktu sekitar setengah bulan hingga satu bulan, tergantung pada pekerjaan yang dipesan. Ketika keadaan sedang baik, jumlahnya bisa mencapai enam rumah dalam setahun.
Titik paling berat datang ketika pandemi COVID-19. Dalam rentang 2019 hingga 2022, usaha Mustofa praktis berhenti karena tidak mendapatkan pesanan.
“Waktu COVID-19 itu macet total. Dalam jangka waktu 2019 sampai 2022, nol, tidak ada orderan. Saat itu masyarakat lebih fokus ke kesehatan, atau tidak ada yang bangun rumah,” katanya.
Hampir tiga tahun tanpa pesanan membuat usaha yang telah dibangun puluhan tahun itu mengalami kevakuman. Baru sekitar tahun 2023, aktivitas pertukangan mulai kembali berjalan.
Ketika pesanan kembali datang, tantangan lain telah menunggu. Penggunaan mebel plastik dan baja ringan semakin banyak. Jika dahulu sebagian besar rumah menggunakan mebel dan kusen kayu, kini masyarakat memiliki pilihan bahan yang lebih praktis dan relatif murah. Persaingan juga datang dari kayu jati yang ditanam masyarakat secara pribadi dengan harga yang lebih rendah.
Mustofa tidak menampik bahwa kondisi tersebut membuat produk kayu jati sulit bersaing dari segi harga. Namun, ia memilih tidak mengorbankan mutu demi mengejar penjualan.
“Kalau penjualan online dalam bentuk foto nanti yang dikirim seperti itu, tetapi bahan dan pengerjaannya belum tentu sesuai. Saya lebih mengedepankan mutu dan kualitas kayu serta proses pengerjaannya,” jelasnya.
Karena itu, ia tidak terlalu mengandalkan promosi melalui media sosial. Calon konsumen biasanya datang langsung untuk melihat contoh bahan dan hasil pekerjaan. Jika sudah sesuai, konsumen memesan dan memberikan uang muka sebelum pekerjaan dimulai. Produk pun dibuat berdasarkan pesanan, bukan untuk disimpan sebagai stok.
Bagi Mustofa, harga produk kayu jati memang tidak bisa ditentukan secara sederhana. Kualitas kayu, ukuran, ketebalan, serta jumlah pintu atau jendela menjadi pertimbangan. Kayu jati dengan kualitas lebih tinggi tentu memiliki harga berbeda. Menurutnya, kayu yang dikelola dengan baik memiliki kepadatan dan ketahanan yang menjadi keunggulan dibandingkan dengan bahan yang lebih murah.
Di antara berbagai pengalaman selama menjalankan usaha, tahun 1997 menjadi salah satu masa yang paling berkesan. Ketika krisis moneter membuat nilai dolar melonjak, harga dasar kayu jati saat itu masih relatif rendah. Kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi Mustofa untuk menggunakan kayu berkualitas tinggi dan menjual hasil pekerjaannya dengan harga yang lebih tinggi. Pesanan rumah pun berdatangan karena daya beli masyarakat saat itu masih cukup tinggi.
“Penjualan yang paling berkesan itu tahun 1997. Waktu itu dolar sangat tinggi, tetapi harga dasar jati masih relatif rendah. Saya bisa menjual barang dengan harga tinggi, sementara membeli bahan dasarnya masih murah. Waktu itu bisa pakai kayu kualitas super dan konsumen juga banyak,” kenang Mustofa.
Kini, Mustofa tidak lagi sekadar mengejar banyaknya pesanan. Ia ingin konsumen memahami bahwa kualitas memiliki nilai yang tidak selalu terlihat dari harga awal. Produk kayu jati yang dikerjakan dengan baik, menurutnya, dapat bertahan dalam waktu panjang dan digunakan hingga generasi berikutnya. “Harapannya masyarakat bisa menilai hasil pekerjaan dan kualitas kayu, agar tidak terjebak oleh penjualan online. Jangan sampai karena harganya murah, ketika barang datang, kualitasnya jelek,” tuturnya.
Hampir 40 tahun berlalu sejak Mustofa memulai usahanya dari teras rumah beratap seng. Zaman berubah, bahan bangunan berganti, pemasaran berpindah ke layar ponsel, dan pandemi pernah membuat tempat kerjanya kehilangan pesanan selama bertahun-tahun. Namun, ia tetap memilih kayu jati sebagai jalan hidup usahanya.
Di tangan Mustofa, kayu jati bukan sekadar bahan untuk membuat mebel dan kusen. Ia menjadi bukti bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan sabar, dijaga mutunya, dan dibangun dengan kepercayaan dapat bertahan meski zaman terus berubah.
