sudutnalar.com – 07 Oktober 2026
Penulis: Sabrynna Zahra Saraswati

(sudutnalar.com/Sumber: Foto Dok. Ahza Taradiva Pasha)
PURWOKERTO, SUDUT NALAR – Di tengah sibuknya dunia perkuliahan dan tugas yang silih berganti, Ahza Taradiva Pasha menyadari bahwa belajar Statistika tak lagi sama seperti saat ia duduk di bangku SMA. Materi yang semakin kompleks dengan tempo pembelajaran yang semakin cepat, membuat mahasiswa asal UNDIP tersebut perlu memahami materi secara mandiri.
Bagi mahasiswa yang akrab disapa Sasa tersebut, masa transisi yang ia alami membuatnya mulai mencari cara belajar yang menurutnya lebih efektif. Alih-alih langsung berfokus pada rumus dan cara mengerjakan soal, ia memilih memahami konsep terlebih dahulu.
“Menurut saya, permasalahannya bukan karena statistika itu sulit. Sebenarnya, mahasiswa kadang mampu memahami materi, tetapi mereka bingung harus mulai dari mana, konsep apa yang perlu dipahami, dan bagaimana para mahasiswa dapat latihan soal setelah memahami konsep tersebut,” ujar mahasiswa prodi Statistika tersebut.
Apa yang awalnya ia lakukan untuk membantu dirinya sendiri perlahan berkembang menjadi gagasan untuk membantu mahasiswa lain. Ia juga mengatakan sempat merasa resah apabila persoalan tersebut terus dibiarkan, maka para mahasiswa hanya akan belajar saat mendekati ujian. Padahal, statistika membutuhkan pemahaman konsep yang saling berhubungan.
Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa cara belajar yang selama ini ia gunakan mungkin juga dibutuhkan mahasiswa lain. Dari sanalah gagasan untuk membuat Statify mulai berkembang.
“Maka dari itu, daripada hanya menemukan cara belajar untuk diri saya sendiri, akan lebih bermanfaat ketika dapat dibagikan ke mahasiswa lain. Saya ingin membuat sebuah ruang belajar yang membantu mahasiswa, terutama mahasiswa semester awal melewati masa transisi dari SMA ke perkuliahan. Saya ingin mereka punya tempat untuk memahami konsep, berlatih, bertanya, dan mengulang materi tanpa harus selalu bergantung pada pembelajaran di kelas,” ujarnya.
Mengubah Gagasan Menjadi Ruang Belajar
Namun, mengubah gagasan untuk menjadi ruang belajar yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa bukanlah perkara sederhana bagi Sasa. Ia mengungkapkan perlu mencari cara supaya materi yang disusun tak sekadar kumpulan bahan belajar, tetapi juga memikirkan bagaimana materi tersebut disampaikan, bagaimana mahasiswa dapat berlatih, bertanya, hingga kembali mengulang pembelajaran setelah kelas selesai.
Kemudian, ia menggunakan prinsip “Understand, Practice, Review” sebagai dasar dalam menyusun kegiatan belajar di Statify. Selain materi dan latihan soal dari laman Statify, Sasa juga menggunakan media lainnya untuk mendukung kegiatan belajar para mahasiswa seperti Microsoft Teams untuk kegiatan kelas, WhatsApp untuk berdiskusi, hingga rekaman selama sesi kelas yang tersedia di laman Youtube.
“Akhirnya saya mencoba menyusun Statify berdasarkan prinsip yang sederhana, yaitu Understand, Practice, Review. Jadi, mahasiswa memahami konsep terlebih dahulu, kemudian berlatih, lalu mempunyai sumber untuk mengulang kembali materi,” ujar Sasa
Meskipun demikian, Sasa mengatakan laman tersebut belum sepenuhnya selesai dengan sempurna. Ia mengatakan masih terus melakukan evaluasi dan memperbaiki teknik belajar yang digunakan berdasarkan pengalaman selama menjalankan Statify.
“Prosesnya tentu tidak langsung sempurna. Saya masih terus mengevaluasi dan memperbaiki Statify berdasarkan pengalaman selama menjalankannya,” tuturnya.

(sudutnalar.com/ Sumber: Website Statify)
Berproses Melalui Statify
Perlahan, proses tersebut memperlihatkan alasan Sasa tetap mempertahankan Statify. Bukan semata-mata materi yang ia susun dapat digunakan oleh mahasiswa, melainkan melihat bagaimana para mahasiswa dapat berproses saat mengikuti kelas belajar yang ia bentuk.
Salah satu tanggapan yang paling berarti bagi Sasa adalah ketika mahasiswa merasa lebih memahami materi setelah belajar di Statify. Ia juga melihat bagaima[1] na mahasiswa mengikuti kelas, menggunakan materi, mengerjakan latihan, hingga kembali menonton rekaman pembelajaran.
Bagi Sasa, hal-hal sederhana tersebut menjadi tanda bahwa ruang belajar yang awalnya ia buat dari pengalaman pribadi mulai memiliki manfaat bagi orang lain.
“Sebenarnya yang membuat saya senang ketika mereka merasa lebih memahami materi setelah belajar melalui Statify. Ketika melihat ada mahasiswa yang mau mengikuti kelas, menggunakan materi, mengerjakan latihan, atau kembali menonton rekaman untuk belajar lagi, saya merasa bahwa apa yang saya buat ternyata memiliki manfaat. Dari situ saya semakin yakin bahwa Statify layak untuk terus dikembangkan,” ujar Sasa.
Menjadikan Statify sebagai Komunitas Belajar
Ke depannya, Sasa berharap Statify dapat berkembang menjadi komunitas belajar. Ia berharap semakin banyak mahasiswa dapat mengakses materi, mengikuti kelas, berlatih, dan berdiskusi tanpa merasa bahwa belajar Statistika harus selalu sulit atau mahal.
“Saya ingin lebih banyak mahasiswa yang bisa mendapatkan akses terhadap materi, latihan, kelas online, dan ruang diskusi tanpa merasa bahwa belajar statistika harus selalu mahal atau sulit diakses.” katanya.
Baginya, berbagi pengetahuan bukan sekadar membantu orang lain memahami materi. melainkan ia ingin membuat proses belajar menjadi sedikit lebih mudah bagi mahasiswa lain.
