
(Foto: Dokumentasi Pribadi)
Purwokerto—Seminar kepenulisan Sastra Citta bertajuk “Menulis dengan Pena, Meriah Cita yang Bermakna” menghadirkan penulis Luluk HF sebagai pemateri di Aula Bambang Lelono, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Minggu (13/9/2026). Seminar tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa dan siswa untuk mengenal proses kepenulisan serta mendorong keberanian dalam memulai sebuah karya.
Seminar diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2024, 2025, dan 2026, mahasiswa Unsoed dari program studi lain, serta siswa dari beberapa sekolah, salah satunya MAN 1 Banyumas. Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia dan unsur UKM serta HIMA Fakultas Ilmu Budaya turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Dalam seminar tersebut, Luluk HF membahas cara menulis novel dan cerpen. Materi disampaikan dengan mengenalkan proses kepenulisan sekaligus membagikan pengalaman Luluk HF dalam membangun perjalanan sebagai penulis. Penyampaian tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa menghasilkan sebuah karya membutuhkan proses yang bertahap.
Pengalaman Luluk HF dalam mengembangkan karya juga menjadi bagian yang menarik bagi peserta. Salah satu karyanya, Mariposa, yang diterbitkan sebagai novel pada 2018, kemudian diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama pada 2020. Adaptasi tersebut menjadi salah satu contoh bahwa karya yang bermula dari tulisan dapat berkembang ke bentuk karya lain.
Bagi peserta, pengalaman yang dibagikan Luluk HF memberikan pengetahuan mengenai tantangan dalam mempertahankan kebiasaan membaca dan menulis. Arif, salah satu peserta seminar, mengatakan bahwa materi yang disampaikan membuatnya memperoleh pemahaman baru mengenai cara menghadapi rasa malas dalam membaca maupun menulis.
“Hal baru yang saya dapat adalah bagaimana cara kita menghadapi ketika kita malas nulis atau membaca novel,” ujar Arif.
Selain pemaparan materi, peserta juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi melalui sesi tanya jawab. Peserta menunjukkan respons aktif dengan mengacungkan tangan ketika ingin menyampaikan pertanyaan kepada Luluk HF. Menurut Arif, Luluk HF menyampaikan materi dengan jelas, mulai dari perkenalan hingga cerita mengenai perjalanan kepenulisannya.
Rangkaian seminar berlangsung melalui pembukaan, penampilan, penyampaian materi, sesi tanya jawab, dan penutup. Kegiatan berjalan lancar dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung dari seorang penulis.
Bagi Arif, seminar tersebut memberikan kesan bahwa proses menghasilkan sebuah karya tidak berlangsung secara instan. Pengalaman Luluk HF dalam menulis menjadi gambaran bagi peserta bahwa sebuah karya membutuhkan waktu dan usaha sebelum dapat berkembang lebih jauh.
Seminar Kepenulisan Sastra Citta pun tidak hanya menjadi ruang untuk membahas cara menulis novel dan cerpen, tetapi juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat proses di balik lahirnya sebuah karya. Bagi peserta, pengalaman tersebut menjadi dorongan untuk lebih berani memulai dan mengembangkan tulisan.
Penulis: Azzahra Maulida Afandy
Editor: Aulia Qolbu Ghoefira
