sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Ratu Gustav Verlian

Darsono menyiapkan pesanan es cau di depan SMP Negeri 2 Ajibarang. (Sumber: Ratu Gustav Verlian)
AJIBARANG, SUDUTNALAR — Pukul sembilan pagi, Darsono mulai mendorong gerobak es cau—sebutan setempat untuk es cincau hijau—menyusuri jalanan Ajibarang. Deru kendaraan yang melintas menemani perjalanan pria berusia 63 tahun tersebut. Kedua tangannya masih kuat bertumpu pada kayu pegangan gerobak. Ia selalu berhati-hati saat berada di jalanan menurun agar gerobak masih dalam kendalinya. Dari Desa Kracak, ia menempuh jarak tiga kilometer sebelum sampai di tempat berjualan.
Sekitar satu jam kemudian, Darsono tiba di lapaknya yaitu di depan SMP Negeri 2 Ajibarang. Setelah para siswa pulang, ia melanjutkan perjalanan menuju pertigaan Desa Pandansari.
Satu porsi es cau dijual seharga Rp4.000. Bagi anak-anak sekolah, Darsono menetapkan harga Rp3.000. Ia selalu bertemu pembeli yang datang silih berganti, mulai dari pelajar yang baru mengenal dagangannya hingga pelanggan lama yang masih mengingatnya.
Darsono mulai berjualan pada 1991. Ketika itu, satu porsi esnya masih dihargai Rp25. Kini, lebih dari tiga dekade telah berlalu, harga es cau telah berubah. Namun, rasa dan kualitas masih dipertahankan sampai sekarang.
“Dari dulu saya jualan ini ga berubah-ubah. Alhamdulillah banyak yang suka. Bedanya itu di harganya aja, tergantung zamannya juga,” ujarnya.
Bekal dari Cijantung
Sebelum membuka usaha sendiri, Darsono pernah bekerja pada seorang pemilik usaha es cau di Cijantung, Jakarta Timur. Di sana, ia belajar menyiapkan es cau. Setelah kembali ke kampung halaman, ia menggunakan keterampilan tersebut hingga sekarang menjadi sumber rezekinya.
Darsono tidak mempunyai pegawai, tetapi dibantu sang istri untuk menyiapkan bahan dagangan sejak pukul setengah lima pagi. Cau, cendol, es, santan, dan gula merah disiapkan sebelum Darsono berangkat membawa gerobak.
Berjalan Kaki Bukan Hambatan
Setelah berjualan hingga pukul tiga sore, Darsono kembali mendorong gerobaknya menuju Desa Kracak. Tiga kilometer yang ditempuh pada pagi hari harus ia lalui lagi sebelum sampai di rumah.
Ketika ditanya tentang rasa lelah, Darsono tidak menyangkalnya. “Ya namanya tenaga pasti capek,” ujarnya.
Namun, ia belum memiliki rencana untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Berjualan es cau sudah dijalaninya selama bertahun-tahun. Untuk mencoba usaha lain, Darsono merasa belum mempunyai pengalaman yang cukup.
“Orang kayak saya belum punya pengalaman, cuma lulusan SD mau usaha apa lagi? Yang penting bagi saya mah asal bisa buat menghidupi keluarga,” tuturnya.
Sembari menuangkan cau ke dalam gelas, Darsono bercerita tentang keinginannya untuk berjualan menggunakan sepeda motor.
“Udah ada rencana mau jualan pakai motor, tapi memang belum saja,” ujarnya.
Selama rencana itu belum terwujud, ia tetap membawa gerobaknya menuju lapak setiap pagi. Baginya, menjalani usaha harus sesuai dengan kemampuan dan jangan dipaksakan.
Pelanggan yang Masih Mengingat
Berjualan es cau mempertemukan Darsono dengan pembeli dari berbagai generasi. Sebagian mengenalnya ketika masih duduk di bangku SMP. Setelah dewasa dan memiliki keluarga, mereka tetap mengingat penjual es cau tersebut.
“Banyak yang udah punya anak, bahkan ada yang udah punya cucu. Dari zaman mereka masih sekolah di SMP dulu, sampai sekarang mereka masih ingat saya,” kenangnya.
Darsono hanya menamatkan pendidikan di sekolah dasar. Namun, dari gerobak es cau yang didorongnya setiap hari, ia bisa mengantarkan anaknya hingga bangku kuliah.
“Yang bikin saya senang itu sederhana. Kebutuhan anak istri tercukupi, bisa makan, dan bisa jajan. Alhamdulillah, anak saya yang terakhir sekarang juga lagi kuliah di STIKes Purwokerto,” ujarnya sambil tersenyum dan menyerahkan sebungkus es cau kepada pembeli.
