sudutnalar.com, 08 Oktober 2026
Oleh : Zahra Fatin Nafilah

KEBUMEN,SUDUTNALAR– Ketika Matahari pagi belum menampakkan cahayanya seorang nenek berusia 63 tahun mulai menata dagangannya untuk dibawa ke pasar. Ditengah ramainya pasar mergosono dan aktivitas warga yang mulai menjalankan kesibukannya masing-masing, ia berusaha menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah. Usianya yang sudah tidak muda lagi dan langkahnya tak secepat dulu. Namun kebutuhan untuk hidup dan bertahan membuat nenek rambat terpaksa menjalankan aktivitas berdagang setiap harinya.
Nenek rambat sehari-harinya berjualan tempe untuk mendapatkan penghasilan. Mungkin bagi sebagian orang berjualan tempe merupakan pekerjaan yang mudah dan sederhana, tetapi baginya berjualan tempe menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhannya meskipun tubuhnya sudah tidak lagi sekuat waktu ia masih muda.
Perjuangan tersebut bahkan pernah membawanya hingga terjatuh dari sepeda pada bulan Agustus ketika ia hendak berjualan dan mengalami patah tulang hingga mengharuskan untuk mendapatkan perawatan yang cukup dan menjalani proses operasi. Kondisi tersebut mengharuskan nenek rambat untuk beristirahat dan mengurangi aktivitas berat untuk sementara waktu hingga masa pemulihan selesai. Rasa sakit dan keterbatasan fisik tentu menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan lanjut usia seperti nenek rambat yang harus memikirkan kebutuhan hidup.
βSaya harus beristirahat dulu karena kaki saya patah β ungkap nenek rambat.
Setelah mengalami musibah tersebut semuanya menjadi terasa lebih berat , tubuhnya yang masih membutuhkan pemulihan membuat aktivitas berjualan menjadi lebih terbatas. Berjalan saja ia membutuhkan tenaga ekstra dan kehati-hatian yang tinggi. Namun kondisi tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk tetap mencari nafkah.
βBagi nenek berjualan bukan sekadar mendapatkan uang tetapi sudah menjadi mata pencahariannya dari masa Soeharto menjabat sebagai presiden hingga saat inβ ungkap nenek rambat.
Semangat tersebut terlihat dari cara ia kembali bangkit untuk tetap berjualan setelah kondisi kakinya membaik. Meski ia mengalami patah tulang nenek tersebut tidak menjadikan kejadian itu sebagai alasan untuk berhenti berjualan. Ia tetap menjalankan aktivitasnya sebagai penjual tempe dengan dibantu oleh suaminya yang berjualan ke pasar.
Keberadaan suaminya menjadi salah satu dukungan dalam menghadapi kondisi tersebut. Ketika nenek rambat belum mampu untuk melakukan aktivitas berjualan tempe sendiri untuk sementara waktu digantikan oleh suaminya yang berjualan. Dengan begitu, mata pencahariannya sebagai penjual tempe selama bertahun-tahun tetap bertahan sampai saat ini.
Usaha yang ia jalani untuk berjualan tempe selama puluhan tahun dari masa Presiden Soeharto menjabat hingga saat ini, menunjukkan perjuangannya bahwa berjualan tempe bukan pekerjaan yang dijalani untuk sementara. Bahkan ada waktu, tenaga, dan ketekunan yang diberikan untuk mempertahankan usaha tersebut. Bahkan ketika tubuhnya mengalami patah tulang dan menjalani operasi ia tetap semangat untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan berjualan tempe.
Kini dengan bantuan suaminya Nenek Rambat tetap berusaha mempertahankan mata pencahariannya. Langkahnya mungkin tidak lagi sama seperti sebelum mengalami musibah. Kakinya membutuhkan perhatian setelah operasi, tetapi semangat untuk terus memenuhi kebutuhan sehari-hari tetap ada.
Bagi Nenek Rambat, berjualan tempe adalah pekerjaan berjualan tempe sudah menemani perjalanan hidupnya selama puluhan tahun. Jatuh dan patah tulang mungkin sempat membuat langkahnya terhenti, tetapi tidak membuatnya menyerah. Di tengah keterbatasan usia dan kondisi tubuh, ia tetap menunjukkan bahwa keinginan untuk bertahan hidup dapat menjadi alasan kuat untuk terus melangkah.
