
Mahasiswa Papua UNSOED menampilkan pertunjukan tari saat kegiatan CFD di GOR Satria Purwokerto, Minggu (13/09/2026). (Foto: Kayla Fadilla)
PURWOKERTO, Sudutnalar.com – Mahasiswa Papua dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) menampilkan pertunjukan tari dalam kegiatan Car Free Day (CFD) di GOR Satria Purwokerto, Minggu (13/09/2026). Selain menjadi wadah berekspresi, aktivitas tersebut dilakukan untuk menggalang dana bagi kebutuhan malam keakraban (Makrab) Himpunan Mahasiswa Papua (HIMAPA) di Purwokerto.
Adelia Sikowai, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan UNSOED Angkatan 2022 asal Papua, mengatakan tidak ada tema khusus yang diusung dalam penampilan dance tersebut. Penggalangan dana menjadi tujuan utama mereka mengikuti kegiatan CFD.
“Gaada tema, tujuannya untuk pencairan dana,” ujar Adelia.
GOR Satria dipilih sebagai lokasi karena ramai dikunjungi masyarakat saat kegiatan CFD. Selain itu, berbagai komunitas turut beraktivitas di kawasan tersebut sehingga memberikan kesempatan bagi mahasiswa Papua untuk menampilkan tarian di ruang publik.
“Karena kondisi situasinya yang ramai pengunjung, ada kegiatan senam-senam dari komunitas lain juga dan mendukung untuk strategi tempatnya,” jelas Adelia.
Kedekatan dengan seni tari telah diperkenalkan sejak usia dini dalam kehidupan masyarakat Papua. Adelia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh orang tua, terutama melalui tarian adat. Sementara itu, dirinya mulai menekuni tari modern sejak duduk di bangku SMP.
Dalam pertunjukannya, kelompok tersebut mengandalkan gerakan yang energik dan penuh semangat. Unsur budaya Papua juga dihadirkan melalui perpaduan tarian dari wilayah pegunungan dan pesisir.
Adelia mengatakan beberapa tarian dari Papua pegunungan dipadukan dengan Yosim Pancar yang berasal dari wilayah pesisir Papua. Perpaduan tersebut menjadi bagian dari tarian yang mereka bawakan dalam kegiatan CFD.
“Pastinya ada, karena ada beberapa tarian yang berasal dari Papua pegunungan, ada juga tarian Yosim Pancar berasal dari Papua bagian pesisir. Keduanya dikolaborasikan dalam satu,” katanya.
Persiapan dilakukan sejak beberapa hari sebelum jadwal tampil. Adelia menyebut latihan biasanya dimulai pada hari Selasa apabila mereka dijadwalkan tampil pada hari Minggu. Latihan tersebut dilakukan untuk mempersiapkan gerakan sebelum tampil di hadapan masyarakat.
Tampil di ruang publik menjadi tantangan tersendiri bagi para penari. Rasa malu dan gugup sempat muncul, tetapi pengalaman tampil membuat mereka semakin terbiasa.
“Tantangannya lebih ke malu, gugup, tapi karena sudah terbiasa tampil jadi enjoy,” ungkap Adelia.
Respons positif juga diterima dari masyarakat yang menyaksikan pertunjukan tersebut. Antusiasme pengunjung membuat para penari semakin percaya diri untuk berkarya sekaligus memperkenalkan seni Papua.
“Sejauh ini Masyarakat antusias dan menerima, jadi kita juga makin percaya diri dan santai”, tutur Adelia.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mahasiswa Papua UNSOED memanfaatkan ruang publik untuk berkesenian sekaligus mendukung kebutuhan organisasi. Perpaduan tarian dari wilayah pegunungan dan pesisir Papua turut menjadi sarana untuk memperkenalkan keragaman seni Papua kepada masyarakat Purwokerto.
Penulis : Kayla Fadilla
Editor : Lelyana Dwi Maharani
