Sudutnalar, 18 September 2026

(Ambu Ivon, pendiri sekaligus pengasuh Yayasan Griya Amanah Banjarnegara. Sumber: Rahmah Dya Hamidah)
BANJARNEGARA β Riuh suara musik malam dan gemerlap lampu warna-warni kini tinggal kenangan bagi Ambu Ivon. Mantan pengelola bisnis karaoke yang bertahun-tahun pernah menggeluti dunia malam itu memutuskan memutar haluan hidupnya secara drastis. Beliau memilih mengabdikan sisa usianya untuk mendirikan serta mengasuh anak-anak panti dan lansia. Keputusannya untuk menutup lembaran bisnis karaoke dan memutar haluan menjadi bukti nyata bahwa jalan hijrah dan kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka lebar.
Riana Fitria atau kerap di panggil Ambu Ivon, mantan pengelola usaha karaoke yang pernah mengantongi omzet hingga Rp10 juta per malam ini memutuskan untuk menutup total bisnisnya pada tahun 2015. Dalam menjalankan bisnis karaokenya itu, beliau pernah mengalami kebangkrutan. Kemudian dorongan kuat untuk bertobat muncul usai momen erupsi Gunung Kelud yang memicu rasa takutnya. Beliau merasa bahwa dunia akan berakhir, sehingga mengajak suaminya untuk segera menutup bisnis gelapnya itu.
Ambu Ivon memutuskan untuk belajar agama dengan berkelana mencari guru dan tokoh agama ke Wonosobo, Purwokerto, hingga Purbalingga. Beliau akhirnya memutuskan mewakafkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk berkhidmat di Yayasan Panti Asuhan di Banjarnegara selama 2 tahun. Setelah berkhidmat selama dua tahun, suami Ambu Ivon jatuh sakit sehingga beliau memutuskan untuk mengundurkan diri.
Setelah mengundurkan diri, Ambu Ivon bersama rekannya, Bunda Laeli, memutuskan untuk mengasuh anak-anak jalanan dan anak terlantar secara mandiri. Alasan yang menggugah Ambu Ivon untuk membuka panti adalah karena dulunya beliau memiliki banyak Pemandu Lagu (PL). Beliau merasa banyak sekali dosa yang beliau miliki karena telah mengenalkan dan mengajak orang-orang ke dalam dunia gelap karaoke. Kemudian Ambu berkeinginan akan meluruskan lagi orang-orang tersebut. Tetapi ternyata sulit untuk meluruskan teman-teman yang sudah terlanjur terjerumus ke dunia gelap itu.
Langkah ini melahirkan Rumah Singgah dan Panti Asuhan Griya Amanah di Banjarnegara, yang kini telah tepat berdiri selama delapan tahun. Yayasan ini didirikan untuk membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan dan ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik. Saat ini Griya Amanah telah mengasuh sekitar 133 orang binaan dari rentang usia balita hingga lansia. Sebanyak 105 orang di antaranya tinggal di asrama yang ditanggung penuh kebutuhannya oleh pihak yayasan. Meski tidak memiliki basis donatur tetap dan hanya mencakup sekitar 5% dari total pengeluaran, panti ini telah melahirkan 12 orang sarjana, pekerja, hingga asisten dosen.
Awal perjalanan hijrahnya tidaklah berjalan mudah. Ambu Ivon sempat menghadapi berbagai cibiran, stigma, hingga penolakan dari lingkungan sekitar, bahkan dari keluarganya.
βMenghidupi diri sendiri aja susah, ngapain repot-repot menghidupi orang lain,β begitu kata mereka.
Namun, dengan didampingi suami dan bimbingan dari para guru agama, beliau memantapkan niat untuk memperbaiki diri serta mendedikasikan hidupnya bagi masyarakat. Motivasi utamanya berakar dari keinginan mendalam untuk berbakti dan mendoakan almarhum orang tuanya, serta niat menebus masa lalunya dengan memfasilitasi orang-orang yang ingin bertobat. Bagi Ambu Ivon, kunci utama perubahan hidup adalah dengan memperbaiki ibadah serta ketaatan kepada Allah. Melalui Griya Amanah, beliau berharap dapat terus membukakan pintu dan memberikan kesempatan bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang masa lalu untuk bertobat dan kembali bersujud kepada Allah.

(Dibangunnya Masjid Rachmat Al-Aliim yang dulunya merupakan lokasi karaoke milik Ambu Ivon. Sumber: Rahmah Dya Hamidah)
Penulis: Rahmah Dya Hamidah
Editor: Niscita Nariswari Vedacetta
