
Seorang pembeli sedang memindai kode QRIS untuk membayar belanjaan di sebuah warung. (Sumber: Antara Foto/Abdan Syakura/AGR)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Pembayaran dengan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kini menjadi bagian dari keseharian mahasiswa. Enam tahun setelah pandemi COVID-19, mahasiswa yang dahulu masih duduk di bangku SMP itu semakin jarang membawa uang tunai dan mengandalkan pembayaran digital untuk berbelanja dan mengirim uang.
Keempat mahasiswa yang diwawancarai menggunakan QRIS atau dompet digital untuk kebutuhan sehari-hari. Dua di antaranya menyatakan tidak ingin meninggalkan pembayaran digital, meskipun tetap mewaspadai risikonya, seperti pengeluaran yang menjadi lebih boros dan gangguan pada aplikasi.
Kebiasaan itu sejalan dengan data nasional. Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS pada semester I 2026 mencapai 12,55 miliar transaksi atau sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta pedagang, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Pemicu para mahasiswa mulai memakai QRIS berbeda-beda. Aurelia Az Zahra, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2025, mulai menggunakannya sejak SMA setelah memiliki saldo di dompet digital dan melihat kantin menyediakan QRIS. Cahya Wulan, mahasiswa Teknologi Pendidikan angkatan 2026, juga mulai memakainya saat SMA karena semakin banyak orang dan penjual yang menggunakannya. Sementara itu, Rahmah Dya, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2025, mulai memakainya setelah kuliah karena uang saku dari orang tuanya dikirim melalui transfer. Adapun, Citra Rahma Latifah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2025, mulai menggunakannya pada awal kuliah karena kini lebih banyak tempat yang menerima pembayaran tersebut.
Kemudahan menjadi alasan utama mereka tetap menggunakan QRIS. Aurelia menilai QRIS mengubah cara bertransaksinya hampir seratus persen. Kini, ia nyaris tidak menyimpan uang tunai, kecuali pecahan seribu atau dua ribu rupiah. Ia menggunakan QRIS untuk hampir semua transaksi dan tidak akan kembali ke cara lama karena pembayaran digital dinilainya jauh lebih mudah. Rahmah mengatakan ponsel memudahkannya berbelanja dan mengirim uang ke berbagai tujuan, sedangkan Cahya menyebut transaksi menjadi lebih cepat.
Di sisi lain, pembayaran tanpa uang tunai dinilai membuat pengeluaran kurang terkontrol. “Pembayaran digital terkadang membuat saya kurang terasa saat mengeluarkan uang sehingga lebih mudah boros,” ujar Citra, yang memakai QRIS untuk membeli makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari. Cahya juga mengaku pengeluarannya menjadi lebih boros karena pembayaran terasa lebih mudah.
Selain soal pengeluaran, sebagian mahasiswa sempat mengkhawatirkan keamanan saldo. Rahmah mengaku sesekali takut aplikasi bermasalah sehingga saldonya hilang. Aurelia pernah mendengar kabar bahwa saldo dapat “tersedot” saat menggunakan QRIS, tetapi ia menilai kabar itu tidak benar. Kendala lain yang ia sebut adalah kebutuhan akan paket data.
Karena itu, uang tunai belum sepenuhnya ditinggalkan. Citra tetap membawanya untuk berjaga-jaga jika pembayaran QRIS mengalami kendala. Rahmah dan Cahya juga masih menggunakannya, meskipun kini lebih sering membayar secara digital. Citra menegaskan bahwa ia tetap ingin menggunakan QRIS karena memudahkan. “Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, jadi yang penting adalah menggunakannya dengan bijak dan tidak terlalu bergantung padanya,” tuturnya.
Penulis : Anisa Naila Shafa
Editor : Jihan Ardelia Az Zahra
