
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Lampu meja belajar itu hampir tak pernah padam sebelum tengah malam. Di sebuah sudut kamar, jemari Evandra Afif (20) sibuk menari di atas lembaran kertas, mencatat baris demi baris rumus. Di tengah heningnya malam dan goresan pena yang terus berderit, ingatannya kembali mengenang masa ketika ia masih berseragam putih abu-abu, yang menjadi titik awal perjuangannya. Saat remaja seusianya menikmati rehat atau bersenda gurau di penghujung hari, ia justru harus bergulat dengan waktu yang berjalan dua kali lebih cepat karena mengikuti program kelas akselerasi.
Perjalanan panjang bermula ketika pengumuman kelas akselerasi di SMA Negeri 2 Tambun Selatan resmi dibuka. Dari sekian banyak pendaftar, nama Evandra terselip di antara lima murid yang dinyatakan lolos. Namun, bukannya bersorak gembira tanpa beban, dada Evandra justru bergemuruh oleh rasa cemas dan keraguan.
“Jujur perasaan saya senang sekali, tapi di sisi lain ada sedikit keraguan dan ketakutan,” kenang Evandra.
Bagi Evandra, ketakutan itu beralasan. Ia datang dari sekolah menengah biasa, sementara empat rekannya berasal dari SMP favorit dengan rekam jejak akademis yang mentereng. Bayang-bayang kalah saing sempat membayanginya setiap kali melangkah ke dalam kelas. Namun, prasangka itu runtuh saat ritme belajar dimulai. Di dalam ruang kelas yang sepi karena pandemi Covid-19, di saat murid reguler SMA Negeri 2 Tambun Selatan menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah, mereka berlima justru saling bergandengan tangan. Tidak ada rivalitas saling menjatuhkan, yang ada hanya komitmen untuk sama-sama bertahan.
Sistem belajar kelas akselerasi menuntut kompensasi yang tidak murah. Jika murid kelas reguler hanya menghadapi ujian semester setiap enam bulan sekali, Evandra dan kawan-kawannya harus berhadapan dengan lembar soal ujian setiap tiga bulan sekali. Materinya padat, waktunya singkat. Ritme maraton itu memaksanya mengorbankan masa-masa santai khas remaja SMA yang tak mungkin terulang.
“Tentu kadang saya memikirkan, andai di kelas reguler, saya pasti bisa santai dan menikmati masa-masa SMA, tetapi saya percaya, masuk kelas akselerasi ini adalah sebuah privilege. Saya yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil,” ungkap Evandra.
Saat lulus dari SMA Negeri 2 Tambun Selatan dengan predikat murid terbaik, ujian hidup Evandra masih berlanjut. Langkahnya kembali diuji saat impian menembus UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) harus kandas. Rasa kecewa sempat hinggap, namun jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) menjadi benteng pertahanan terakhirnya. Bagi Evandra, berjuang mati-matian di jalur tes reguler adalah satu-satunya cara untuk mengejar cita-cita tanpa harus membebani kedua orang tuanya.
Keberuntungan memihak pada ketekunannya. Evandra diterima di Program Studi Fisika UGM melalui jalur SNBT. Walau bukan Program Studi pilihan utamanya saat itu, tidak ada sedikit pun penyesalan yang tersisa di dadanya hingga hari ini.
Jejak perjuangan itu kini berbuah manis. Pemuda yang dulu mengawali langkah prestasinya dari Juara Harapan 2 OSN Matematika tingkat kecamatan saat SD dan menjadi wakil sekolah di OSN Fisika tingkat kabupaten saat SMA, kini terus melaju di tingkat perguruan tinggi. Pada tahun 2024, Evandra mendapatkan pendanaan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kategori PKM-PM, dan meraih juara 2 pada Kontes Robot Indonesia (KRI) kategori KRSBI-H tingkat regional, serta mewakili UGM pada KRI tingkat nasional.
Di balik deretan angka dan prestasi tersebut, Evandra sadar ada jangkar kuat yang membuatnya tetap tegak berdiri, yaitu kedua orang tuanya. Kepercayaan tanpa keraguan sedikit pun dari ayah dan ibunya menjadi bahan bakar paling ampuh saat mentalnya berada di titik terendah. “Seseorang yang bisa membuat saya bertahan selama masa-masa itu tidak lain adalah dukungan dari kedua orang tua. Tanpa mereka saya yakin tidak akan bisa seperti sekarang,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.
Pengalaman dipacu habis-habisan di kelas akselerasi telah membentuk cara pandang Evandra dalam memaknai hidup. Bagi pemuda yang gemar mengutak-atik teori fisika dan robotika ini, keberhasilan bukanlah tentang siapa yang paling cepat keluar dari garis start, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah tanpa membandingkan langkah kaki sendiri dengan orang lain.
“Bermimpilah setinggi-tingginya, urusan tercapai atau tidak itu dipikir nanti. Yang terpenting jangan takut dan jangan ragu untuk mencoba, karena tidak ada yang tahu takdir suksesmu dimulai dari mana,” pungkas Evandra dengan mantap.
Penulis: Novika Lesy Rahmawati
