
BANYUMAS, SudutNalar β Deretan laptop yang menyala, tumpukan buku, dan kabel pengisi daya yang melintang di atas meja menjadi pemandangan yang semakin mudah ditemui di sejumlah kafe di Purwokerto. Kawasan seperti Jalan HR Bunyamin, Grendeng, hingga Karangwangkal yang berada di sekitar pusat aktivitas mahasiswa Unsoed turut diramaikan oleh kafe dan kedai kopi yang menawarkan ruang nyaman untuk bekerja maupun belajar.
Fenomena Work from Cafe (WFC) membuat sejumlah kafe tidak lagi sekadar menjadi tempat berkumpul dan bersantai. Bagi sebagian pengunjung, kafe kini berfungsi sebagai ruang kerja atau tempat mengerjakan tugas selama berjam-jam. Namun, ramainya meja yang terisi tidak selalu berbanding lurus dengan pendapatan yang diterima pengelola kafe.
Kondisi tersebut dirasakan oleh sejumlah pengelola kafe di kawasan kampus Purwokerto. Meski kursi dan meja kerap terisi dari siang hingga malam, nilai transaksi sebagian pengunjung relatif kecil. Tidak sedikit mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan membeli satu minuman.
βKalau orang lihat dari luar pasti dikira omzet kami melonjak karena parkiran motor penuh terus. Padahal, aslinya cukup berat,β kata Fajar, salah satu pengelola kafe di kawasan Karangwangkal.
Menurut Fajar, persoalan muncul ketika satu meja digunakan dalam waktu lama dengan transaksi yang minim.
βSering ada satu meja untuk empat orang cuma diisi satu orang selama lima sampai enam jam, tapi pesanannya cuma es kopi Rp15.000,00. Padahal, biaya operasional seperti AC, listrik, dan Wi-Fi tetap berjalan,β ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya tantangan bagi kafe yang menyediakan fasilitas penunjang seperti Wi-Fi, pendingin ruangan, dan akses listrik. Fasilitas yang semula menjadi daya tarik bagi konsumen juga menambah beban operasional ketika durasi penggunaan ruang tidak sebanding dengan nilai transaksi.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah pengelola kafe mulai melakukan penyesuaian untuk menjaga keberlangsungan usaha. Salah satunya dengan membatasi durasi penggunaan Wi-Fi melalui kode voucher yang diberikan berdasarkan nominal transaksi tertentu.
Pengelola lainnya menerapkan batas minimal pembelian bagi pengunjung yang ingin menggunakan meja berukuran besar atau area ber-AC, terutama pada jam-jam ramai. Sementara itu, kafe yang memiliki area cukup luas mulai mempertimbangkan pembagian ruang menjadi zona kerja dan zona santai.
Zona kerja dapat ditujukan bagi pengunjung yang memang membutuhkan fasilitas untuk bekerja atau belajar dalam waktu tertentu, sedangkan zona santai diperuntukkan bagi pelanggan yang datang untuk makan, minum, atau sekadar berbincang.
Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi pelaku usaha terhadap perubahan pola konsumsi pelanggan. Di satu sisi, mahasiswa tetap menjadi salah satu segmen pasar penting bagi kafe di sekitar kawasan kampus. Di sisi lain, pengelola perlu memastikan penggunaan fasilitas dan ruang tetap sejalan dengan kemampuan bisnis dalam menanggung biaya operasional.
Fenomena WFC dengan demikian memperlihatkan bahwa tingginya jumlah pengunjung tidak selalu mencerminkan tingginya pendapatan. Bagi kafe lokal di Purwokerto, tantangannya bukan sekadar mendatangkan pelanggan, tetapi menjaga agar setiap meja yang terisi tetap mampu menopang biaya operasional. Pada akhirnya, secangkir kopi yang menemani mahasiswa bekerja berjam-jam juga menjadi bagian dari perhitungan keberlangsungan bisnis kafe.
Penulis berita : Assifa Sahra Isna Niansyah
Editor berita : Aniqotul Lutfiyah
