Penulis: Amelia Ramandha

( pak Juned sedang mengharapkan penumpang di pasar Kadipaten)
Sumber foto : Amelia Ramandha
MAJALENGKA, SUDUTNALAR – Sinar matahari siang memancar terik menyengat kulit di area Pasar Kadipaten, Kabupaten Majalengka. Di sudut area pasar, seorang pria tua duduk beralaskan sendal yang pelapis kainnya mulai mengelupas. Jemarinya yang keriput dan legam memegang erat stang besi sebuah becak tua. Namanya Pak Juned. Di usianya yang telah menembus 73 tahun kelahiran 1953 lengannya masih kokoh mengayuh roda kehidupan yang kian hari kian terasa berat.
Pria asal Garut yang kini menetap di Desa Heuleut ini bukanlah sosok baru di area Pasar Kadipaten, jalur jalanan pasar telah menjadi bagian dari hidupnya sejak tahun 1980. Lebih dari 40 Tahun ia menyusuri sudut-sudut jalanan yang sama, menyaksikan zaman berganti dan kota bertambah gemerlap.
“Dulu saya kerja di pabrik gula, Karena gaji tidak cukup saya sambil narik becak sekarang sudah fokus ngebecak saja”. tutur Pak Juned dengan suara yang agak serak namun tetap hangat.
Setiap hari, Pak Juned berangkat dari rumahnya sekitar pukul 09.30 WIB pagi dan pulang mengayuh becakny saat matahari tenggelam di ufuk barat sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, kesetiaannya pada jalanan kini kerap dibalas dengan kesunyian. Dulu, sepuluh penumpang dalam sehari adalah hal biasa. Namun kini, menggenggam hasil dari satu penumpang saja membutuhkan kesabaran ekstra.
“Kalau sekarang dari jam sepuluh baru dapat satu penumpang,” ujarnya.
Perkembangan teknologi dan hadirnya transportasi modern seperti ojek online hingga gempuran kendaraan lain mengubah nasib para pengayuh becak konvensional secara drastis. Persaingan ketat di jalanan tak jarang membuat pendapatan Pak Juned merosot tajam.
“Jauh bedanya dibanding dulu sebelum ada ojek online. Kalau zaman sekarang saya ngeri, ngeri pendapatannya turun terus”. kata Pak Juned, menggambarkan himpitan ekonomi yang kian nyata.
Namun, keputusasaan bukan pilihan bagi pria tua ini. Ketika jalanan sepi dan becaknya tak tersentuh penumpang, Pak Juned tidak membiarkan tangannya memangku dagu. Ia memilih memungut barang sisa demi menyambung hidup.
“Kalau lagi sepi tidak dapat penumpang, terus terang saya memulung sampah, ada yang jadi uang Jangan sampai mencuri lah” tegasnya dengan prinsip hidup yang membatu.
Tak peduli ketika terik matahari menyengat kepala atau saat hujan deras mengguyur hingga badannya kedinginan, Pak Juned tetap bertahan. Selagi ada penumpang yang membutuhkan jasanya di tengah guyuran hujan, dinginnya angin menguap dikalahkan oleh dorongan memenuhi kebutuhan dapur di rumah.
Di balik peluh yang menetes, kebahagiaan Pak Juned terasa sangat bersahaja. Pengalaman paling berkesan baginya bukanlah soal nominal uang besar, melainkan kehangatan dari para penumpang yang menyapa dan memperlakukannya dengan manusiawi. Rasa syukur itu juga ia bawa pulang ke rumah untuk keluarganya. Saat ditanya mengenai menu makanannya sehari-hari bersama anak dan istri, ia tersenyum tipis.
“Cukup tidak cukup, dicukup-cukupin. Kalau sekarang makan apa adanya, sama garam dan cengek (cabai rawit) saja,” ungkapnya sederhana.
Dalam kesederhanaan yang serba terbatas itu, impian Pak Juned tidaklah muluk-muluk. Ia tidak meminta kemewahan, hanya mendambakan keadilan rezeki di jalanan serta kesehatan di usianya yang tak lagi muda.
“Kalau saya nomor satu ingin sehat, jagjag (bugar), kuat. Sudah tua begini pengin membahagiakan anak istri” tutupnya penuh harap.
Roda becak Pak Juned mungkin terus dimakan zaman, terkikis persaingan teknologi yang tak kenal ampun. Namun, di atas derit besi tua dan kayuhan kakinya yang makin rentan, tersimpan martabat seorang ayah dan suami yang tak pernah menyerah memberi penghidupan halal bagi keluarganya.
