
PEMALANG, SUDUT NALAR- Suara pesanan pelanggan di balik meja kasir menjadi bagian dari keseharian Aghni. Sejak lulus dibangku SMA, perempuan yang kini duduk di semester tiga Jurusan Statistika, Universitas Terbuka. Menjalani rutinitas yang tidak mudah, ia harus menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa dan bekerja sebagai kasir di Seblak Mamih.
Aghni telah bekerja selama lebih dari satu tahun. Namun, keputusan untuk bekerja tidak pernah ada terencana sejak lulus SMA. “Awalnya iseng aja cari kerjaan setelah lulus, alhamdulillah ternyata diterima,” ujar Aghni.
Keputusan untuk bekerja berkaitan dengan rencana pendidikannya. Aghni sebenarnya ingin melanjutkan kuliah di luar kota. Namun, keinginannya tersebut tidak mendapat izin dari sang ibu. Alih-alih menghentikan langkah untuk melanjutkan pendidikan, Aghni memilih menetap di Pemalang dan menjalani kuliah sambil bekerja.
Pilihan tersebut membuat hari-hari Aghni diisi dengan dua kesibukan sekaligus. Sebagai kasir, ia bertugas melayani pembelian secara langsung maupun daring. Ia juga dipercaya membantu pekerjaan administrasi perusahaan.
Jam kerjanya terbagi dalam dua shift. Shift pertama berlangsung sekitar pukul 09.30 hingga 19.00, sedangkan shift siang dimulai pukul 13.00 hingga 22.00. Jadwal tersebut membuat Aghni harus pandai mencari waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah.
Ketika mendapat shift pertama, ia lebih banyak mengerjakan tugas pada malam hari. Sebaliknya, ketika mendapat shift siang, waktu pagi dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas kuliah. Fleksibilitas waktu kuliah di Universitas Terbuka turut membantunya menyesuaikan kedua kegiatan tersebut. Namun, membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah bukan perkara mudah. Aghni mengaku pernah menghadapi jadwal yang berbenturan.
Untuk mengatasinya, ia membuat jadwal dan batasan waktu agar dapat menentukan pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. “Tentu saja pernah. Saya selalu menyusun jadwal harian agar bisa menentukan prioritas tugas yang harus diselesaikan lebih dulu.” katanya.
Bagi Aghni, menyelesaikan tugas kuliah sekaligus menjalankan pekerjaan sudah menjadi pencapaian tersendiri. Ia mengakui bahwa secara akademik dirinya belum terlalu menonjol karena masih berada dalam tahap beradaptasi dengan ritme kuliah dan pekerjaan.
“Bisa menyelesaikan tugas kuliah dan kerja saja sudah menjadi pencapaian bagi saya,” tutur Aghni.
Kesibukan bekerja juga membuat Aghni harus melewatkan beberapa kesempatan di luar perkuliahan. Ia pernah ingin mengikuti kegiatan seminar. Namun, sebagian besar kegiatan tersebut berlangsung pada akhir pekan, sementara pekerjaan di bidang makanan dan minuman membuatnya sulit mendapatkan waktu libur pada hari tersebut.
Meski begitu, perjalanan Aghni tidak hanya berisi keterbatasan. Ada pula pengalaman yang membuatnya merasa mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Salah satunya ketika ia mengalami kesulitan mengerjakan tugas yang membutuhkan laptop.
Saat itu, atasannya menawarkan laptop yang sudah tidak terpakai kepadanya. Tawaran tersebut tidak pernah diduga sebelumnya oleh Aghni. Bantuan sederhana itu menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama ia menjalani bekerja di sana.
“Jujur nggak nyangka, tapi Allah selalu punya kejutan di setiap perjalanan,” ungkapnya.
Dari pekerjaan yang dijalani, Aghni tidak hanya mendapatkan penghasilan. Ia juga memperoleh pengalaman tentang manajemen waktu dan dunia bisnis. Ketertarikannya terhadap bisnis mulai tumbuh setelah lulus SMA. Bekerja di Seblak Mamih menjadi kesempatan baginya untuk mempelajari bisnis secara langsung.
Penghasilan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan kuliah, kebutuhan pribadi, dan kebutuhan rumah. Sementara itu, pengalaman mengatur waktu menjadi salah satu pelajaran penting yang ia rasakan selama menjalani dua tanggung jawab tersebut.
Di tengah perjalanan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana awal, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat menjadi salah satu alasan Aghni tetap bertahan. Ia mengaku banyak mendapatkan dukungan ketika merasa terpuruk karena gagal melanjutkan pendidikan di universitas yang diimpikannya.
Bagi Aghni, keputusan untuk menjalani kuliah sambil bekerja merupakan pilihan yang dibuat dengan kesadaran. Ketika rasa lelah dan kecewa datang, ia kembali mengingat alasan awal memilih jalan tersebut.
“Keputusan ini saya ambil dengan kesadaran penuh. Oleh karena itu, setiap kali merasa down, saya selalu mengingat kembali tujuan awal saya memulai perjalanan ini,” ujarnya.
Aghni tidak tahu seperti apa perjalanan yang akan dilaluinya setelah lulus nanti. Namun, ia berharap pengalaman bekerja sambil kuliah dapat membawanya menuju pekerjaan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan orang lain.
Di balik meja kasir Seblak Mamih, Aghni bukan hanya menghitung pesanan pelanggan. Ia juga sedang belajar menghitung langkah untuk masa depannya. Setiap shift yang dijalani, tugas yang diselesaikan, dan kesempatan yang terlewat menjadi bagian dari perjalanan yang suatu hari mungkin akan ia kenang sebagai proses menuju cita-citanya.
“Berhenti membandingkan diri sendiri dengan mereka yang berkuliah dengan dukungan penuh orang tua. Rezeki sudah diatur, jadi tetaplah kuat karena perjalanan masih panjang. Kebanyakan orang sukses justru berawal dari proses yang tidak mudah. Perjalanan yang terasa berat ini kelak bisa diceritakan dengan tawa bahagia.”
Penulis: Julie Putri Winasis
