
Foto : Sahna Naely Yazida
BANYUMAS, SudutNalar—Harga minyak goreng kemasan botol di Pasar Jatisawit Bumiayu mengalami kenaikan cukup signifikan sejak Juli 2026. Untuk kemasan 800 mililiter, harga naik dari Rp16.000 menjadi Rp18.000 per botol, sedangkan kemasan satu liter naik dari Rp18.000 menjadi Rp20.000 per botol. Kenaikan ini terjadi merata pada hampir semua merek yang dijual, seperti Minyakita, Sabrina, Mahkota, dan Bimoli.
Masitoh, salah satu pedagang di Pasar Jatisawit Bumiayu saat ditemui di kiosnya, mengatakan kenaikan harga terjadi bertahap sejak Juli lalu, dipicu oleh naiknya bahan baku plastik kemasan dan harga kelapa sawit sebagai bahan baku minyak. Hampir seluruh merek minyak goreng botolan yang dijual di kiosnya ikut mengalami kenaikan harga tanpa terkecuali. Pasokan minyak goreng sendiri diperoleh dari pemasok di wilayah Tegal dan hingga kini stok masih tergolong lancar, meskipun sempat mengalami kelangkaan di pasaran pada Juli lalu.
Kenaikan harga ini turut mengubah pola belanja konsumen. Sebagian pembeli mengeluhkan kenaikan tersebut secara langsung kepada Masitoh, meski ia mengaku tidak dapat berbuat banyak karena harga sudah ditetapkan dari tingkat distributor.
“Konsumen ada yang protes langsung ke saya, tapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa karena dari distributornya sudah menetapkan harganya segitu,” Ujarnya.
Tidak sedikit pula konsumen yang beralih dari minyak goreng kemasan botol ke minyak curah karena harganya lebih murah dengan isi yang lebih banyak, yakni satu kilogram per kemasan. Perpindahan ini menjadi salah satu cara masyarakat menyiasati kenaikan harga tanpa harus mengurangi kebutuhan memasak sehari-hari.
Di sisi pedagang, kenaikan harga ini turut menurunkan keuntungan. Modal yang dikeluarkan semakin besar, sementara pendapatan atau laba yang diperoleh relatif tetap. Meski keuntungan menipis, Masitoh tetap menyediakan stok minyak goreng botolan secara normal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, yang menjadi segmen pembeli terbesar produk ini. Ia berharap harga ideal minyak goreng botolan berada di kisaran Rp17.000 per botol, serta berharap pemerintah dapat memberikan subsidi dan menjamin ketersediaan pasokan agar tetap terjangkau oleh masyarakat luas.
Sementara itu, Nurofik, membenarkan bahwa minyak goreng menjadi salah satu komoditas yang paling mencolok kenaikannya belakangan ini dibandingkan bahan pokok lain. Menurutnya, kenaikan harga bahan pokok secara umum dipicu oleh naiknya nilai tukar dolar yang berdampak pada biaya bahan baku impor, serta adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang turut mendorong peningkatan permintaan di pasar. Khusus untuk minyak goreng botolan, penyebab utamanya adalah lonjakan biaya produksi, terutama meroketnya harga bahan baku plastik untuk kemasan botol.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga minyak goreng di Pasar Jatisawit Bumiayu bukan kasus yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tren kenaikan yang terjadi di pasar lain akibat faktor musiman, jalur distribusi, dan biaya logistik yang meningkat bersamaan.
Menurut pengamatan Nurofik, sebagian besar konsumen kini beralih ke barang dengan harga lebih murah demi tetap memenuhi kebutuhan dasar, misalnya dengan memburu promo atau membeli kemasan berukuran lebih kecil. Sebagai langkah stabilisasi harga, pengelola pasar bersinergi dengan Dinas Perdagangan, Bulog, dan Tim Pengendali Inflasi Daerah melalui program Gerakan Pangan Murah dan Pasar Murah.
Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke kios pedagang agar dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Khusus untuk komoditas minyak goreng, pengelola pasar secara rutin berkoordinasi dengan Disperindag dan Satgas Pangan guna mengendalikan lonjakan harga di pasaran melalui pencatatan rutin harian yang terstruktur, bukan sekadar pantauan lapangan biasa.
OLEH-SAHNA NAELY YAZIDA
EDITOR-LINDA AGUSTRIANA
