Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Kupat Glabed, Kuliner Legendaris Tegal yang Tetap Diburu Meski Zaman Berubah

Posted on September 15, 2026September 15, 2026 by Hanunah Mumtaz

Seporsi Kupat Glabed dengan siraman kuah kuning kental yang disajikan bersama sate. (Sumber: Instagram @dolantegal)

Tegal — Di tengah gempuran kuliner modern yang terus bermunculan, Kupat Glabed masih mampu mempertahankan tempatnya di hati warga Tegal dan sekitarnya. Kuliner berkuah kuning kental ini menjadi salah satu ikon kuliner khas Tegal yang banyak diburu wisatawan, terutama saat berkunjung ke kota bertajuk “Kota Bahari” tersebut.

Kupat Glabed merupakan hidangan berbahan dasar ketupat yang disiram kuah kental berwarna kuning kecokelatan, terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan bumbu rempah seperti kunyit, bawang, dan ketumbar. Nama “glabed” sendiri diambil dari tekstur kuahnya yang kental dan lengket, sesuai dengan istilah lokal “ngglabed” yang berarti kental.

Salah satu warung yang masih bertahan menjajakan kuliner ini adalah warung milik Bapak Imron (55), yang telah berjualan Kupat Glabed selama lebih dari dua puluh tahun di kawasan Jalan Cendrawasih, Kelurahan Randugunting, Kota Tegal.

Ditemui di warungnya pada Rabu (12/9), Bapak Imron bercerita bahwa resep yang ia gunakan merupakan warisan turun-temurun dari ibunya.

“Saya jualan ini dari tahun 2003, resepnya dari almarhumah ibu saya. Yang bikin susah itu bikin kuahnya, harus terus diaduk biar santannya nggak pecah dan kentalnya pas, nggak terlalu encer, nggak terlalu keras juga,” ujar Pak Imron.

Dalam sehari, warung Pak Imron mampu menghabiskan sekitar 100 hingga 150 porsi Kupat Glabed, dengan harga yang dibanderol mulai dari Rp10.000 per porsi. Pelanggannya pun beragam, mulai dari warga sekitar, pekerja kantoran, hingga wisatawan luar kota yang sengaja mampir saat singgah di Tegal.

“Yang beli macem-macem, ada yang emang orang sini, ada juga yang dari luar kota, katanya penasaran soalnya sering lihat di media sosial. Biasanya mereka beli buat oleh-oleh juga, tapi Kupat Glabed kan nggak tahan lama, jadi kalau mau bawa pulang harus langsung dimakan hari itu,” tambahnya.

Salah satu pelanggan setia, Rian (27), mengaku selalu menyempatkan diri mampir ke warung tersebut setiap kali pulang kampung ke Tegal.

“Rasanya beda, gurihnya khas, apalagi kalau ditambah sate kerang atau tahu aci sebagai pelengkap. Ini kuliner yang bikin kangen kampung halaman,” katanya.

Dalam penyajiannya, Kupat Glabed jarang dihidangkan sendirian. Seporsi Kupat Glabed umumnya dilengkapi dengan aneka sate-satean yang berjajar di etalase warung, mulai dari sate kerang, sate ati, hingga sate telur puyuh. Pembeli bebas memilih sendiri lauk pendamping sesuai selera, dan jumlah tusuk sate yang diambil akan menentukan total harga yang dibayarkan.

“Kebanyakan yang beli pasti ambil satenya juga, paling laris itu sate kerang sama telur puyuh. Kalau Kupat Glabed doang kan kurang lengkap rasanya, jadi memang sudah satu paket dari dulu,” jelas Pak Imron sambil menata tusukan sate di etalase warungnya.

Aneka sate-satean seperti sate kerang, sate ati, dan sate telur puyuh yang menjadi pelengkap wajib Kupat Glabed. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Meski tergolong kuliner sederhana, Kupat Glabed kini mulai dilirik sebagai bagian dari promosi wisata kuliner Tegal. Beberapa warung bahkan sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan hidangan ini ke khalayak yang lebih luas.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Tegal, mencicipi Kupat Glabed langsung dari warung-warung legendaris seperti milik Pak Imron bisa menjadi pengalaman kuliner yang autentik sekaligus cara untuk mengenal lebih dekat kekayaan gastronomi kota ini.

Reporter: Handaru Arya Adhyasta | Editor: Fauzan Haris Wiarso

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme