sudutnalar.com, 11 September 2026

PURWOKERTO, SUDUT NALAR – Terletak di Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Curug Telu menawarkan pengalaman wisata air terjun yang menenangkan dan sarat pesona alami. Berbeda dengan kebanyakan lokasi curug yang hanya menampilkan satu aliran, Curug Telu sesuai namanya yang berarti “tiga” dalam bahasa Jawa menyuguhkan keindahan tiga air terjun sekaligus di dalam satu kawasan.
Sejak melangkah memasuki kawasan lembah, pengunjung langsung disambut oleh panorama alam yang asri. Aliran air terjun utama meluncur deras dari tebing batu yang kokoh dan bermuara di kolam alami berair jernih kehijauan. Vegetasi hijau yang rimbun, mulai dari aneka tanaman pakis hingga sulur liana, menyelimuti dinding-dinding tebing dan mempertegas atmosfer hutan tropis yang sejuk.
Di tepi kolam, bebatuan kali berukuran sedang hingga besar berserakan secara alami, menjadi titik favorit wisatawan untuk duduk bersantai maupun mengabadikan momen. Jauh dari kebisingan kota, suasana hening yang hanya diselingi deburan air dan suara satwa hutan menjadikannya tempat ideal untuk melepas penat.
Satu Lokasi, Tiga Air Terjun, dan Fungsi Ganda
Keunikan Curug Telu tidak semata terletak pada jumlah alirannya, tetapi juga kedekatan jarak antarketiganya. Wisatawan dapat mengeksplorasi seluruh titik dalam waktu singkat. Setiap air terjun memiliki karakteristik tersendiri, mulai dari yang berarus deras hingga aliran yang jatuh lebih tenang di celah bebatuan.


Di balik panorama eksotis tersebut, Curug Telu menyimpan cerita tentang keharmonisan antara pariwisata dan kehidupan agraris warga setempat. Hal ini terungkap dari penuturan Ibu Sari seorang pedagang yang telah bertahun-tahun berjualan di kawasan wisata tersebut.
Menurut Bu Sari, debit air yang mengalir di ketiga curug tidak sepenuhnya dipusatkan untuk atraksi wisata semata.
“Meski terlihat indah, aliran air di sini sebenarnya dibagi, Mas,” ungkap Bu Sari. “Sebagian besar debit air yang terlihat, terutama yang sedang ini, dialirkan untuk mengairi sawah-sawah warga di desa-desa bawah. Jadi, curug ini bukan hanya untuk rekreasi, tapi juga sumber kehidupan bagi pertanian.”
Fakta ini memberikan sudut pandang baru. Lanskap yang dinikmati wisatawan nyatanya merupakan bagian dari urat nadi irigasi warga. Sebuah bentuk tata kelola alam yang bijak, di mana kebutuhan rekreasi dan ketahanan pangan berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.
“Kami, para pedagang, dan juga warga desa, sangat bergantung pada aliran air ini. Jika pariwisata berjalan baik, kami juga terbantu. Dan jika pertanian berjalan lancar, ekonomi desa juga stabil,” tambah Bu Sari.
Fasilitas dan Aksesibilitas
Dari pusat Kota Purwokerto, kawasan ini dapat dijangkau dalam waktu sekitar 30 hingga 45 menit berkendara menyusuri jalur perbukitan yang menyuguhkan pemandangan sawah terasering.
Setibanya di lokasi, fasilitas penunjang tergolong cukup memadai, mencakup area parkir kendaraan, toilet umum, musala, dan warung-warung kuliner tradisional. Dari area parkir menuju titik air terjun, pengunjung perlu menuruni jalur anak tangga batu sekitar 5–10 menit, sehingga disarankan mengenakan alas kaki yang nyaman dan tidak licin.
Bagi para pencinta wisata alam, Curug Telu bukan sekadar pelepas lelah di akhir pekan, melainkan cerminan nyata tentang bagaimana manusia dan alam dapat hidup selaras saling menghidupi.
Penulis : Mohammad Faizal Ramadhani
Penyunting : Bakhrie Muhammad Noor
