
Cilacap, 15 September 2026 — Musim kemarau yang berlangsung di Kabupaten Cilacap berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi. Warga harus menunggu pasokan air dari mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah sumber air dan sejumlah sumur warga mengalami penurunan debit.
Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat turut terdampak. Warga terlihat membawa berbagai wadah, mulai dari ember, jeriken, hingga galon, untuk menampung air yang didistribusikan. Antrean warga di sekitar lokasi penyaluran menjadi gambaran bagaimana air bersih menjadi kebutuhan yang semakin sulit diperoleh selama musim kemarau.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap telah mencatat Desa Karangkemiri sebagai salah satu wilayah yang terdampak kekeringan. Berdasarkan kaji cepat pada 15 Juni 2026, sebanyak 49 kepala keluarga atau 192 jiwa di Dusun Karangkemiri RT 05 RW 01 terdampak akibat menurunnya debit sumber air. Sejumlah sumur warga bahkan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan harian.
Kondisi kekurangan air tersebut juga bukan persoalan yang baru terjadi. Pada awal musim kemarau 2026, Desa Karangkemiri telah mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBD. Desa tersebut diketahui menjadi salah satu wilayah yang secara rutin menerima distribusi air bersih ketika musim kemarau tiba.
Hingga pertengahan Juni, BPBD Cilacap telah menyalurkan 20.000 liter air bersih ke Desa Karangkemiri. Distribusi dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mengurangi dampak kekeringan yang menyebabkan sebagian warga harus mencari sumber air dari lokasi yang lebih jauh.
Pada 5 Agustus 2026, bantuan air bersih juga kembali disalurkan ke Desa Karangkemiri. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cilacap mengirimkan dua unit tandon air bersih berkapasitas masing-masing 3.100 liter sebagai respons terhadap kondisi kekeringan yang masih berlangsung.
Situasi di Desa Karangkemiri menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya air untuk keperluan rumah tangga, tetapi juga memengaruhi rutinitas masyarakat. Ketika sumber air tidak lagi mencukupi, warga harus mengandalkan distribusi dari luar desa dan menyesuaikan penggunaan air berdasarkan kebutuhan yang paling mendesak.
Pemerintah dan berbagai lembaga terkait terus melakukan distribusi serta pemantauan kondisi sumber air. Di sisi lain, penguatan sarana penyediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan jangka menengah agar masyarakat di wilayah yang berulang kali terdampak kekeringan memiliki akses air yang lebih berkelanjutan.
Keterangan foto: Warga Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, mengantre untuk mendapatkan air bersih dari mobil tangki di tengah kondisi kekeringan musim kemarau, 15 September 2026.
Penulis: Navaryn Luna Fatika
Editor: Siti Nur Halimah
