Penulis: Dwi Najla Afiyah

Sumber foto: Dwi Najla Afiyah
PURBALINGGA, SUDUTNALAR– Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ketika sebagian besar warga masih terlelap, Mbah Rasmi (74) sudah duduk di sudut dapur rumahnya. Tangan keriputnya dengan telaten memarut kelapa satu per satu. Aroma santan dan gula merah mulai menyebar dari dapur sederhana itu, pertanda dimulainya rutinitas harian yang dijalani selama 26 tahun terakhir.
Mbah Rasmi adalah penjual bubur sumsum legendaris di Pasar Badog, Dusun Kedung Jampang, Desa Karangreja. Sejak tahun 2000, ia memperoleh penghasilan dari usaha kuliner tradisional itu. Usaha tersebut awalnya dirintis oleh anak keduanya, namun sempat terhenti karena sang anak mendapatkan pekerjaan lain. Tak ingin resep keluarga dan peluang usaha lenyap begitu saja, Mbah Rasmi pun membulatkan tekad untuk meneruskannya hingga sekarang.
Sebelumnya Mbah Rasmi sempat berjualan gorengan untuk menambah penghasilan. Namun, karena faktor usia, akhirnnya ia memutuskan untuk fokus berjualan bubur sumsum saja.
“Dulu sempat jualan gorengan juga untuk menambah penghasilan. Tetapi sekarang tenaga sudah berkurang, sudah sepuh. Jadi, saya memilih fokus jualan bubur sumsum saja yang penting telaten,” ujar Mbah Rasmi.
Keterbatasan fisik di usia 74 tahun membuat Mbah Rasmi tidak bisa lagi memproduksi bubur sumsum dalam jumlah besar. Porsi yang ia buat kini tergolong sedikit. Meski demikian, ia tidak pernah mengurangi kualitas cita rasa yang ada. Setiap proses pembuatan dilakukan dengan ketelitian agar bubur yang dihasilkan tetap lembut dan gurih.
Tahapan pembuatan bubur sumsum bahkan sudah dimulai sejak malam sebelumnya. Pada pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, Mbah Rasmi sudah mempersiapkan bahan-bahan, mulai dari melarutkan gula merah, mengemasnya ke dalam plastik-plastik kecil, hingga merapikan potongan daun pisang dan lidi sebagai pelengkap kemasan. Usai beristirahat beberapa jam, Mbah Rasmi kembali melanjutkan aktivitasnya pada pukul 03.00 dini hari. Di tengah dinginnya pagi, ia dengan telaten memarut kelapa, memeras santan segar, lalu mengaduk adonan tepung beras di atas tungku hingga matang sempurna.
Tepat pukul 05.30 Mbah Rasmi sudah duduk rapi di Pasar Badog. Di depannya sudah tersedia panci berisi bubur sumsum hangat yang siap disajikan. Menariknya, Mbah Rasmi tetap mempertahankan penggunaan kemasan tradisional untuk bubur sumsumnya. Ia tidak menggunakan styrofoam atau cup plastik, melainkan menggunakan lembaran daun pisang sebagai wadah. Aroma khas daun pisang yang layu terkena panasnya bubur sumsum justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli.
Namun, kondisi pasar tidak selalu ramai. Ada kalanya ketika matahari sudah tinggi, dagangan Mbah Rasmi belum habis terjual. Ia memilih untuk berjalan kaki keliling dari rumah ke rumah. Mengingat keterbatasan tenaga, ia hanya sanggup berkeliling di sekitar permukiman dekat pasar dan rumahnya. Langkah kakinya yang pelan menyusuri gang-gang kecil untuk menawarkan dagangannya kepada warga sekitar.
Di usia senjanya, saat tubuh mulai ringkih dan waktunya untuk lebih banyak beristirahat di rumah, Mbah Rasmi justru memilih tetap produktif dan mandiri. Ia menolak menyerah pada keadaan. Semangat dan keteguhan hatinya menjadi inspirasi yang nyata.
Di tengah gempuran zaman serba instan, Mbah Rasmi tetap konsisten mempertahankan kuliner tradisional. Lewat kesederhanaan sebungkus bubur sumsum beralas daun pisang, ia tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang kerja keras dan kesabaran. Setiap pagi, ia bangun sebelum subuh, menyalakan kompor, dan menyiapkan semua bahan dengan tangannya sendiri. Tidak ada keluhan, hanya rasa syukur atas rezeki yang masih ia dapatkan.
Bagi banyak warga sekitar, bubur sumsum Mbah Rasmi bukan sekadar camilan pagi. Rasanya yang khas dan cara penyajiannya yang sederhana mengingatkan mereka pada masa kecil.
Kisah Mbah Rasmi mengingatkan kita bahwa usia hanyalah angka. Semangat untuk hidup mandiri dan bermanfaat adalah pilihan hati yang tidak akan pernah padam oleh waktu.
