SudutNalar.com, 8 Oktober 2026

CILACAP, SudutNalar – Pukul 03.00, saat sebagian besar warga Cimanggu masih terlelap, Parjo (81) sudah terjaga. Bersama istrinya, ia salat tahajud, lalu mengaji hingga azan subuh berkumandang. Begitulah hari-hari pasangan lanjut usia itu dimulai, dari dini hari ketika langit masih gelap.
Selepas salat subuh di masjid, hari Parjo belum selesai. Sekitar pukul 06.00 atau 07.00, ia bersiap menuju hutan. Istrinya tinggal di rumah, menyiapkan kedelai yang kelak menjadi tempe. Parjo berjalan kaki sekitar dua kilometer seorang diri untuk mencari daun pembungkus tempe.
Di hutan, udara pagi masih sejuk. Ia sering kali melihat ular di sana. Pernah pula ia mengalami kejadian yang terasa horor, meski kini ia menduga itu hanya halusinasi. Hujan juga pernah mengguyurnya di tengah jalan. Namun ia tak pernah tersesat, ia merasa sudah lama dan terbiasa bermain ke hutan.
Sebelum membuat tempe, Parjo adalah pengrajin kayu. Ia mencari kayu di hutan untuk dijadikan mainan anak-anak, kentongan, dan aneka kerajinan lain. Ketika usahanya mulai sepi, ia beralih ke tempe berbungkus daun. Ilmunya ia pelajari sendiri.
Sampai di rumah, Parjo tak menunda pekerjaan. Daun langsung dibersihkan, sebab kedelai yang disiapkan istrinya sudah menunggu. Ia tinggal membantu membungkus, dan tempe pun mulai tersusun satu per satu. Biasanya mereka membuat 5 sampai 8 kilogram tempe.
Hanya sang istri yang berjualan, dan hanya di pasar, tanpa berkeliling. Satu ikat berisi delapan bungkus kecil dihargai Rp6.000. Berapa yang laku tak pernah pasti, namun saat ada yang tersisa biasanya dibagikan kepada saudara dan tetangga. “Sayang kalau dibuang,” ujarnya. Dari hasil berjualan itulah mereka memenuhi kebutuhan berdua.
Pilihannya pada daun bukan tanpa alasan. “Lebih murah, jadi ga perlu beli plastik. Rasanya juga lebih enak,” kata Parjo. Dengan daun, ia tak perlu mengeluarkan uang untuk bahan pembungkus, sehingga modal usahanya lebih hemat.
Usia 81 tahun membuat tubuhnya kini kurus dan mulai bungkuk. Daun pun tak selalu mudah didapat. Kadang ia pulang hanya membawa sedikit. Bila begitu, sisa kedelai yang belum terbungkus dibungkus dengan plastik yang ia beli.
Ditemui di rumahnya, Parjo duduk di lantai beralas tikar anyaman biru-hijau, memeluk lututnya. Peci hitam bertengger di kepalanya, jaket hijau zaitun membungkus tubuhnya yang kurus dan bungkuk. Di belakangnya, bantal-bantal bersarung bunga bertumpuk di sudut kamar berdinding putih polos.
Parjo punya anak. Namun ia dan istrinya merasa anak-anak memiliki kebutuhan masing-masing, sehingga tak ingin merepotkan mereka. Anaknya pernah memintanya berhenti. Parjo menolak.
“Kalau berhenti, terus ada kebutuhan yang kurang, kan gaenak ya mau minta lagi,” katanya. “Selagi masih sehat, ya yaudah jalanin aja.”
Anak dan cucunya semua merantau, jauh dari rumah. Di rumah, ia hanya berdua dengan istri. Dari usaha tempe ini, ia bersyukur bisa memenuhi kebutuhan mereka berdua. Parjo mengaku tak pernah berpikir untuk menyerah, karena ia bahagia mengerjakannya bersama sang istri.
Harapannya sederhana, yaitu kesehatan dan kekuatan bagi dirinya dan istri untuk menjalani hidup dan usaha tempe ini, serta kesehatan bagi anak cucunya yang jauh, dan waktu bagi mereka untuk pulang. “Nggak ada yang lebih bahagia dari berkumpulnya seluruh keluarga, semuanya sehat,” ujarnya.
“Saya dari dulu tuh ga malu gitu. Pekerjaan apa pun saya mau, asalkan halal dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.
Dua kilometer itu ia tempuh dengan tubuh rentanya, yang ia cari di ujung perjalanan bukan sekadar selembar daun, melainkan cara agar di usia senja tetap berdiri di atas kaki sendiri, tanpa membebani anak-anaknya.
Penulis: Khalisa Anti Meilani
