Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Matahari Belum Terbit Sempurna, Semangat Kartinah Terus Menyala di Usia Yang Tak Lagi Muda

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by shafrifa aulia

sudutnalar.com, 08 Oktober 2026

Penulis: Zahrotun Nabilah

Potret Kartinah saat berjualan keliling di Desa Gondang pada pagi hari (Dok: Zahrotun Nabilah)

PURBALINGGA,  SUDUTNALAR – Jam dinding di rumah Kartinah baru menunjukkan pukul dua pagi ketika ia kembali bangun dari tidurnya. Di pagi yang masih sunyi, wanita berusia 67 tahun itu sudah berada di dapur menyiapkan adonan gorengan dan jalabia untuk berjualan di pagi hari nanti. Beberapa saat kemudian, setelah azan subuh berkumandang ia mulai menata dagangannya sebelum dibawa keliling desa.

Saat matahari perlahan mulai menyinari bumi, sekitar pukul 6 pagi Kartinah sudah berada di jalan menawarkan dagangannya dari satu rumah ke rumah lain. Ia menggendong sebagian dagangan, dan sebagian yang lain ia tenteng di kedua tangannya. Dalam waktu kurang lebih satu jam, dagangannya sudah habis tak bersisa. Ia menjalani kegiatan tersebut setiap hari sejak 10 tahun yang lalu.

“Kalau bukan karena butuh uang, saya sudah enggan untuk berjualan lagi, capek sudah tua,” ujar Kartinah.

Kalimat tersebut terlihat sederhana, namun menyimpan makna yang mendalam. Di balik senyum dan dagangan yang ia bawa setiap pagi, ada tubuh yang lelah, waktu tidur yang sebentar, serta tuntutan ekonomi yang tidak pernah berhenti.  

Kartinah memilih berjalan kaki menyambangi pembeli dari satu rumah ke rumah lain karena ia tidak memiliki tempat yang strategis untuk membuka warung. Selain itu, ia juga merasa dengan berjualan keliling dagangannya lebih laris karena pembeli tidak perlu pergi jauh untuk membeli sarapan.

Satu langkah demi langkah ia bawa menyusuri jalanan di Desa Gondang, hingga tanpa ia sadari langkah kaki kecilnya membawa ia sejauh 2 km dari rumahnya.

Pilihannya untuk berjualan keliling tidak selalu mudah, terlebih saat musim hujan tiba ia harus menggunakan payung sambil tetap membawa dagangan di kedua tangannya. Jalanan yang basah dan dagangan yang harus dibawa membuat perjalanannya terasa semakin berat.

Di bawah rintik hujan yang terus berjatuhan, wanita asal Purbalingga tersebut tetap menemukan berkah di setiap tetesannya. Menurutnya, saat hujan tiba dagangan justru lebih cepat habis dari hari-hari biasanya, banyak warga yang lebih memilih tinggal di rumah dan enggan untuk mencari sarapan di luar.

“Kalau hujan memang susah karena harus bawa payung juga. Tapi saya bersyukur, saat hujan biasanya lebih cepat habis karena orang-orang tetap di rumah,” ujarnya.

Hari yang Tak Pernah Berhenti

Satu hari dalam hidup Kartinah tidak berhenti setelah jualan pagi selesai. Selayaknya ibu rumah tangga pada umumnya, ia juga tetap membersihkan rumah. Beristirahat sebentar, kemudian dilanjut dengan membuat tempe bersama suaminya, kegiatan yang sudah ia jalani hampir separuh umurnya.

Usaha pembuatan tempe ini sudah Kartinah dan suami jalani sekitar 25 tahun lamanya. Usaha yang ia mulai dari kecil-kecilan hingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekarang. Banyak orang yang mencari tempe buatan Kartinah, sehingga ia tidak perlu melangkahkan kaki untuk menawarkan tempe buatannya. Terkadang, ia juga memberikan kesempatan pada orang-orang yang ingin menjadi reseller tempenya.

Kartinah saat mempersiapkan sebagian dagangannya di malam hari (Dok: Zahrotun Nabilah)

Saat matahari sudah bergeser ke arah barat dan mulai meninggalkan langit bergantian dengan bulan, ibu dari 3 anak tersebut mulai menyiapkan beberapa menu untuk dijual esok hari. Ia memulai persiapan sampai pembuatan meniran dan kue lapis hingga larut malam. Aktivitasnya dalam satu hari baru benar-benar selesai sekitar pukul 22.00. Setelah itu, ia menikmati tidurnya yang hanya sebentar sebelum kembali bangun pukul dua dini hari.

Siklus tersebut terus berulang hampir setiap hari di kehidupan Kartinah. Ia melakukan semua itu tentu dibantu oleh suami tercinta yang sudah bersamanya puluhan tahun. Mulai dari dapur, jalan ke rumah-rumah warga, hingga kembali lagi ke dapur, waktunya nyaris selalu terisi oleh pekerjaan.

Rezeki yang Disyukuri

Di tengah padatnya kegiatan Kartinah dalam satu hari, ia tetap tidak melalaikan kewajibannya pada Sang Pencipta. Ia masih menyempatkan waktu untuk beribadah ke masjid, mengikuti pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Semangat Kartinah dalam menjalani setiap kegiatannya tidak datang dari tuntutan ekonomi saja. Ia percaya bahwa kekuatan untuk terus menjalani hari juga berasal dari pertolongan Yang Maha Kuasa.

Berapapun hasil yang diperoleh ia tetap bersyukur. Baginya, rezeki dari usaha yang ia jalani adalah buah dari kerja keras yang patut disyukuri.

Ia mengaku bahwa alasan untuk terus berdagang karena kebutuhan hidup yang tidak berhenti hanya pada makanan sehari-hari. Banyak kebutuhan tak terduga yang kadang nominalnya lebih besar dan tidak dapat diprediksi.

“Saya masih berdagang untuk memenuhi kebutuhan yang tak terduga. Kalau kebutuhan untuk makan tidak seberapa,” ungkapnya.

Harapan dan Doa

Meski tubuhnya sudah mulai lelah, Kartinah belum ingin berhenti. Ia berharap Sang Maha Kuasa terus memberinya kesehatan, panjang umur, dan keselamatan agar dapat terus menjalani kegiatan serta mencari rezeki untuk keluarganya.

“Semoga saya tetap diberi kesehatan, panjang umur, slamet waras, dan semangat supaya bisa terus berjualan,” harapnya dalam bahasa Jawa.

Di balik langkah kaki yang ia bawa menyusuri dusun setiap pagi, Kartinah membawa lebih dari sekadar gorengan, jajanan, dan meniran. Ia membawa semangat, tanggung jawab, dan harapan akan kerja kerasnya kelak menjadi rezeki yang berkah.

Dari kisah Kartinah menunjukkan bahwa semangat berusaha tidak berpatok  usia. Hal ini seharusnya memberikan tamparan kepada generasi muda yang masih lebih nyaman dengan tempat tidurnya. Dengan tangan yang terus bergerak dan hati yang penuh akan rasa syukur, Kartinah membuktikan bahwa perjuangan sederhana dapat menjadi kekuatan yang besar bagi kehidupan. 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme