Oleh: Aila Fikrotun Nida

Sumber: Aila Fikrotun Nida
Dua dekade berdagang barang bekas, Nanang (48) hafal cara membaca harga dan tahu persis untuk siapa ia bekerja.
Pukul sembilan pagi, Nanang berangkat. Rutenya sudah ia hafal di luar kepala: Patimuan, Cinyawang, lalu Kedungreja. Di tiga wilayah itu, pria 48 tahun ini tidak sekadar lewat. Ia sedang bekerja, mencari barang bekas yang nilainya hanya bisa dibaca oleh mata yang sudah terlatih. Warga Mulyasari RT 1/10, Ciklapa, Cilacap, ini sudah sekitar 20 tahun menekuni usaha rongsok. Jalan itu tidak ia rencanakan sejak awal. “Awalnya bingung mau jualan apa,” tuturnya. Ia sempat berjualan cimol, tetapi pembelinya sepi. Dari situ ia beralih ke barang bekas. Keputusan yang lahir dari kebingungan itu kini sudah berjalan dua dekade dan menjadi tumpuan hidup keluarganya.
Bagi orang awam, tumpukan barang bekas tampak sama saja. Bagi Nanang, setiap barang punya tingkatan nilai. Ia terbiasa memilah barang murah seperti emberan atau atum dari barang yang nilai jualnya tinggi, yaitu aluminium, wajan, tembaga, dan aki.Kemampuan memilah itu tidak ia dapat dari bangku kuliah. Ia mengasahnya selama dua dekade berhadapan langsung dengan barang dan para pembelinya. Di tangan yang sudah terbiasa, pekerjaan membedakan itu menjadi keahlian yang tak bisa diwakilkan begitu saja.
Tantangan terbesar di lapangan, kata Nanang, adalah naik-turunnya harga. Harga barang bekas sangat bersaing antar pedagang, sehingga tidak ada angka yang benar-benar tetap. Perubahan yang paling ia rasakan pun datang dari situ. “Kadang ada yang membeli barang dengan harga di atas pasaran, karena harga masing-masing lapak biasanya berbeda,” ujarnya.Di tengah pasar yang berubah-ubah itu, Nanang punya kenangan yang paling ia ingat. “Yang paling berkesan itu kalau beli barang dengan harga murah, terus dijual pas harganya lagi tinggi,” katanya.
Cerita itu menunjukkan satu hal: berdagang rongsok bukan sekadar mengumpulkan dan menimbang. Ada kesabaran menunggu waktu yang tepat, dan kejelian membaca pasar yang terus bergerak. Dari usaha inilah Nanang membiayai pendidikan kedua anaknya. Anak pertama sudah menikah dan berkeluarga. Anak kedua baru saja lulus SMK. “Bersyukur, dari pekerjaan ini bisa membiayai anak-anak sekolah,” ucapnya. Menurutnya, penghasilan dari usaha rongsok mencukupi kebutuhan keluarga. Dua anak, satu sudah berkeluarga dan satu lulus sekolah kejuruan, menjadi bukti yang bisa ia tunjukkan. Nanang sadar tidak semua orang memandang pekerjaannya sama. “Di mata orang-orang, mungkin pekerjaan pedagang rongsok atau barang bekas itu rendahan atau kotor,” katanya. Namun ia punya ukuran sendiri. “Tapi dari pekerjaan itulah bisa memenuhi kewajiban sebagai kepala keluarga, memberikan penghidupan yang layak untuk anak dan istri.” Baginya, nilai sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh anggapan orang, tetapi oleh apa yang bisa ia hadirkan di rumahnya: anak yang bersekolah, kebutuhan yang tercukupi, dan keluarga yang terjaga. Ia tidak sibuk meminta orang lain setuju. Ia menjawabnya lewat apa yang sudah ia kerjakan selama ini.
Di lapak-lapak rongsok, segalanya punya harga per kilo. Aluminium punya harganya, tembaga punya harganya, aki pun demikian. Tetapi Nanang tahu betul bahwa hasil kerjanya punya nilai yang tidak tertulis di papan harga mana pun. Dua puluh tahun lalu, ia hanyalah penjual cimol yang bingung mau berdagang apa. Hari ini, ia adalah kepala keluarga yang berhasil mengantar anak pertamanya berkeluarga dan anak keduanya lulus SMK. Dari barang bekas, Nanang membangun sesuatu yang tidak bekas sama sekali.
