Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Lubang Jalan dan Kreativitas yang Terpaksa Lahir

Posted on September 21, 2026September 21, 2026 by akt 24
(Sumber: Dokumentasi Pribadi/K.A)

Purwokerto-Ada pemandangan yang menarik perhatian di sebuah ruas jalan: sesosok “pengendara” mengenakan helm dan jaket, terperosok setengah badan ke dalam lubang jalan yang menganga. Bukan korban kecelakaan sungguhan, melainkan boneka rakitan warga, lengkap dengan lingkaran cat putih di sekelilingnya sebagai penanda bahaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika saluran pengaduan resmi dirasa lambat, warga memilih menciptakan cara sendiri yang lebih cepat menarik perhatian agar jalan rusak segera diperbaiki.

Cara semacam ini sebenarnya cukup sering ditemui di berbagai kota di Indonesia. Warga kerap menandai jalan rusak dengan cara kreatif, misalnya menanam pohon pisang di tengah lubang, memasang bendera kecil, atau seperti dalam foto ini, meletakkan sosok manusia tiruan yang seolah terjatuh. Pesannya kurang lebih sama, yaitu titik ini berbahaya dan sudah cukup lama belum diperbaiki.

Munculnya kreasi semacam ini tidak lepas dari pengalaman warga terhadap proses pelaporan resmi yang sering terasa lambat. Idealnya, laporan jalan rusak cukup disampaikan lewat aplikasi pengaduan atau surat ke dinas terkait. Namun pada praktiknya, tidak sedikit laporan yang butuh waktu lama untuk ditindaklanjuti, sementara jalan berlubang tetap berisiko menimbulkan kecelakaan, mulai dari ban pecah, motor oleng, hingga korban jiwa.

Boneka yang tampak jatuh di lubang jalan ini bisa dilihat sebagai bentuk partisipasi warga yang wajar, bukan tindakan iseng semata. Dengan menghadirkan sosok “manusia” di titik berbahaya,

warga mengajak siapa pun yang melintas, termasuk pihak berwenang, untuk lebih menyadari bahwa risiko tersebut nyata dan bisa dialami siapa saja. Cara ini terbukti lebih cepat menarik perhatian publik dibanding jalur pelaporan formal yang berbelit.

Kreativitas warga dalam menandai jalan rusak sejatinya adalah sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk terus memperbaiki sistem pengaduan infrastruktur, agar laporan warga dapat ditindaklanjuti lebih cepat dan jelas waktunya. Jalan berlubang bukan sekadar soal tampilan, melainkan menyangkut keselamatan banyak orang. Selama perbaikan belum merata, kemungkinan besar kita masih akan menjumpai kreasi serupa di sudut sudut jalan kota, sebagai pengingat sederhana dari warga agar keluhan mereka benar benar didengar.

Penulis : Kuat Aldiyanto

Editor: Ridwan Ahmad Fauzi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme