Sudutnalar.com, 27 September 2026

PURWOKERTO, SudutNalar – Kenaikan harga kebutuhan pokok belakangan ini mulai dirasakan oleh masyarakat, terutama para pedagang kecil yang mengandalkan penjualan kebutuhan sehari-hari. Harga sejumlah bahan pangan yang mengalami kenaikan membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual sekaligus menghadapi penurunan daya beli pelanggan.
Kondisi tersebut turut dirasakan Siti Rokhamah, pemilik warung kelontong di Kebasen, Banyumas. Ia mengatakan kenaikan harga bahan pokok kini semakin sering terjadi dan tidak hanya satu atau dua jenis barang. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan yaitu cabai, beras, minyak goreng, telur, hingga daging ayam.
“Sekarang yang harganya sedang naik itu cabai, beras, minyak goreng, telur, dan daging ayam,” ungkapnya.
Menurut Siti, perubahan harga bahan pokok membuat pedagang harus lebih berhati-hati dalam mengatur stok dan modal. Hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah pembeli di warung. Pelanggan yang biasanya membeli dalam jumlah tertentu kini cenderung mengurangi belanja dan memilih membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.
“Kalau bahan pokok lagi naik, jumlah pembeli jelas makin turun,” kata Siti.
Selain jumlah pembeli yang berkurang, Siti juga menghadapi persoalan lain, yakni semakin banyak pelanggan yang memilih berutang.
“Sekarang banyak pelanggan yang utang, jadi perputaran uang menjadi susah bahkan untuk balik modal sangat berat,” ungkapnya.
Menurut penuturannya, kondisi kenaikan harga tersebut semakin terasa sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali beroperasi di wilayahnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan pokok memiliki dampak berantai. Ketika harga barang naik, konsumen cenderung mengurangi belanja. Penurunan pembelian kemudian berpengaruh terhadap omzet pedagang, sementara modal yang terbatas membuat pedagang semakin sulit menambah stok dagangan.
Siti berharap harga kebutuan pokok dapat kembali stabil sehingga masyarakat tidak terlalu terbebani ketika berbelanja. Ia juga berharap kondisi tersebut tidak terus berlangsung karena pedagang kecil membutuhkan perputaran modal yang lancar agar usaha tetap dapat bertahan.
Jika harga kebutuhan pokok kembali stabil dan daya beli masyarakat membaik, pedagang berharap aktivitas jual beli dapat kembali ramai. Dengan begitu, warung kelontong tidak hanya menjadi tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang dapat menghidupi keluarga para pedagang.
Penulis: Puspita Dewi
Editor : Firliana Saraswati Prasetyoningrum
