
Seporsi Kupat Glabed dengan siraman kuah kuning kental yang disajikan bersama sate. (Sumber: Instagram @dolantegal)
Tegal — Di tengah gempuran kuliner modern yang terus bermunculan, Kupat Glabed masih mampu mempertahankan tempatnya di hati warga Tegal dan sekitarnya. Kuliner berkuah kuning kental ini menjadi salah satu ikon kuliner khas Tegal yang banyak diburu wisatawan, terutama saat berkunjung ke kota bertajuk “Kota Bahari” tersebut.
Kupat Glabed merupakan hidangan berbahan dasar ketupat yang disiram kuah kental berwarna kuning kecokelatan, terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan bumbu rempah seperti kunyit, bawang, dan ketumbar. Nama “glabed” sendiri diambil dari tekstur kuahnya yang kental dan lengket, sesuai dengan istilah lokal “ngglabed” yang berarti kental.
Salah satu warung yang masih bertahan menjajakan kuliner ini adalah warung milik Bapak Imron (55), yang telah berjualan Kupat Glabed selama lebih dari dua puluh tahun di kawasan Jalan Cendrawasih, Kelurahan Randugunting, Kota Tegal.
Ditemui di warungnya pada Rabu (12/9), Bapak Imron bercerita bahwa resep yang ia gunakan merupakan warisan turun-temurun dari ibunya.
“Saya jualan ini dari tahun 2003, resepnya dari almarhumah ibu saya. Yang bikin susah itu bikin kuahnya, harus terus diaduk biar santannya nggak pecah dan kentalnya pas, nggak terlalu encer, nggak terlalu keras juga,” ujar Pak Imron.
Dalam sehari, warung Pak Imron mampu menghabiskan sekitar 100 hingga 150 porsi Kupat Glabed, dengan harga yang dibanderol mulai dari Rp10.000 per porsi. Pelanggannya pun beragam, mulai dari warga sekitar, pekerja kantoran, hingga wisatawan luar kota yang sengaja mampir saat singgah di Tegal.
“Yang beli macem-macem, ada yang emang orang sini, ada juga yang dari luar kota, katanya penasaran soalnya sering lihat di media sosial. Biasanya mereka beli buat oleh-oleh juga, tapi Kupat Glabed kan nggak tahan lama, jadi kalau mau bawa pulang harus langsung dimakan hari itu,” tambahnya.
Salah satu pelanggan setia, Rian (27), mengaku selalu menyempatkan diri mampir ke warung tersebut setiap kali pulang kampung ke Tegal.
“Rasanya beda, gurihnya khas, apalagi kalau ditambah sate kerang atau tahu aci sebagai pelengkap. Ini kuliner yang bikin kangen kampung halaman,” katanya.
Dalam penyajiannya, Kupat Glabed jarang dihidangkan sendirian. Seporsi Kupat Glabed umumnya dilengkapi dengan aneka sate-satean yang berjajar di etalase warung, mulai dari sate kerang, sate ati, hingga sate telur puyuh. Pembeli bebas memilih sendiri lauk pendamping sesuai selera, dan jumlah tusuk sate yang diambil akan menentukan total harga yang dibayarkan.
“Kebanyakan yang beli pasti ambil satenya juga, paling laris itu sate kerang sama telur puyuh. Kalau Kupat Glabed doang kan kurang lengkap rasanya, jadi memang sudah satu paket dari dulu,” jelas Pak Imron sambil menata tusukan sate di etalase warungnya.

Aneka sate-satean seperti sate kerang, sate ati, dan sate telur puyuh yang menjadi pelengkap wajib Kupat Glabed. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Meski tergolong kuliner sederhana, Kupat Glabed kini mulai dilirik sebagai bagian dari promosi wisata kuliner Tegal. Beberapa warung bahkan sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan hidangan ini ke khalayak yang lebih luas.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Tegal, mencicipi Kupat Glabed langsung dari warung-warung legendaris seperti milik Pak Imron bisa menjadi pengalaman kuliner yang autentik sekaligus cara untuk mengenal lebih dekat kekayaan gastronomi kota ini.
Reporter: Handaru Arya Adhyasta | Editor: Fauzan Haris Wiarso
