sudutnalar.com, 9 Oktober 2026
Oleh : Farah Celsea Fadhilah

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Dulu, berdiri dan berbicara di depan banyak orang bukanlah hal yang mudah bagi Sheva terutama saat dirinya duduk di bangku MTs. Kata-kata yang ingin ia ungkapkan sempat kali tertahan karena kurangnya rasa percaya diri. Beberapa kali ia masih merasa gugup dan terbata-bata ketika harus berbicara di depan kelas.
Namun, keadaan tersebut perlahan berubah pada masa SMA. Ia mulai terbiasa berbicara di depan banyak orang. Dari yang awalnya merasa kurang percaya diri, ia belajar untuk memahami yang ingin disampaikan dengan kata-katanya sendiri.
“Awalnya, saya sendiri bila berbicara didepan umum sedikit terbata-bata, tetapi lama-kelamaan saya mulai percaya diri,” ujar Sheva.
Perubahan yang dialaminya tidak terjadi begitu saja. Selain rasa gugup, Sheva juga mempunyai kendala penglihatan jarak jauh ketika melihat tulisan pada layar presentasi. Situasi tersebut membuatnya tidak selalu mengandalkan materi yang ditampilkan melalui PowerPoint (PPT). Namun, Sheva ia tidak melihat kendala yang dialaminya sebagai kesulitan. Ia menjadikannya sebagai peluang Sheva untuk belajar memahami materi pembelajaran, misalnya saat presentasi. Ia tidak bergantung pada media teks yang tersedia di PPT.
“Kekurangan saya bukan menjadi sebuah penghalang untuk belajar, melainkan saya bisa menjadikannya sebuah peluang untuk lebih baik lagi dalam belajar,” ujarnya.
Dari pengalamannya ini ia belajar untuk terus berkembang. Ia mulai mengikuti beberapa seperti, lomba menyanyi yang diselenggarakan Universitas Airlangga pada tahun 2024 dan Olimpiade Psikologi tahun 2025. Ia berhasil meraih juara favorit di kedua lomba tersebut. Meski demikian, pengalaman paling berkesan saat mengikuti lomba bukan semata-mata soal penghargaan yang diperoleh. Baginya, mengikuti lomba adalah pengalaman menghadapi rasa takut akan kegagalan serta keluar dari zona nyaman. .
Selain memiliki kisah dalam mengikuti berbagai lomba, Sheva juga memiliki perjalanan pendidikan yang tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan rencana. Sejak kecil, ia telah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gajah Mada (UGM). Ketika memasuki SMA, keinginannya berfokus untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Psikologi.
Kesempatan untuk berkuliah di UGM, bahkan sempat terbuka ketika Sheva dinyatakan lolos SNBT pada tahun 2026. Namun, kesempatan tersebut tidak dapat diambil karena tidak direstui oleh orang tuanya. Kondisi dirinya yang terkadang kurang fit juga menjadi salah satu pertimbangannya.
Kini, Sheva menjalani pendidikan di Universitas Wijayakusuma Purwokerto pada Program Studi Administrasi Publik. Pilihan tersebut bukanlah tujuan awal yang pernah ia bayangkan. Rasa sedih karena tidak dapat belajar Psikologi masih sempat muncul. Perlahan ia mencoba melihat sisi lain dari jalan yang sedang dijalaninya.
Di Program Studi Administrasi Publik, Sheva mulai belajar memahami kebijakan pemerintah dan berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Ia merasa dirinya menjadi lebih kritis dan terdorong untuk mencari tahu alasan di balik suatu permasalahan. Baginya, jurusan yang kini dijalani tetap memberikan ruang untuk belajar dan berkembang.
Perjalanan tersebut membuat Sheva memahami bahwa pendidikan tidak selalu membawa seseorang menuju tempat yang pertama kali diinginkan. Ada kalanya sebuah jalan berubah, tetapi perubahan tersebut tidak harus menjadi alasan untuk berhenti.
Ia berpesan, ketika suatu saat merasa lelah dalam menjalani pendidikan, Sheva memilih mengingat perjuangan orang tuanya dan perjalanan yang telah dilaluinya. Ia menyadari bahwa dirinya sudah berjalan cukup jauh untuk sampai pada titik sekarang.
“Tetaplah bersemangat untuk menjalankan apa yang sudah ditakdirkan oleh untukmu. Ingatlah, setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Jadi, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain,” kata Sheva.
