Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Kisah Seniman Nyentrik Titut Edy Purwanto yang Memilih Berbagi Hidup Tanpa Pamrih Demi Menjaga Kemuliaan Leluhur

Posted on September 23, 2026September 23, 2026 by zulfa izaz
Mbah Titut saat mengekspresikan totalitas karya seninya dalam gelaran Jeram Festival 5 2026 di Karanglewas, Sabtu (19/09/2026). (foto: Hayudya Komalashinta)

KARANGLEWAS, SudutNalar – Budayawan sekaligus seniman asal Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Titut Edy Purwanto atau akrab disapa Mbah Titut, genap berusia 62 tahun pada 18 Agustus 2026. Pria berpenampilan nyentrik dengan rambut gimbal khasnya ini menegaskan bahwa ia tidak pernah merasa kesepian meski menempuh jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang.

Bagi pensiunan pekerja perkebunan, hidup di dalam sunyi justru menjadi sarana mencari ketenangan batin untuk menemukan titik kehidupan yang hakiki. Kesunyian itu ia cari agar tetap merasakan kedamaian sekaligus jernih dalam menangkap setiap pesan semesta. 

“Jadi, sunyi itu yang Mbah Titut cari. Dan di dalam keramaian, diluar pikuk sebuah kehidupan, di situ juga bisa menemukan sunyi. Di mana kehidupan itu bisa indah ketika orang di mana pun bisa menemukan sunyi. Di mana kehidupan itu bisa indah ketika orang di mana pun bisa menemukan kesunyian di dalam diri untuk bertemu, menikmati getar-getar semesta,” ungkap Mbah Titut.

Di tengah masyarakat yang kerap lelah mengejar materi dan jabatan, Mbah Titut memilih mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk melestarikan seni tradisi tanpa pamrih materi.  Kebahagiaan yang membuatnya merasa utuh adalah prinsip bahwa hidup harus saling memberi. 

Di usia senjanya, ia berkomitmen mewariskan nilai keindahan, pengetahuan, dan pengalaman hidup agar generasi muda tetap mengenal kemuliaan para leluhur. Meski sempat merasakan ketakutan hidup seperti manusia pada umumnya, ketulusan berkarya membuat kebutuhan ekonominya selalu tercukupi melalui rezeki yang tak terduga.

Keteguhan prinsip tersebut selaras dengan motto hidup yang ia pasang di bio Instagram pribadinya: berkebun, berkesenian, dan bersahabat dengan alam. Mbah Titut memaknai prinsip ini sebagai cara mengontrol emosi dan meredam hawa nafsu serakah.

“Jadi, orang ketika menyapa alam, orang ketika menyatu dengan lingkungan alam, itu akan secara otomatis emosinya, nafsunya untuk menguasai, nafsunya untuk serakah itu akan reda. Nah, di sinilah letak bahwa saya harus ngecas. Ngecas saya itu dengan alam, menyapa lingkungan dengan berkebun,” tuturnya.

Kedekatan dengan alam itu melahirkan karya-karya seni berupa puisi dan lagu. Budayawan yang meyakini bakat seni lahir secara alami ini merasa garis hidupnya merupakan amanah takdir leluhur untuk menyampaikan pesan-pesan luhur melalui seni.

Saat ditanya mengenai bagaimana ia ingin dikenang kelak, Mbah Titut menegaskan dirinya tidak mencari panggung atau nama besar. Ia hanya ingin menjadi jembatan yang mengenalkan kebaikan serta warisan nilai-nilai keindahan masa lalu kepada generasi penerus.

Mbah Titut juga membagikan pandangannya tentang kehidupan setelah kematian, di mana semua manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah dan beristirahat dari hiruk-pikuk dunia. Baginya, tidak ada yang abadi selain perubahan, dan akhir dari perjalanan manusia adalah pulang.

“Yang saya cari adalah bagaimana orang itu bahagia. Bahagia itu sederhana. Asal syukurnya ada,” pungkas Mbah Titut menutup obrolan.

Reporter: Hayudya Komalashinta | Editor: Gevira Dewi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme