Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Melawan Peringkat Minat Baca, Pustakawan Honorer Sumpiuh Menebar “Virus Literasi”

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Penulis: Dania Anggita Nirmalaningtyas | Editor: Cahya Anggraeni

Sumber dokumentasi: Dokumentasi probadi narasumber.

BANYUMAS, SudutNalar – Dari setiap seribu orang di Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca. Menurut UNESCO, indeks minat baca Indonesia hanya 0,001. Bagi kebanyakan orang, angka itu mungkin sekadar statistik. Namun, bagi Warastuti Any Anggorowati (51), pustakawan sekolah dasar di Kecamatan Sumpiuh, angka itu adalah tantangan yang harus dijawab.

Kabar tentang rendahnya minat baca bangsa membuatnya sangat terpukul. Any sudah 16 tahun mengabdi sebagai pustakawan dengan status honorer. Tugas sehari-harinya, yakni membuat anak-anak mencintai perpustakaan dan buku. Ia bertekad menyebarkan “virus literasi” kepada masyarakat tanpa Batasan.

Mulanya hanya angan-angan. Saat mata enggan terpejam di malam hari, ia membayangkan sudut baca di setiap perkantoran, tempat keramaian, tempat rekreasi, dan di mana pun orang berkumpul. “Saat itu aku hanya bisa berandai-andai,” ujarnya.

Angan itu mulai terwujud pada 2015. Di Kelurahan Kebokura, Any menggelar lesehan di tepi sawah yang menghadap hamparan hijau yang membentang luas. Ia menamai Griya Baca Jelita “Jendela Literasi Tanah Air”. Bukunya ia kumpulkan dari hibah dan proposal yang ia ajukan.

Tempat yang indah ternyata belum cukup, orang bisa bosan. Any lalu mengisi Griya Baca Jelita dengan suara. Setiap hari pukul 4 hingga 8, anak-anak berlatih tari, lagu daerah, puisi, pidato, pantomim, dan macapat untuk lomba seni tingkat sekolah hingga provinsi. Selepas latihan, mereka berebut untuk meminjam buku.

Setiap Jumat siang, giliran para ibu lansia melantunkan tembang Jawa dengan suara mendayu. Sorenya, ibu-ibu muda berlatih lagu perjuangan. Pekerjaan rumah anak-anak pun dikerjakan sambil bernyanyi, syair lagu anak-anak diubah dengan rumus dan kalimat pelajaran hingga cepat hafal.

Namun, tidak semua orang menyambutnya. “Zaman canggih kok mendirikan griya baca, buka handphone saja semuanya sudah bisa terlihat,” begitu olok-olok yang pernah ia dengar. Any hanya tersenyum.

Saat taman bacanya sepi, terutama pada Minggu dan hari libur, ia menenteng 100 buku dan buka lapak di taman kota serta tempat rekreasi.

“Kalau bukan kita yang bergerak, lantas siapa lagi?” ujar Any.

Sumber dokumentasi: Dokumentasi pribadi narasumber.

Pada Desember 2016, Perpustakaan Nasional memberi Griya Baca Jelita bantuan buku senilai Rp75 juta. Honor Any saat itu Rp300.000 per bulan, jadi nilai bantuan tersebut setara honor selama lebih dari 20 tahun. “Tak kuasa aku menangis bahagia,” ucapnya haru. Buku sudah ada, tetapi rak belum. Ia mengkredit rak buku tiga susun di toko mebel, dicicil setahun dari honor yang sama.

Di sekolah tempatnya mengabdi, tantangannya berbeda. Tidak ada gedung perpustakaan di sekolah tersebut. Any menjawabnya dengan enam kotak berukuran 50 × 40 cm, satu untuk setiap kelas dengan enam duta baca dari kelas empat sampai enam.

Pukul 06.15 WIB, ketika sekolah masih lengang, ia dan duta baca sudah menata buku. Kotak kelas satu dan dua berisi buku bergambar. Kotak kelas tinggi berisi buku pengolahan sampah, kriya, kaligrafi, dan olahraga. Para duta baca mengantar kotak ke kelas, membagikan buku, dan menjaga suasana selama 15 menit sebelum bel masuk. Anak-anak membaca di taman sekolah atau di depan kelas seraya menghirup udara pegunungan. Selesai membaca, buku kembali ke kotak.

“Perpustakaan zaman sekarang tidak harus bergedung, yang penting bergerak dan menggerakkan anak-anak.”

Kerja kerasnya perlahan terdengar. Any meraih juara pertama Lomba Karya Nyata Dinas Pendidikan Banyumas pada 2015 dan diundang berbuka bersama Presiden pada 2018. Pada 2025 dan 2026, Griya Baca Jelita menerima 1.000 buku dan rak dari Perpusnas RI serta 700 eksemplar Al-Qur’an wakaf yang dibagikan ke perpustakaan sekolah dan masjid.

“Zaman canggih,” kata mereka. Any menjawabnya tanpa kata-kata tetapi dengan aksi nyata. Seratus buku, enam kotak, dan satu pagi pukul 06.15 WIB yang ia ulangi setiap hari.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme