sudutnalar.com – 22 September 2026
Penulis: Sabrynna Zahra Saraswati | Editor: Dwi Santika Sukmaningrum

(sudutnalar.com/Sumber: Foto Dokumentasi)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Melanjutkan jenjang ke perguruan tinggi merupakan sebuah perjalanan panjang yang ditempuh oleh Zukhairah Muhamad Rangkuti.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan lingkungannya terhadap pendidikan perempuan, hal tersebut tak memupuskan harapannya untuk terus mengejar cita-cita ke jenjang perguruan tinggi. Pilihannya tersebut kemudian membawanya menjadi mahasiswa program studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed.
Zukhairah, atau yang akrab disapa Zuha kini sedang menempuh perkuliahan semester tiga. Baginya, perjuangan yang ia lalui untuk sampai berada di titik ini tidak terjadi secara instan.
Keinginannya untuk terus menempuh pendidikan berawal saat Zuha melihat para perempuan di tempat tinggalnya memilih untuk menikah setelah menyelesaikan jenjang sekolah. Melihat hal tersebut, Zuha pun tergerak untuk memilih jalan yang berbeda, yakni melanjutkan pendidikan dan mencari pengalaman yang lebih luas.
“Menurut saya, hal yang paling membentuk diri saya untuk sampai berada di titik ini adalah perjalanan saya dalam mengejar pendidikan sih. Karena jujur benar-benar butuh perjuangan segala macam, caranya dapat izin orang tua, dan bagaimana cara meyakinkan orang-orang di tempat tinggal saya kalau perempuan itu juga harus dapat pendidikan meskipun di tempat saya pendidikan masih menjadi hal yang tabu,” ujar mahasiswa prodi manajemen tersebut.
Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan juga dihadapkan pada persoalan lain. Hambatan finansial sempat menjadi salah satu pertimbangan dalam melanjutkan pendidikannya. Akan tetapi, beasiswa KIP-K kemudian membantunya dalam melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Mencoba, Gagal, dan Kembali Bangkit
Perjalanannya dalam mengembangkan diri mulai terbentuk sejak duduk di bangku SMA. Saat itu, Zuha mulai mengenal dunia kompetisi dan belajar menemukan bidang yang ia sukai. Lingkungan sekolah yang kompetitif juga membuat ia terbiasa untuk terus beradaptasi dan berani mengembangkan kemampuannya.
“Hal yang paling berkesan itu waktu SMA sih, perjalanan dari masa SMA ke kuliah. Karena waktu SMA itu kan saya benar-benar diperkenalkan apa itu yang namanya kompetisi sesungguhnya, apa itu lomba segala macam, bagaimana cara mengetahui apa yang saya suka,” ujar Zuha.
Lingkungan sekolahnya membuat Zuha belajar bahwa kemampuan akademik saja tidak cukup. Maka dari itu, ia pun mulai belajar hingga terbiasa dalam menyampaikan pendapat dan aktif dalam berbagai kegiatan. Bekal tersebut kemudian ia bawa ketika masuk ke bangku perkuliahan.
Namun, dunia perkuliahan tidak seperti yang Zuha bayangkan. Memasuki semester pertama, Zuha mencoba untuk mengikuti berbagai ajang yang pernah ia ikuti saat SMA seperti kompetisi dan organisasi.
Akan tetapi, upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil sementara ia juga harus menghadapi berbagai tantangan, tekanan, dan kendala di semester ini, salah satunya saat menghadapi ujian akhir semester.
“Semester satu itu saya benar-benar lagi di titik terendah. Perjuangan saya di SMA buat masuk ke PTN favorit itu luar biasa, eh ternyata ga lolos gitu. Awal-awal di sini (Unsoed) saya juga memikirkan bagaimana cara menggunakan fasilitas universitas untuk mengembangkan diri saya karena sejujurnya saat itu saya masih sakit hati ditolak universitas favorit. Saya waktu itu juga pernah sekali ketinggalan UAS, benar-benar bikin mental saya down dan ga bisa berpikir jernih lagi.” ujarnya.
Saat berada di fase tersebut, kesempatan justru datang dari pihak eksternal. Bagi Zuha, kesempatan tersebut justru menjadi pengalaman yang membekas dan perlahan mengubah cara pandangnya akan Unsoed. Di saat yang sama, Zuha juga mulai menyadari bahwa perjalanan kuliahnya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan dalam kompetisi ataupun organisasi.
“Tapi, alhamdulillah entah bagaimana saya diberi surat ujian dari pihak eksternal supaya dapat kesempatan buat ikut ujian tersebut. Dari kejadian itu, akhirnya cara pandang saya terhadap universitas ini mulai berubah,” ujar Zuha.
Pengalaman tersebut kemudian membuat Zuha mulai melihat keberhasilan dari sudut pandang yang berbeda. Pengalaman semester pertama justru menyadarkannya bahwa kuliah juga merupakan bagian dari proses mengenali diri sendiri.
Belajar Memaknai Keberhasilan
Salah satu hal yang ia sadari adalah kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Zuha mengatakan bahwa ia pernah melihat teman-temannya memiliki keluarga yang mendukung dan finansial yang baik. Perbandingan tersebut justru membuatnya berpikir bahwa orang lain sangat mudah mencapai sesuatu, sementara dirinya perlu untuk berjuang lebih.
Seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami bahwa pencapaian yang terlihat di luar belum tentu memperlihatkan seluruh proses yang dilalui seseorang karena setiap orang memulai perjalanan awal yang berbeda.
Kini, bagi Zuha kuliah bukan lagi semata-mata tentang juara kompetisi atau mencapai sesuatu yang dapat dibandingkan dengan orang lain, melainkan sebagai proses mengenal diri, mengontrol diri, dan refleksi.
“Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain karena setiap orang itu kan punya jalannya masing-masing. Kita juga perlu perbanyak refleksi diri dan fokus pada apa yang bisa kita kontrol,”
Setelah melewati berbagai kegagalan dan pengalaman pahit, Zuha akhirnya memahami bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Hal yang dapat dilakukan adalah terus berkembang dan menjalani proses tanpa harus mengukur diri dengan pencapaian orang lain.

kerennnn