Oleh: Nissa Rhosida Dini Mustika Sari/ J1D025012

PURWOKERTO, SudutNalar —Lembar data hasil analisis tersusun rapi di atas meja laboratorium Sekolah Vokasi IPB University. Di antara riuhnya aktivitas penelitian, Sutami, S.P., M.P. tampak tekun mengamati sampel. Perempuan berusia 30 tahun yang akrab disapa Tami ini kini menjalani dua peran sekaligus yaitu sebagai dosen muda di Program Studi Teknologi dan Manajemen Produksi Perkebunan, sekaligus mahasiswa program doktor (S3) Ilmu Tanah, IPB University.
Laboratorium dan atmosfer akademis memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Meskipun demikian, profesi dosen sejatinya bukanlah cita-citanya sejak kecil. Minat tersebut baru tumbuh saat ia menempuh pendidikan S1 hingga S2 Ilmu Tanah di Universitas Sebelas Maret (UNS).
Di UNS inilah alur perjalanan akademisnya dimulai. Saat menempuh S1, ia memberanikan diri menjadi asisten praktikum untuk mendampingi adik tingkat di laboratorium. Memasuki jenjang S2, perannya meningkat menjadi asisten dosen, di mana ia belajar secara langsung cara mengajar dan membimbing mahasiswa secara efektif. Dari pengalaman itu, ia menemukan kepuasan batin yang tidak bisa dinilai dengan uang yaitu saat melihat mahasiswa berhasil memahami materi yang sulit. Momen-momen itulah yang memantapkan tekadnya untuk menjadi seorang pendidik.
Namun, jalan menuju mimpinya tidak pernah mudah. Tumbuh tanpa sosok ayah yang telah berpulang sejak ia masih di dalam kandungan. Tami dibesarkan seorang diri oleh ibunya dengan segala perjuangan dan keterbatasan. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan yang membuatnya semakin bersemangat untuk terus melangkah maju.
Rintangan makin terasa nyata saat Tami lulus S2. Keinginannya menjadi dosen sempat dihantam kegagalan bertubi-tubi dalam berbagai seleksi penerimaan. Rasa cemas dan takut akan masa depan sempat menghampiri. Kendati demikian, ia memilih tidak menyerah. Mengingat kerja keras sang ibu yang membesarkannya sendirian, Tami terus memperbaiki diri dan menguatkan ikhtiar spiritualnya.
Usaha dan doa tersebut akhirnya membuahkan hasil manis ketika IPB University membuka rekrutmen. Ia mengikuti seluruh rangkaian seleksi dengan cermat hingga akhirnya resmi diterima sebagai dosen di Sekolah Vokasi, IPB University. Pada kesempatan yang sama, Tami juga berhasil lolos seleksi program S3 Ilmu Tanah di kampus yang sama.
Kini, hari-harinya diisi dengan mengajar, meneliti di laboratorium, dan menyelesaikan studi doktoralnya. Di tengah padatnya tanggung jawab akademis tersebut, kebangkitan semangatnya tetap berakar pada sosok sang ibu.
“Yang membuat semangat saya terus membara adalah melihat komitmen dan dukungan Ibu,” tutur Tami dalam wawancara, dikutip Rabu (7/10/2026).
Satu nasihat ibunya yang selalu dijadikan pegangan hidup hingga kini adalah, “Bekerjalah dengan tulus dan ikhlas, karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.” ujar Tami.
Berbekal pesan tersebut, Tami melangkah ke depan. Sebagai dosen dan peneliti, ia berharap risetnya di bidang ilmu tanah dan pengelolaan lahan dapat bermanfaat nyata bagi masyarakat. Sementara sebagai pendidik, ia berkomitmen menanamkan integritas dan empati kepada para mahasiswanya.
Di balik pencapaiannya, terdapat perjuangan panjang dan berbagai kegagalan yang pernah dilalui. Dukungan dan doa dari sang ibu menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Tami untuk terus melangkah. Bagi Tami, pencapaian yang ia capai saat ini bukanlah titik akhir dari perjalanan yang ia tempuh. Ia tetap ingin terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan memberi manfaat melalui bidang pendidikan serta penelitian yang sedang ia jalani.
Perjalanan Tami dari seorang anak yang dibesarkan ibu tunggal, meniti langkah dari asisten laboratorium, hingga kini berdiri di podium kelas IPB menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan awal bukanlah penentu akhir perjalanan. Selama ada ketulusan, usaha tanpa henti, dan doa seorang ibu, setiap langkah akan menemukan jalannya.
