Muhammad Yayan Maulana
Sudutnalar.com, 28 September 2026

Sumber : Pinterest
BANYUMAS, SUDUTNALAR—Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam konteks literasi masyarakat, terutama bagi generasi Z. Media Sosial, siniar, website, hingga artificial intelligence (kecerdasan buatan) memungkinkan informasi dapat diakses kapan saja melalui telepon pintar. Salah satu bukti transformasi perkembangan teknologi adalah dengan adanya buku digital atau e-book yang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup membaca baru menggeserkan dominasi buku fisik atau konvensional. Kemudahan akses, mobilitas yang fleksibel, hingga luasnya jangkauan menjadi pendorong utama transisi ini.
Fenomena pergeseran kebiasaan membaca ini juga dirasakan oleh Khoerudin, mahasiswa Sastra Indonesia Unsoed. Menurutnya, alasan utama memilih buku digital dibanding buku fisik adalah buku digital dinilai lebih praktis untuk dibaca di mana saja dan tidak harus membawa buku fisik.
“Kalau sekarang buku digital bisa dapet dari mana aja, entah itu di website tertentu , atau pakai platform aplikasi khusus. Dan alasan kenapa pakai buku digital, karena aksesnya lebih gampang sih daripada buku fisik,” ujar Khoerudin.
Transformasi ke buku digital menawarkan sejumlah keunggulan yang sulit ditemukan pada buku cetak fisik. Di era ini, pembaca tidak harus membeli buku fisik di toko buku atau pergi ke perpustakaan untuk memperoleh buku sebagai bahan bacaan. Website seperti Ipusnas atau google book kerap digunakan oleh Khoerudin untuk mencari buku digital hanya lewat telepon pintar yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja.
“Yang pertama, aksesnya lebih mudah didapat. Yang kedua, kalau dibanding buku konvensional, buku digital ini lebih mudah dibawa kemana-mana karena aksesnya pun di HP, dan kita nggak harus bawa buku fisiknya,” jelasnya.
Meskipun sudah mengalami perkembangan dari konvensional ke digital, buku masih saja tidak luput dari bayang-bayang tantangan besar, yaitu maraknya pembajakan karya tulis. Menurut narasumber, praktik ini tidak hanya menyinggung perihal hak cipta, namun juga tentang aspek finansial berupa royalti bagi penulis dan editor.
”Harapannya semoga bajakannya semakin sedikit, karena itu termasuk hak cipta punya penulisnya. Kalau ni semakin banyak untuk dibajak, maka fee untuk penulisnya ataupun para kreatornya otomatis berkurang dan ini juga melanggar etika untuk setiap penulis, dengan kata lain, ini termasuk kategori pencurian karya,” harapan untuk perkembangan transformasi buku digital oleh Khoerudin.
Pada akhirnya, perubahan ke buku digital telah mengubah cara kita menikmati bacaan menjadi jauh lebih praktis dan fleksibel. Di era digital ini, siapa saja kini bisa menjelajahi dunia literasi kapan pun dan di mana pun hanya dalam satu genggaman.
Penulis : Muhammad Yayan Maulana
Editor :Fara Aulia Fadilah
