Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Ketika Usia Tak Menghentikan Langkah untuk Tetap Bekerja

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com

Oleh: Tsany Putri Hardiyanti

Sumber: Tsany Putri Hardiyanti

BANJAR PATROMAN, SUDUTNALAR- Di tengah kendaraan yang keluar-masuk Rumah Makan Mergosari, Pak Sutomo berdiri di tepi jalan dengan rompi hijau terang yang melekat di tubuhnya. Tangannya sesekali terangkat memberi aba-aba kepada pengendara yang hendak memarkirkan kendaraan. Di sampingnya, sebuah tas kecil tersampir di pinggang, menjadi bagian dari perlengkapannya saat bekerja.

Usianya 57 tahun. Namun, bertambahnya usia tidak membuat Sutomo memilih untuk berhenti bekerja. Selama 12 tahun, ia menjalani pekerjaan sebagai tukang parkir. Panas matahari dan kendaraan yang datang silih berganti telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Ketika sebuah mobil memasuki area rumah makan, Sutomo segera mendekat. Ia mengarahkan kendaraan menuju tempat yang tersedia. Saat pengunjung selesai makan dan hendak pulang, ia kembali membantu mengatur kendaraan agar dapat keluar dengan aman.

Pekerjaan tersebut terlihat sederhana. Namun, bagi Sutomo, menjadi tukang parkir merupakan cara untuk tetap memperoleh penghasilan sekaligus mempertahankan kemandirian di usia senja.

Dalam sehari, penghasilan yang diperoleh Sutomo berkisar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu. Ketika kondisi rumah makan sedang ramai, penghasilannya bahkan dapat mencapai Rp300 ribu dalam sehari.

Jumlah tersebut memang tidak selalu sama. Ramainya pengunjung menjadi salah satu faktor yang menentukan pendapatannya. Semakin banyak kendaraan yang datang, semakin besar pula penghasilan yang bisa ia bawa pulang.

Meski memiliki tiga anak yang semuanya telah dewasa dan sukses, Sutomo tetap memilih bekerja. Ia tidak ingin masa tuanya hanya dihabiskan dengan meminta uang kepada anak-anaknya.

Baginya, selama tubuh masih mampu bekerja, ia ingin berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

β€œAnak-anak saya sudah besar dan semuanya sudah sukses. Mereka sebenarnya sudah melarang saya untuk bekerja, tetapi saya tidak ingin membebani mereka. Selama masih mampu, saya ingin tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya dan istri.” Ungkapnya.

Keputusan tersebut bukan berarti anak-anaknya tidak memperhatikan dirinya. Sutomo justru ingin menunjukkan bahwa dirinya masih mampu berdiri sendiri. Bekerja menjadi bentuk kemandirian yang ingin terus dipertahankannya.

Selama 12 tahun menjadi tukang parkir, Sutomo telah terbiasa menghadapi berbagai kondisi. Ada hari ketika pengunjung datang ramai dan penghasilannya meningkat. Ada pula saat kondisi lebih sepi sehingga pendapatannya tidak sebanyak biasanya.

Namun, ia tetap menjalani rutinitas yang sama.

Pagi hingga siang, ia berada di sekitar area parkir. Kendaraan datang dan pergi, sementara Sutomo terus menjalankan tugasnya. Sesekali ia harus berjalan menghampiri kendaraan yang baru tiba. Di waktu lain, ia berdiri menunggu pengunjung yang hendak meninggalkan rumah makan.

Bagi pengunjung, sosoknya mungkin hanya terlihat sebagai seorang tukang parkir yang membantu mengatur kendaraan. Tetapi di balik rompi hijau yang dikenakannya, terdapat perjuangan seorang ayah untuk tetap mandiri meskipun ketiga anaknya telah berhasil menjalani kehidupan masing-masing.

β€œKalau ada rezeki lebih, sesekali saya juga masih mengirim uang kepada anak-anak, meskipun tidak seberapa. Yang penting saya masih bisa membantu,” tutur Pak Sutomo.

Penghasilan dari parkir mungkin tidak selalu besar dan tidak selalu dapat dipastikan jumlahnya. Namun, setiap lembar uang yang diperoleh Sutomo merupakan hasil dari waktu dan tenaga yang ia keluarkan sepanjang hari.

Ketika rumah makan mulai lebih lengang, kendaraan yang terparkir pun perlahan berkurang. Sutomo masih berada di tempatnya. Ia menunggu kemungkinan kendaraan lain datang, sambil tetap memperhatikan kondisi sekitar.

Di usia 57 tahun, Sutomo memilih untuk tidak sepenuhnya menggantungkan hidup kepada tiga anaknya yang telah sukses. Ia memilih tetap bekerja selama masih mampu, meskipun pekerjaannya menuntutnya berdiri di bawah terik matahari dan menghadapi lalu lintas kendaraan setiap hari.

Bagi Sutomo, menjadi tukang parkir bukan sekadar menjaga kendaraan para pengunjung. Pekerjaan tersebut menjadi caranya untuk tetap mandiri dan memperoleh penghasilan. Selama masih mampu bekerja, ia memilih untuk terus berusaha daripada sepenuhnya bergantung kepada anak-anaknya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme