Penulis: Nisa Nurul Aida | Editor: Anisa Rahmawati
Rabu, 7 Oktober 2026

Pak Karlim menyelesaikan jahitan pelanggan di lapak sederhananya di Purwokerto, Rabu (7/10/2026). (Foto: Nisa Nurul Aida)
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Hiruk-pikuk kendaraan di Jalan DR. Soeparno, Purwokerto, menyisakan sudut kecil yang sibuk di kawasan Grendeng. Tepat di depan Queen Campus, terselip sebuah lapak sederhana berukuran sempit di antara deretan ruko. Di sana, duduk seorang pria paruh baya yang jemarinya tekun menuntun lembaran kain melewati dentang jarum mesin jahit. Pria itu adalah Karlim, seorang penjahit permak berusia 54 tahun yang menggantungkan hidupnya pada helai-helai benang demi menopang keluarganya.
Di tengah hembusan angin sore dan padatnya lalu lintas kawasan kampus, Karlim menceritakan perjalanan panjang kehidupannya. Berasal dari Sumbang, Banyumas, pria lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini telah menggeluti dunia jahit-menjahit sejak masa mudanya. Keterampilan tersebut diwarisinya dari sang ayah. Sebelum membuka lapaknya pada tahun 2007, ia pernah mengadu nasib di Jakarta hingga bekerja di industri konveksi lokal.
“Saya buka di sini sejak tahun 2007. Dulu waktu muda sempat merantau ke Jakarta, lalu bekerja di konveksi. Sampai akhirnya coba buka lapak sendiri di sini,” tutur Karlim saat ditemui pada Rabu sore (7/10), sembari merapikan benang yang baru saja ia potong.
Lapak sederhana berukuran sempit itu menjadi saksi bisu perjuangan Karlim dalam menafkahi istri dan ketiga buah hatinya. Anak pertamanya kini tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, anak kedua baru menginjak jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), sedangkan si bungsu masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD).

Senyum optimis Pak Karlim (54) di balik mesin jahit yang menopang keluarganya, Purwokerto, Rabu (7/10/2026). (Foto: Nisa Nurul Aida)
Bagi Karlim, mengais rezeki di lapak kecilnya bukanlah hal yang selalu mulus. Hasil usahanya yang tidak menentu sangat bergantung pada cuaca dan musim. Kala musim hujan datang, jumlah pelanggan turun drastis hingga ia kerap tak membawa pulang uang sama sekali. Namun, saat penerimaan siswa baru atau hari kerja biasa, ia bisa menyelesaikan belasan hingga puluhan pakaian sehari.
Tak hanya itu, ujian sosial pun kerap ia hadapi. Karlim mengungkapkan bahwa ia beberapa kali dimanfaatkan oleh orang yang enggan membayar jasa permaknya setelah pakaian diambil. Pengalaman pahit tersebut membentuknya menjadi sosok yang lebih tegas, walau keramahan dan jaminan mutu pekerjaannya tetap menjadi pegangan utama. Karlim bahkan selalu memberikan jaminan garansi perbaikan gratis jika hasil permakannya kurang pas di tubuh pelanggan.
Guna menutupi kebutuhan harian dan biaya pendidikan anak-anaknya, Karlim biasa memanfaatkan waktu pagi untuk membantu mengolah sawah orang tuany. Siklus harian yang melelahkan ini ia jalani tanpa mengeluh demi menjaga masa depan anak-anaknya.
“Harapan saya cuma satu, bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan anak-anak bisa terus bersekolah,” ungkapnya lugas.
Ketika senja mulai membayang di langit Purwokerto, deru mesin jahit Karlim masih terus berdesing. Di antara lalu-lalang manusia yang berpacu dengan waktu, Karlim terus menjahit helai demi helai kain, bukan sekadar merapikan pakaian orang lain, melainkan juga merajut asa dan keberlangsungan hidup keluarganya.
