Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

KISAH MBAH RASMI DAN GURIHNYA BUBUR SUMSUM DAUN PISANG DI PASAR BADOG

Posted on Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Penulis: Dwi Najla Afiyah

Sumber foto: Dwi Najla Afiyah

PURBALINGGA, SUDUTNALAR– Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ketika sebagian besar warga masih terlelap, Mbah Rasmi (74) sudah duduk di sudut dapur rumahnya. Tangan keriputnya dengan telaten memarut kelapa satu per satu. Aroma santan dan gula merah mulai menyebar dari dapur sederhana itu, pertanda dimulainya rutinitas harian yang dijalani selama 26 tahun terakhir.

Mbah Rasmi adalah penjual bubur sumsum legendaris di Pasar Badog, Dusun Kedung Jampang, Desa Karangreja. Sejak tahun 2000, ia memperoleh penghasilan dari usaha kuliner tradisional itu. Usaha tersebut awalnya dirintis oleh anak keduanya, namun sempat terhenti karena sang anak mendapatkan pekerjaan lain. Tak ingin resep keluarga dan peluang usaha lenyap begitu saja, Mbah Rasmi pun membulatkan tekad untuk meneruskannya hingga sekarang. 

Sebelumnya Mbah Rasmi sempat berjualan gorengan untuk menambah penghasilan. Namun, karena faktor usia, akhirnnya ia memutuskan untuk fokus berjualan bubur sumsum saja. 

“Dulu sempat jualan gorengan juga untuk menambah penghasilan. Tetapi sekarang tenaga sudah berkurang, sudah sepuh. Jadi, saya memilih fokus jualan bubur sumsum saja yang penting telaten,” ujar Mbah Rasmi. 

Keterbatasan fisik di usia 74 tahun membuat Mbah Rasmi tidak bisa lagi memproduksi bubur sumsum dalam jumlah besar. Porsi yang ia buat kini tergolong sedikit. Meski demikian, ia tidak pernah mengurangi kualitas cita rasa yang ada. Setiap proses pembuatan dilakukan dengan ketelitian agar bubur yang dihasilkan tetap lembut dan gurih. 

Tahapan pembuatan bubur sumsum bahkan sudah dimulai sejak malam sebelumnya. Pada pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, Mbah Rasmi sudah mempersiapkan bahan-bahan, mulai dari melarutkan gula merah, mengemasnya ke dalam plastik-plastik kecil, hingga merapikan potongan daun pisang dan lidi sebagai pelengkap kemasan. Usai beristirahat beberapa jam, Mbah Rasmi kembali melanjutkan aktivitasnya pada pukul 03.00 dini hari. Di tengah dinginnya pagi, ia dengan telaten memarut kelapa, memeras santan segar, lalu mengaduk adonan tepung beras di atas tungku hingga matang sempurna.

Tepat pukul 05.30 Mbah Rasmi sudah duduk rapi di Pasar Badog. Di depannya sudah tersedia panci berisi bubur sumsum hangat yang siap disajikan. Menariknya, Mbah Rasmi tetap mempertahankan penggunaan kemasan tradisional untuk bubur sumsumnya. Ia tidak menggunakan styrofoam atau cup plastik, melainkan menggunakan lembaran daun pisang sebagai wadah. Aroma khas daun pisang yang layu terkena panasnya bubur sumsum justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli. 

Namun, kondisi pasar tidak selalu ramai. Ada kalanya ketika matahari sudah tinggi, dagangan Mbah Rasmi belum habis terjual. Ia memilih untuk berjalan kaki keliling dari rumah ke rumah. Mengingat keterbatasan tenaga, ia hanya sanggup berkeliling di sekitar permukiman dekat pasar dan rumahnya. Langkah kakinya yang pelan menyusuri gang-gang kecil untuk menawarkan dagangannya kepada warga sekitar.

Di usia senjanya, saat tubuh mulai ringkih dan waktunya untuk lebih banyak beristirahat di rumah, Mbah Rasmi justru memilih tetap produktif dan mandiri. Ia menolak menyerah pada keadaan. Semangat dan keteguhan hatinya menjadi inspirasi yang nyata.

Di tengah gempuran zaman serba instan, Mbah Rasmi tetap konsisten mempertahankan kuliner tradisional. Lewat kesederhanaan sebungkus bubur sumsum beralas daun pisang, ia tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang kerja keras dan kesabaran. Setiap pagi, ia bangun sebelum subuh, menyalakan kompor, dan menyiapkan semua bahan dengan tangannya sendiri. Tidak ada keluhan, hanya rasa syukur atas rezeki yang masih ia dapatkan. 

Bagi banyak warga sekitar, bubur sumsum Mbah Rasmi bukan sekadar camilan pagi. Rasanya yang khas dan cara penyajiannya yang sederhana mengingatkan mereka pada masa kecil. 

Kisah Mbah Rasmi mengingatkan kita bahwa usia hanyalah angka. Semangat untuk hidup mandiri dan bermanfaat adalah pilihan hati yang tidak akan pernah padam oleh waktu. 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme