
Sumber foto: Instagram @satriapns
PURWOKERTO – Sudutnalar.com Usianya baru 20 tahun, tapi Satria sudah menjalani dua peran sekaligus di kesenian tradisional: penari utama sekaligus pelatih di Sanggar Putra Satria, sanggar ebeg yang berada di Watumas, Banyumas. Warga Watumas pun sudah lama mengenal sosoknya. Sejak kelas 8 SMP, ia memang sudah aktif menari ebeg, kesenian khas Banyumas yang memadukan gerak, musik, dan nilai spiritual masyarakat pedesaan Jawa.
Sanggar Putra Satria sendiri sudah berdiri cukup lama. Ayah Satria mendirikannya sejak 1998, meski surat keterangan resminya dari kabupaten baru keluar pada 2022. Bagi Satria, keterlibatannya di dunia tari bukan sekadar kebetulan. “Saya ikut terjun dalam hal ini karena keturunan, karena ada darah seni. Jadi saya ikut serta dalam melestarikan dan menekuni tari ebeg sampai sekarang,” ujarnya.

(Sumber foto: dokumentasi pribadi)
Disiplin dan Warisan yang Harus Dijaga
Bagi Satria, menari ebeg bukan cuma soal tampil di panggung. Ia menekankan pentingnya disiplin dan tanggung jawab sebagai penari generasi muda yang ikut merawat warisan budaya. Ia juga menyinggung keresahan yang sering muncul di kalangan pegiat budaya, yaitu soal klaim kesenian tradisional Indonesia oleh negara lain.
“Kita sebagai generasi muda itu bisa menari ebeg. Itu yang menjadi prinsip dan nilai yang perlu dipegang teguh, jangan sampai budaya kita baru dihargai setelah diakui negara lain,” katanya.
Baginya, ebeg bukan sekadar hiburan, melainkan identitas. “Masyarakat tahu bahwa di Banyumas ada tarian ebeg. Bahkan bukan hanya Banyumas, seluruh Indonesia juga tahu bahwa ebeg itu identik dengan Banyumas,” tambahnya.
Jejak di Layar Dokumenter
Perjalanan Satria di dunia tari ebeg ternyata sudah melampaui panggung kampung halamannya. Ia tergabung dalam Paguyuban Pakumas dan sudah mengantongi surat keterangan resmi sebagai pelaku seni. Ia bahkan pernah terlibat dalam pembuatan film dokumenter Nggayuh Indhang bersama Daniele Zappatore, dosen sekaligus peneliti etnomusikologi asal Roma, Italia.

Satria (kiri) dalam salah satu cuplikan film dokumenter Nggayuh Indhang.
Namun di balik semua pencapaian itu, hal yang paling melekat di ingatannya justru sederhana, yaitu kebersamaan. “Momen yang paling berkesan itu bersama teman-teman. Setiap kali menari dan pentas, kita bertemu banyak orang baru, berkenalan dengan orang-orang lain. Itu yang paling berkesan, memiliki banyak teman dari satu hobi menari,” ungkapnya.
Pesan untuk Generasi Muda Purwokerto
Menutup obrolan, Satria menitipkan harapan sederhana tapi bermakna untuk generasi muda Purwokerto, terutama mereka yang tidak punya latar belakang menari. Menurutnya, melestarikan budaya tidak harus selalu diwujudkan dengan ikut menari.
“Sekadar tahu saja itu sudah menjadi salah satu bentuk pelestarian. Ketika ditanya orang luar, ‘di Banyumas itu ada kesenian apa?’, kalau kita tahu jawabannya ebeg, itu sudah menjadi bagian dari melestarikan,” jelasnya.
Untuk dirinya sendiri, Satria berharap bisa terus ambil bagian dalam pelestarian budaya Banyumas, tidak cuma ebeg, tapi juga kesenian tradisional lainnya. Ia juga berharap Sanggar Putra Satria, tempatnya bernaung dan berkarya sejak remaja, bisa terus maju ke depannya.
Tanggal Wawancara: 21 September 2026
Editor: Bagus Windu Aji
Penulis: Aziz Syaifulloh
