
(Sumber: Royhan Ar Roziq)
PURWOKERTO, Sudut Nalar — Sepuluh menit sebelum pendaftaran Duta FPIK Batch 2 ditutup pada 16 April 2026, Royhan Ar Roziq memutuskan untuk mendaftarkan diri. Royhan merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Jenderal Soedirman, angkatan 2025. Ia kemudian terpilih sebagai Duta Berbakat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Keputusan spontan itu didorong oleh keinginannya mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum dan menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan.
“Awalnya saya tidak berniat mendaftar sebagai calon duta. Namun, pada hari terakhir, sekitar sepuluh menit sebelum penutupan, saya baru mengirimkan pendaftaran. Saya berpikir panjang karena saya memiliki cita-cita untuk menjadi narasumber atau public speaker yang dapat mengisi berbagai kegiatan. Saat itu saya berpikir, ‘Wah, sepertinya Duta bisa menjadi wadah untuk mewujudkan tujuan saya.’ Dari situ saya spontan mendaftar meskipun waktunya hanya sekitar sepuluh menit sebelum penutupan,” ujar Royhan.
Keinginan menjadi pembicara bukan muncul secara tiba-tiba. Ketertarikan Royhan terhadap kemampuan berbicara di depan umum telah tumbuh sejak SMP. Memasuki masa SMA, ia aktif dalam Majelis Perwakilan Kelas dan menjadi Ketua Pramuka. Pengalaman berorganisasi berlanjut di perkuliahan melalui berbagai kepanitiaan, organisasi, dan kegiatan lain yang turut mengasah kemampuan komunikasinya.
Setelah terpilih sebagai Duta Berbakat FPIK, relasi Royhan semakin luas. Ia juga merasa memiliki tanggung jawab untuk menjadi contoh bagi mahasiswa FPIK. Peran baru ini menghadirkan pengalaman sekaligus tantangan, salah satunya ketika ia mendapat tugas membuat video perkenalan diri. Royhan mengaku belum terbiasa merekam dan menyunting video sehingga mendapat bantuan dari teman-temannya. Tantangan itu menjadi bagian dari prosesnya beradaptasi dengan tanggung jawab sebagai duta.
Kesibukan perkuliahan kemudian menjadi tantangan lain yang harus dihadapi Royhan. Praktikum semester tiga yang berlangsung lebih dari tiga kali dalam seminggu membuatnya perlu membagi perhatian antara kegiatan akademik dan tanggung jawab sebagai duta. Kondisi ini membuat konsistensi menjadi salah satu hal yang masih ia upayakan.
“Yang paling berat itu mungkin mempertahankan eksistensi. Untuk istikamah atau konsisten, itu sedikit berat. Saya mengakui bahwa terkadang saya tidak terlalu konsisten dengan berbagai kegiatan Duta. Di tengah kesibukan perkuliahan, terutama praktikum di semester tiga yang sangat banyak, terkadang saya terlena dengan kegiatan perkuliahan, bahkan lupa bahwa saya sebenarnya seorang Duta,” katanya.
Di tengah kesibukan itu, Royhan tetap memperoleh pengalaman yang berkesan sebagai duta. Salah satunya ketika ia dipercaya menjadi salah satu perwakilan FPIK dalam Parade Fakultas pada Soedirman Student Summit 2026. Ia mewakili mahasiswa FPIK di hadapan mahasiswa baru. Bagi Royhan, kesempatan itu menjadi bentuk kepercayaan untuk membawa nama fakultas sekaligus mendorong dirinya tampil lebih percaya diri.
Pengalaman sebagai duta juga memperkuat prinsip Royhan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Ia memegang prinsip “Khairunnas anfa‘uhum linnas” yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Menurutnya, menjadi duta bukan sekadar tentang dikenal oleh lebih banyak orang, tetapi juga tentang menjalankan peran dengan baik dan memberikan contoh bagi mahasiswa lain.
Royhan berpesan agar mahasiswa tidak takut mencoba berbagai hal selama masa perkuliahan. Ia memandang kegagalan sebagai bagian dari proses yang dapat memberikan pengalaman dan menjadi bahan untuk belajar. “Orang sukses itu sudah pasti pernah gagal, tetapi orang gagal itu belum tentu sukses,” pesannya.
Penulis: Nur Syifa Maulidia | Editor: Novika Lesy Rahmawati
