Sudutnalar.com, 12 September 2026

(Pengunjung menikmati momen kebersamaan di Alun-Alun Purwokerto)
PURWOKERTO, Sudut Nalar — Purwokerto dikenal dengan julukan kota Satria. Julukan tersebut berasal dari kata SATRIA yang merupakan akronim dari Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Julukan ini juga berkaitan dengan sejarah Banyumas yang melahirkan tokoh pejuang nasional, salah satunya adalah Jenderal Soedirman.
Alun-alun Purwokerto menjadi tempat yang ramai dikunjungi masyarakat karena menjadi salah satu ruang publik yang berada di pusat Purwokerto. Tempat ini tidak hanya digunakan untuk bersantai dan berkumpul bersama teman ataupun keluarga, tetapi juga bagi para pedagang UMKM yang menjalankan usahanya. Pengunjung juga tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk menikmati kawasan alun-alun ini.
Keramaian tersebut dirasakan oleh salah satu pengunjung, Aminah. Ia mengaku sering datang ke alun-alun baik sendiri maupun bersama keluarganya saat akhir pekan, untuk sekadar berjalan-jalan atau mencari makanan.
Aminah mengungkapkan banyak hal yang ia sukai di Alun-Alun Purwokerto, yaitu banyaknya pilihan jajanan dari asin hingga manis, area lapangan, dan bagian air mancur sambil menikmati makanan dan melihat anak-anak bermain air mancur. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa di alun-alun terkadang ada berbagai kegiatan yang dapat dinikmati pengunjung, seperti photobooth, lapak baca buku, dan paduan suara.
“Tempatnya ramai dan enak buat santai-santai. Terus juga ada beberapa event yang bikin makin ramai alun-alun, biasanya ada photobooth, lapak baca buku gratis pas akhir pekan, dan kadang ada paduan suara dari mahasiswa Unsoed.” (12/09/2026)
Meski ramai dan memiliki berbagai aktivitas, Aminah menilai masih terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Ia mengeluhkan keberadaan pengemis, sampah di area lapangan, serta kurangnya penerangan pada malam hari.
“Yang paling aku tidak suka di sini itu banyak pengemis Kak, kalau jam malam juga gelap di bagian samping lapangan. Terus, banyak sampah pengunjung di area lapangan,” tambahnya.
Ia berharap penerangan di kawasan alun-alun dapat ditambah, lapak pedagang ditata lebih rapi, dan pengemis ditertibkan lagi agar pengunjung merasa lebih nyaman.
Selain menjadi tempat rekreasi, Alun-Alun Purwokerto juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk menjalankan usaha. Salah satunya adalah Sudrajan, pedagang yang telah berjualan di kawasan tersebut sejak 2007 bersama kakaknya. Ia menjual batagor, jagung bakar, dan jasuke.
Sudrajan memilih berjualan di kawasan Alun-Alun Purwokerto karena banyaknya pengunjung yang datang. Menurutnya, kondisi tersebut membuat peluang mendapatkan pembeli menjadi lebih besar.
“Karena banyak pengunjung, jadi banyak peminatnya juga,” ujarnya.
Namun, berjualan di kawasan terbuka juga memiliki kendala. Sudrajan mengatakan bahwa hujan menjadi salah satu hambatan dalam menjalankan usahanya karena tempat berjualan belum memiliki perlindungan yang memadai.
“Ya kadang kalau hujan itu jadi kendala bagi saya dan penjual lainnya karena alun-alun jadi sepi pengunjungnya, apalagi saya belum punya pelindung yang kokoh, cuma mengandalkan terpal saja, Mbak.”
Ramainya pengunjung dan aktivitas pedagang menunjukkan bahwa Alun-Alun Purwokerto memiliki peran sebagai ruang rekreasi sekaligus ruang ekonomi bagi masyarakat. Dengan adanya perhatian terhadap penerangan, kebersihan, dan penataan pedagang, kenyamanan Alun-Alun Purwokerto sebagai jantung kota Satria diharapkan dapat terus terjaga. Bagi masyarakat yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga atau sekadar menikmati suasana kota, Alun-Alun Purwokerto dapat menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Penulis : Salwa Ghaisani
Penyunting : Taheera Putri
