
PURWOKERTO, SUDUT NALAR – Liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada harga dan penjualan sejumlah bahan pangan. Berkurangnya permintaan dari dapur penyedia makanan MBG menyebabkan harga telur dan daging ayam mengalami penurunan.
Riva, pemilik warung, mengatakan harga bahan pangan sebelum program MBG libur cenderung tinggi dan stabil karena adanya permintaan rutin dari dapur penyedia makanan MBG.
“Sebelum MBG libur, harga bahan pangan secara umum berada di level tinggi dan stabil akibat tingginya permintaan rutin dari dapur penyedia makanan di sekolah,” kata Riva.
Saat MBG libur, permintaan dari dapur penyedia makanan terhenti. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan bahan pangan di pasar meningkat sehingga harga mengalami penurunan. Harga telur ayam turun sekitar Rp1.000–Rp2.000 per kilogram, dari sekitar Rp27.000 menjadi Rp25.000–Rp26.000 per kilogram. Sementara itu, harga daging ayam turun sekitar Rp1.000–Rp3.000 per kilogram, dari Rp30.000–Rp31.000 menjadi Rp28.000–Rp29.000 per kilogram.
“Penurunan harga terjadi karena permintaan dari dapur MBG terhenti mendadak, sehingga pasokan melimpah di pasar,” ujar Riva.
Penurunan permintaan juga berdampak pada penjualan pedagang dan pemasok. Hilangnya pesanan rutin dalam jumlah besar dari dapur MBG menyebabkan volume penjualan bahan pangan ikut menurun.
Menurut Riva, telur dan daging ayam menjadi komoditas yang paling terasa perubahan harga dan permintaannya karena keduanya merupakan sumber protein yang umum digunakan dalam menu MBG.
Ketika MBG kembali aktif, harga bahan pangan kembali meningkat seiring dengan naiknya permintaan. “Sangat berkaitan, karena naik-turunnya harga dan volume penjualan komoditas pangan tersebut berdampak langsung dari siklus operasional program MBG,” kata Riva.
Namun, perubahan harga pangan tidak hanya dipengaruhi oleh MBG. Biaya distribusi dan transportasi, kondisi cuaca, serta harga pakan ternak dan pupuk juga dapat memengaruhi harga bahan pangan di pasaran.
Penulis :Malika Ilmanafi Hanun Huwaidaa
Editor :Resti Larasati A.R
