Penulis: Dania Anggita Nirmalaningtyas | Editor: Cahya Anggraeni

BANYUMAS, SudutNalar – Dari setiap seribu orang di Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca. Menurut UNESCO, indeks minat baca Indonesia hanya 0,001. Bagi kebanyakan orang, angka itu mungkin sekadar statistik. Namun, bagi Warastuti Any Anggorowati (51), pustakawan sekolah dasar di Kecamatan Sumpiuh, angka itu adalah tantangan yang harus dijawab.
Kabar tentang rendahnya minat baca bangsa membuatnya sangat terpukul. Any sudah 16 tahun mengabdi sebagai pustakawan dengan status honorer. Tugas sehari-harinya, yakni membuat anak-anak mencintai perpustakaan dan buku. Ia bertekad menyebarkan “virus literasi” kepada masyarakat tanpa Batasan.
Mulanya hanya angan-angan. Saat mata enggan terpejam di malam hari, ia membayangkan sudut baca di setiap perkantoran, tempat keramaian, tempat rekreasi, dan di mana pun orang berkumpul. “Saat itu aku hanya bisa berandai-andai,” ujarnya.
Angan itu mulai terwujud pada 2015. Di Kelurahan Kebokura, Any menggelar lesehan di tepi sawah yang menghadap hamparan hijau yang membentang luas. Ia menamai Griya Baca Jelita “Jendela Literasi Tanah Air”. Bukunya ia kumpulkan dari hibah dan proposal yang ia ajukan.
Tempat yang indah ternyata belum cukup, orang bisa bosan. Any lalu mengisi Griya Baca Jelita dengan suara. Setiap hari pukul 4 hingga 8, anak-anak berlatih tari, lagu daerah, puisi, pidato, pantomim, dan macapat untuk lomba seni tingkat sekolah hingga provinsi. Selepas latihan, mereka berebut untuk meminjam buku.
Setiap Jumat siang, giliran para ibu lansia melantunkan tembang Jawa dengan suara mendayu. Sorenya, ibu-ibu muda berlatih lagu perjuangan. Pekerjaan rumah anak-anak pun dikerjakan sambil bernyanyi, syair lagu anak-anak diubah dengan rumus dan kalimat pelajaran hingga cepat hafal.
Namun, tidak semua orang menyambutnya. “Zaman canggih kok mendirikan griya baca, buka handphone saja semuanya sudah bisa terlihat,” begitu olok-olok yang pernah ia dengar. Any hanya tersenyum.
Saat taman bacanya sepi, terutama pada Minggu dan hari libur, ia menenteng 100 buku dan buka lapak di taman kota serta tempat rekreasi.
“Kalau bukan kita yang bergerak, lantas siapa lagi?” ujar Any.

Pada Desember 2016, Perpustakaan Nasional memberi Griya Baca Jelita bantuan buku senilai Rp75 juta. Honor Any saat itu Rp300.000 per bulan, jadi nilai bantuan tersebut setara honor selama lebih dari 20 tahun. “Tak kuasa aku menangis bahagia,” ucapnya haru. Buku sudah ada, tetapi rak belum. Ia mengkredit rak buku tiga susun di toko mebel, dicicil setahun dari honor yang sama.
Di sekolah tempatnya mengabdi, tantangannya berbeda. Tidak ada gedung perpustakaan di sekolah tersebut. Any menjawabnya dengan enam kotak berukuran 50 × 40 cm, satu untuk setiap kelas dengan enam duta baca dari kelas empat sampai enam.
Pukul 06.15 WIB, ketika sekolah masih lengang, ia dan duta baca sudah menata buku. Kotak kelas satu dan dua berisi buku bergambar. Kotak kelas tinggi berisi buku pengolahan sampah, kriya, kaligrafi, dan olahraga. Para duta baca mengantar kotak ke kelas, membagikan buku, dan menjaga suasana selama 15 menit sebelum bel masuk. Anak-anak membaca di taman sekolah atau di depan kelas seraya menghirup udara pegunungan. Selesai membaca, buku kembali ke kotak.
“Perpustakaan zaman sekarang tidak harus bergedung, yang penting bergerak dan menggerakkan anak-anak.”
Kerja kerasnya perlahan terdengar. Any meraih juara pertama Lomba Karya Nyata Dinas Pendidikan Banyumas pada 2015 dan diundang berbuka bersama Presiden pada 2018. Pada 2025 dan 2026, Griya Baca Jelita menerima 1.000 buku dan rak dari Perpusnas RI serta 700 eksemplar Al-Qur’an wakaf yang dibagikan ke perpustakaan sekolah dan masjid.
“Zaman canggih,” kata mereka. Any menjawabnya tanpa kata-kata tetapi dengan aksi nyata. Seratus buku, enam kotak, dan satu pagi pukul 06.15 WIB yang ia ulangi setiap hari.
