
(Dok: Salsabilla Dewi Aulia)
CILACAP, SUDUTNALAR – Ibu Rumiyati pernah bermimpi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus SMA, tetapi kondisi ekonomi membuat langkahnya berubah. Beliau kemudian memilih meneruskan usaha warung makan milik ibunya yang saat itu masih kecil dan sepi. Kini, “Warung Makan Mbak Rum” yang dirawatnya selama bertahun-tahun telah berkembang dan dikenal oleh berbagai pelanggan hingga luar daerah.
Warung makan tersebut telah berdiri sejak 1978, ketika Ibu Rum masih berusia lima tahun. Saat itu, warung yang dikelola ibunya masih kecil dan sederhana. Sejak masih bersekolah, Ibu Rum sudah terbiasa membantu kegiatan di warung, mulai dari berbelanja kebutuhan hingga memasak. Setelah lulus SMA pada 1992, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan harus terhenti karena ayahnya memasuki masa pensiun sehingga kondisi keuangan keluarga menjadi kendala.
Ibu Rum mulai mengelola warung makan tersebut pada tahun 2000-an atas dorongan orang tuanya. “Daripada tidak menjadi pegawai, mending mengurus warung makan saja,” menjadi pesan yang mendorong Ibu Rum meneruskan usaha tersebut.
Awal mula dikelola oleh Ibu Rum, warung makan tersebut masih tergolong sepi dan jarang didatangi pembeli. Kondisi itu membuatnya memikirkan berbagai cara agar usaha keluarganya tetap bertahan. Ibu Rum kemudian mulai melakukan perubahan. Beliau memperlebar warung, mengubah sistem penyajian dari porsi menjadi prasmanan, serta menambahkan menu-menu buatannya sendiri. Perubahan tersebut dilakukan secara bertahap sambil terus mempertahankan cita rasa makanan tradisional Jawa. Menurut beliau, makanan tradisional Jawa memiliki cita rasa yang dapat diterima berbagai kalangan.
Warung makan yang dahulu hanya didatangi pengemudi truk dan sepeda motor, kini mulai dikenal oleh banyak orang. Pengunjung pun datang dari berbagai daerah. Bahkan, ada pelanggan dari Yogyakarta yang kemudian mengenalkan warung tersebut kepada kerabatnya.
Perkembangan itu menjadi salah satu bagian yang paling berkesan bagi Ibu Rum. Beliau menyaksikan sendiri perubahan warung yang dahulu kecil dan sepi hingga berkembang dan semakin dikenal banyak orang.
“Dari seorang anak yang pengin kuliah tapi terhalang biaya, sedangkan kakak saya pegawai semua. Alhamdulillah sekarang warung makan bisa berkembang,” ungkapnya.
Di sela kesibukan mengelola warung makan, Ibu Rum juga mengelola kebun durian dan memelihara bebek. Telur yang dihasilkan dari ternak tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warung.
Dalam menjalani kehidupan dan usahanya, Ibu Rum berpegang pada prinsip, “Bismillah, lillahi ta’ala, percaya kepada Allah dan tidak usah takut,” ujarnya. Pesan lain dari orang tuanya yang masih beliau pegang hingga kini adalah agar warung tetap dibuka dalam keadaan apa pun.
Bagi Ibu Rum, kesuksesan tidak hanya dilihat dari perkembangan usaha. Keluarga yang tenteram, anak-anak yang menurut, serta kemampuan membangun usaha dari kecil hingga berkembang merupakan bentuk kesuksesan yang disyukuri. Beliau juga senang dapat berbagi kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar dari hasil menyisihkan keuntungan yang didapatkan.
“Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, Allah yang menentukan. Semua perjalanan kalau kita pengen sukses memang ada susahnya dulu. Perjuangan yang dijalani pasti nanti akan ada hasilnya,” tutur Ibu Rum.
Perjalanan Ibu Rum menjadi bukti bahwa jalan hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan memang tidak tercapai, tetapi beliau menemukan jalan lain melalui usaha yang diwariskan keluarganya. Dari sebuah warung kecil, beliau belajar bertahan, berusaha, dan perlahan membangun usaha hingga dikenal banyak orang.
Penulis: Salsabilla Dewi Aulia
Editor: Valen Rostantina (J1D025134)
