
Penulis: Nabila Hannabel Kalila
KENDAL, SUDUTNALAR — Langit masih gelap ketika api mulai menyala di tanah lapang Desa Tejorejo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal. Asap tipis membumbung ke atas, membawa serta kain-kain lusuh, miniatur rumah dari alang-alang, dan boneka kayu berbentuk manusia. Di sekeliling bara, beberapa orang berdiri melingkar. Ada yang menunduk, ada yang menatap kosong ke arah nyala terakhir. Tidak ada yang bicara. Malam itu, kata-kata memang tidak lagi diperlukan.
Maulana Izzul Haq malam itu untuk pertama kalinya menyaksikan prosesi Kalang Obong. Tradisi kematian Suku Kalang ini masih bertahan di sebagian wilayah Kendal. Izzul datang bukan sebagai keluarga almarhum, melainkan sebagai tetangga yang penasaran dengan ritual yang sudah lama ia dengar, namun belum pernah dilihat langsung.
“Jujur saya tau tradisi kalang obong ini dengar dari cerita orang. Katanya ada tradisi bakar-bakar barang peninggalan orang meninggal. Nah dari itu, saya penasaran seperti apa sebenarnya tradisi ini,” kata Izzul.
Kalang Obong merupakan salah satu tradisi yang masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Kendal. Setidaknya terdapat empat kecamatan yang masih melestarikan tradisi ini, yaitu Kecamatan Ringinarum, Gemuh, Weleri, dan Rowosari.
Tradisi warisan Suku Kalang ini biasanya dilaksanakan pada peringatan tujuh hari atau satu tahun kematian. Keluarga menyiapkan benda-benda pribadi almarhum, seperti pakaian, tas, tempat tidur, hingga perhiasan. Benda-benda itu dibakar dalam prosesi “obong” sebagai bagian dari rangkaian adat.
Keluarga juga menyiapkan bangunan kecil menyerupai rumah dari alang-alang kering. Di dalamnya diletakkan patung setengah badan manusia (puspa) serta barang berharga milik almarhum. Bagi Suku Kalang, prosesi ini menjadi media komunikasi dengan arwah kerabat. Pembakaran sesaji dimaknai sebagai simbol penghapusan dosa almarhum dan penghormatan terakhir dari keluarga.
Izzul menyaksikan prosesi tersebut dalam peringatan satu tahun kematian seorang warga Suku Kalang. Tahlilan dimulai sejak sore di rumah duka. Menjelang tengah malam, keluarga membawa perlengkapan ritual ke halaman rumah. Pembakaran berlangsung dalam suasana sunyi hingga sekitar pukul 03.00, sebelum adzan Subuh berkumandang.
“Ada pakaian, kasur, miniatur rumah dari alang-alang, sama itu boneka kayu yang disebut puspa sebagai simbol pengganti diri almarhum,” kenang Izzul. “Waktu barang-barang itu mulai dibakar satu per satu, suasananya langsung berubah. Hening, tapi berat.”
Seorang sesepuh membacakan doa dengan suara pelan. Beberapa keluarga menahan tangis ketika barang peninggalan almarhum dilemparkan ke bara. Izzul mengingat seorang perempuan paruh baya yang memeluk sehelai baju cukup lama sebelum menyerahkannya ke dalam api.
“Saya tidak tahu itu siapa, mungkin istri atau anaknya. Tapi waktu dia peluk baju itu sebelum dibakar, saya ikut merasa sesak. Seperti ada bagian dari diri almarhum yang benar-benar pergi malam itu,” ujarnya.
Bagi Izzul, Kalang Obong bukan sekadar ritual bakar barang. Ia melihat ada proses pelepasan yang terjadi di depan matanya.
“Saya jadi sadar, tradisi ini bukan cuma soal membakar benda, ini soal belajar ikhlas. Keluarga seolah diajarkan untuk melepas, tidak lagi menahan arwah dengan kesedihan yang berlebihan,” katanya.
Ketegangan perlahan mereda setelah api padam. Keluarga mulai berbincang, lalu menyantap hidangan bersama sebagai bentuk syukur dan silaturahmi.
“Sebelumnya tegang, sedih. Tapi setelah api padam, seperti ada beban yang ikut terbakar. Mereka kelihatan lebih tenang,” tutur Izzul.
Di tengah perubahan zaman, Kalang Obong mulai terasa asing bagi sebagian generasi muda. Banyak di antara mereka mengenal prosesi kematian hanya sampai tahap pemakaman, tanpa mengikuti rangkaian adat setelahnya.
“Tapi setelah saya lihat langsung tradisi ini, saya jadi paham kenapa orang tua kita dulu mempertahankannya. Ini bukan sekadar adat, tapi cara mereka menghormati dan mengingat orang yang sudah pergi,” ujarnya.
Anak muda yang merantau, jarang pulang, serta anggapan bahwa ritual adat sebagai sesuatu yang kuno menjadi tantangan bagi keberlanjutan Kalang Obong.
“Kalau ditanya teman, ‘Untuk apa sih masih percaya sama tradisi-tradisi kayak begitu?’, saya mungkin akan jawab: coba deh kamu lihat langsung, rasakan suasananya. Baru kamu akan mengerti bahwa ada makna besar dalam tradisi tersebut, yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan teori saja,” katanya.
Malam itu justru menyalakan sesuatu yang lebih terang di hati Izzul: pemahaman bahwa kehilangan tidak selalu harus dipeluk dalam kesedihan. Kadang, penghormatan paling tulus adalah berani melepas ikatan duniawi, lalu melanjutkan hidup sambil menjaga ingatan baik tentang mereka yang telah pergi.
Kalang Obong mengingatkan: ada saatnya kita harus berhenti, berdiri di sekitar api, dan belajar berkata, “Selamat jalan,” dengan penuh hormat.
