Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Langkah Kaki Darsono dan Sebuah Gerobak Es Cau

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by calista aneen

sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Oleh : Ratu Gustav Verlian

Darsono menyiapkan pesanan es cau di depan SMP Negeri 2 Ajibarang. (Sumber: Ratu Gustav Verlian)

AJIBARANG, SUDUTNALAR — Pukul sembilan pagi, Darsono mulai mendorong gerobak es cau—sebutan setempat untuk es cincau hijau—menyusuri jalanan Ajibarang. Deru kendaraan yang melintas menemani perjalanan pria berusia 63 tahun tersebut. Kedua tangannya masih kuat bertumpu pada kayu pegangan gerobak. Ia selalu berhati-hati saat berada di jalanan menurun agar gerobak masih dalam kendalinya. Dari Desa Kracak, ia menempuh jarak tiga kilometer sebelum sampai di tempat berjualan.

Sekitar satu jam kemudian, Darsono tiba di lapaknya yaitu di depan SMP Negeri 2 Ajibarang. Setelah para siswa pulang, ia melanjutkan perjalanan menuju pertigaan Desa Pandansari.

Satu porsi es cau dijual seharga Rp4.000. Bagi anak-anak sekolah, Darsono menetapkan harga Rp3.000. Ia selalu bertemu pembeli yang datang silih berganti, mulai dari pelajar yang baru mengenal dagangannya hingga pelanggan lama yang masih mengingatnya.

Darsono mulai berjualan pada 1991. Ketika itu, satu porsi esnya masih dihargai Rp25. Kini, lebih dari tiga dekade telah berlalu, harga es cau telah berubah. Namun, rasa dan kualitas masih dipertahankan sampai sekarang.

“Dari dulu saya jualan ini ga berubah-ubah. Alhamdulillah banyak yang suka. Bedanya itu di harganya aja, tergantung zamannya juga,” ujarnya.

Bekal dari Cijantung

Sebelum membuka usaha sendiri, Darsono pernah bekerja pada seorang pemilik usaha es cau di Cijantung, Jakarta Timur. Di sana, ia belajar menyiapkan es cau. Setelah kembali ke kampung halaman, ia menggunakan keterampilan tersebut hingga sekarang menjadi sumber rezekinya.

Darsono tidak mempunyai pegawai, tetapi dibantu sang istri untuk menyiapkan bahan dagangan sejak pukul setengah lima pagi. Cau, cendol, es, santan, dan gula merah disiapkan sebelum Darsono berangkat membawa gerobak.

Berjalan Kaki Bukan Hambatan

Setelah berjualan hingga pukul tiga sore, Darsono kembali mendorong gerobaknya menuju Desa Kracak. Tiga kilometer yang ditempuh pada pagi hari harus ia lalui lagi sebelum sampai di rumah.

Ketika ditanya tentang rasa lelah, Darsono tidak menyangkalnya. “Ya namanya tenaga pasti capek,” ujarnya.

Namun, ia belum memiliki rencana untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Berjualan es cau sudah dijalaninya selama bertahun-tahun. Untuk mencoba usaha lain, Darsono merasa belum mempunyai pengalaman yang cukup.

“Orang kayak saya belum punya pengalaman, cuma lulusan SD mau usaha apa lagi? Yang penting bagi saya mah asal bisa buat menghidupi keluarga,” tuturnya.

Sembari menuangkan cau ke dalam gelas, Darsono bercerita tentang keinginannya untuk berjualan menggunakan sepeda motor.

“Udah ada rencana mau jualan pakai motor, tapi memang belum saja,” ujarnya.

Selama rencana itu belum terwujud, ia tetap membawa gerobaknya menuju lapak setiap pagi. Baginya, menjalani usaha harus sesuai dengan kemampuan dan jangan dipaksakan.

Pelanggan yang Masih Mengingat

Berjualan es cau mempertemukan Darsono dengan pembeli dari berbagai generasi. Sebagian mengenalnya ketika masih duduk di bangku SMP. Setelah dewasa dan memiliki keluarga, mereka tetap mengingat penjual es cau tersebut.

“Banyak yang udah punya anak, bahkan ada yang udah punya cucu. Dari zaman mereka masih sekolah di SMP dulu, sampai sekarang mereka masih ingat saya,” kenangnya.

Darsono hanya menamatkan pendidikan di sekolah dasar. Namun, dari gerobak es cau yang didorongnya setiap hari, ia bisa mengantarkan anaknya hingga bangku kuliah.

“Yang bikin saya senang itu sederhana. Kebutuhan anak istri tercukupi, bisa makan, dan bisa jajan. Alhamdulillah, anak saya yang terakhir sekarang juga lagi kuliah di STIKes Purwokerto,” ujarnya sambil tersenyum dan menyerahkan sebungkus es cau kepada pembeli.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme