Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Hawu di Sudut Dapur: Kehangatan yang Tak Tergantikan

Posted on Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Kamis, 08 Oktober 2026

Sumber: Dokumen Pribadi Amalinda

BREBES, SudutNalar – Di sebuah dapur sederhana berlantai tanah dan berdinding bilik bambu, asap putih mengepul pelan membawa aroma kayu bakar yang khas. Bukan dari kompor gas yang bersih dan praktis, melainkan dari hawu, tungku tradisional berbahan tanah liat yang menjadi saksi bisu kehangatan keluarga selama puluhan tahun. Bagi sebagian orang, asapnya mungkin mengganggu. Namun bagi Wiarja yang berusia 71 tahun, hawu lebih dari sekadar alat memasak, ia telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun.

“Dulu yang mengajari saya pertama kali menyalakan hawu yaitu orang tua,” jawabnya singkat ketika ditanya siapa yang mengajarinya cara menghidupkan tungku tersebut.

Dengan sebatang korek api dan beberapa potong tatal kering sebagai pemantik api, serta dahan kayu sisa kemarin. Ia belajar menyalakan hawu sejak muda. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia tetap bertahan menjaga hawu tetap menyala, meski para tetangganya telah beralih ke kompor gas dan magic com.

“Dikarenakan itu kehobian memakai hawu dari dulu,” ujarnya dengan logat khas. Hobi sejak zaman dulu itu bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari identitas. Kebiasaan menggunakan hawu sejak muda membuat Wiarja tidak kesulitan untuk menyalakannya. Bagi Wiarja, persoalan justru terletak pada kayu bakar yang semakin sulit ia cari. Usianya yang sudah tidak muda membuatnya kesulitan berjalan jauh ke hutan untuk mengambil kayu.. “Menyalakan hawu itu tidak sulit. Hanya untuk mengambil kayunya ke hutan yang sulit, karena sudah tua dan tidak kuat jalan jauh,” ujarnya.

Bagi Wiarja, hawu bukan hanya sebagai tempat untuk memasak. Melainkan tempat untuk berkumpul bersama keluarga. “Saya teringat zaman dulu, kalau udara dingin atau sedang hujan, kami berdempet-dempet berkumpul di dekat hawu,” kenangnya dengan ingatan yang menerawang ke masa lalu. Di depan hawu, anggota keluarga duduk berdekatan, berbagi cerita, dan merasakan kehangatan yang tak bisa digantikan oleh alat pemanas modern manapun. Asap kayu yang bagi sebagian orang terasa perih dan mengganggu, baginya justru memberikan kenyamanan dan kehangatan.

Namun, realitas zaman mulai menggerus tradisi. Kini, hawu sudah jarang digunakan oleh masyarakat. “Karena zaman sudah semakin berkembang, terkadang saya juga memakai kompor gas untuk memasak,”ujarnya. Perubahan ini juga mengubah suasana dapur. Dinding dapur yang dulu kerap menghitam oleh asap kini terlihat bersih. Dinding dapur yang dulu kerap menghitam oleh asap kini terlihat bersih, dan kehangatan berkumpul bersama keluarga di depan hawu pun perlahan mulai jarang terasa.

Sumber: Dokumen Pribadi Amalinda

Wiarja mengaku merasa bingung melihat orang-orang seusianya yang masih harus mencari kayu bakar ke hutan untuk menyalakan hawu. “Saya merasa bingung dan kasihan melihat orang tua seumuran saya yang masih semangat mencari kayu bakar ke hutan,” katanya. Meski demikian, ia memahami bahwa mencari kayu bakar sudah menjadi kebiasaan yang mereka lakukan sejak dulu.


Meski hawu kini hanya digunakan sesekali, ia tidak berencana untuk menghilangkan sepenuhnya. “Kalau untuk menghilangkan tentu tidak, tapi jika ada kayu bakar kami memakai hawu, jika tidak ada kayu bakar maka kami akan memakai kompor untuk memasak.” Hawu tetap ada, meski tak lagi menjadi pusat aktivitas dapur. Ia berharap hawu tidak punah termakan zaman dan masih terjaga hingga anak cucu nanti.

Seiring perubahan zaman, hawu di sudut dapur Wiarja memang tak lagi menjadi pilihan utama untuk memasak. Namun, keberadaannya tetap menjadi simbol kehangatan yang tak tergantikan. Bagi Wiarja, hawu adalah rumah. Selama hawu masih ada, kehangatan itu pun tak akan pernah benar-benar padam.

Penulis Berita             : Amalinda (J1D025008)

Editor Berita               : Assifa Sahra Isna Niansyah (J1D025024)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme